Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

06 Maret 2015

Kisah Masa Kuliah: The Real Entrepreneur

The Young Entrepreneur atau dalam bahasa "Pengusaha Muda". Kenapa harus jadi pengusaha muda?

Ada seorang motivator bilang, "Jadilah engkau entrepreneur saat kamu masih sekolah! Sehingga kelak ketika kamu lulus, kamu sudah punya pondasi yang kuat untuk menjadi pengusaha yang sukses!"

Tapi, kebanyakan orang tua kita menginginkan anaknya memfokuskan ke pendidikan dulu, jangan mikirin lainnya. Cepat-cepat lulus dan sukses! Padahal dunia kampus itu bukan hanya mencari cumlaude. Ada banyak celah untuk mencari pengalaman hidup yang sesungguhnya!

Ini adalah cerita tentang teman saya, semasa kami masih kuliah di ITS. Saya disini sebagai orang ketiga, kadang pelaku kedua, tapi yang jelas bukan pelaku utama. Daripada panjang lebar langsung saja saya cerita.

Begini ceritanya.....

Teman saya ini anggap saja namanya "Mr.I" (dibaca Misteri). Dia beberapa angkatan di atas saya, namun beda jurusan dengan saya. Saya kenal dengannya karena kami pernah satu kosan. Secara kebiasaan, dia seperti stereotipe mahasiswa ITS kala itu. Kuliah, makan di warung, baca koran, main komputer, nongkrong di warung gresikan. Nggak ada yang terlalu menonjol, dia tidak aktif di kegiatan kemahasiswaan, semacam HIMA, BEM, JMMI, atau aktivitas luar kampus semacam HMI, KAMMI. Cuma dia memiliki aktivitas kumpul-kumpul dengan teman-teman yang seide, sangat aktif.

Dia bisa melihat dan menangkap peluang terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan kampus. Pertama, saya melihatnya memberikan jasa afdruk foto. Saya pertama kali masuk sebagai mahasiswa ITS, tahun 1997. Sepuluh tahun sebelum roll film tergerus teknologi digital, saat itu foto dengan roll film,masih jaya-jayanya. Dan dia bisa menangkap peluang dengan membuka jasa afdruk foto, dimana foto ini dibutuhkan MABA akan banyak hal, antara lain, pas foto untuk Bakti Kampus Institut, Bakti Kampus Jurusan, membuat KIPEM (kartu Penduduk Musiman), membuat Kartu Anggota Perpustakaan, dan lain-lain sebagainya. Dasar naluri usahanya bagus, walau tempat usahanya gabung dengan kosannya, namun laris juga walaupun hanya musiman.



Usaha keduanya yang saya ketahui, jujur ini negatif dan nyerempet bahaya! Tapi ini sangat membantu sekali bagi kantong cekak mahasiswa. Pada saat itu, hape adalah barang yang belum umum, langka, dan mahal. Saat itu, yang laris manis untuk telepon-telepon dan janjian malam minggu dengan pacar adalah telepon. Ya, telepon umum atau Warung Telepon (Wartel). Masih ingat dengan kedua benda tersebut? Kejelekannya, Wartel jika setiap malam minggu pasti selalu penuh! Telepon umum, kalau yang jenis telepon koin sering macet, nah kalau yang jenis telepon kartu, mahal di kantong mahasiswa. Tapi ditangan "Mr.I", semua mahasiswa bisa memanfaatkan kartu telepon yang super murah dibanding jumlah pulsa yang dimilikinya. Kok bisa? Apa "Mr.I" ini petugas Telkom atau punya orang dalam di Telkom? Hehehe si "Mr.I" ini adalah salah satu cracker telepon kartu di ITS, saat itu. Kalau mau lihat cara kerja pengisian pulsa kartu telepon versi jadul, silakan klik disini.



Ya... dia pernah cerita, dia pingin mendapatkan boks telepon kartu saat itu, demi mempelajari teknologinya. Dan akhirnya beberapa hari kemudian, muncul orang yang membawakan boks padanya. Tentu saja, oleh "Mr.I" dia diberikan harga yang setimpal. Ditangan "Mr.I" itulah, boks telepon umum diubahnya menjadi alat pengisi pulsa Kartu Telepon. Dan itulah, kenapa bisa beredar pulsa isi ulang versi murah dalam lingkungan kampus. Namun kebusukan, tercium juga oleh Polisi dan pihak Telkom, entah siapa yang bocorkan. "Mr.I" pun sempat ditangkap oleh Polisi dan dikorankan! Namun anehnya dia bisa terkekeh-kekeh saat baca beritanya ditangkap Polisi. Lha nggak aneh gimana, disitu ceritanya ditangkap dan dipenjara, padahal dia lagi makan mie rebus dan ngopi di warung gresikan, sambil baca koran lagi. Tapi... setiap kasus ada harganya, katanya dia harus ngeluarin 3 juta untuk keluar dari jerat hukum dan menandatangani berkas tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Tapi, bukan "Mr.I" kalau dia tidak bangkit dan mencari peluang baru. Ada suatu momen dimana "Mr.I" juga menjual hasil karyanya, Buku Soal-Soal Persiapan Ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), lengkap dengan pembahasan dari tahun ke tahun. Kadang kala dia juga hadir dengan menjual sesuai event ujian D3 ITS atau D3 Unair. Namun, coba pernahkah anda bertanya dalam hati darimana sang pembuat buku menjual buku yang berisi soal-soal tersebut beserta pembahasannya? Coba bayangkan?

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan usaha yang digeluti "Mr.I" yang lain. Dimana dia tidak hanya sekedar main usaha yang aman. Usahanya yang paling dramatis bin kreatif adalah sebagai EO. Ya... EO is Event Organizer, yaitu pengorganisasi suatu kegiatan atau event. EO apakah itu? EO Perjokian SPMB. Wow!!!



Untuk yang satu ini dia adalah Tokoh dibalik perjokian yang marak saat itu, sejak 1997. Namun dia memiliki target dan calon yang sangat bonafide dan menjanjikan. Saat itu, belum ada ekstensi, belum ada SPMB khusus, dan lain-lain. Tentu saja hal ini masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah kebanggaan! Semacam masuk ITS atau UNAIR. Dan satu-satunya jalan masuk PTN ini melalui SPMB atau PMDK, kecuali program D3. Dimana kekuatan otak menjadi andalan, bukan kekuatan uang! Tapi "Mr.I" ini menawarkan opsi lain, agar siapa yang mampu membayarnya, dia akan berikan tempat terbaik dengan meloloskan SPMB ke tempat yang dia inginkan. Sasarannya tentu anak-anak orang kaya yang 'kurang pintar' atau nggak pede bisa nembus SPMB. Tapi dia lebih berkonsentrasi pada mereka-mereka yang ingin masuk ke Kedokteran Umum (FKU) UNAIR. Tarif yang dipatok pun amat mahal untuk saat itu, 75 juta per orang. Tapi itu tidak seberapa karena masuk Kedokteran adalah kebanggan. Secara moral, temanku ini agak ngawur juga, masak ngisi calon dokter dengan orang-orang yang 'tidak kompeten'.

Tapi dia punya prinsip, "Saya cuma membantu, perkara nanti kalau mereka bisa jadi dokter atau tidak. Kalau mereka niat dan berusaha maka akan jadi Dokter-Dokter yang hebat kelak. Tapi kalau nggak ada kemauan, mereka akan hancur sendiri karena seleksi alam."

Sebagai EO, dia tentunya harus melengkapi timnya dengan Master, Pengalih Perhatian, Messenger, dan lain-lain. Dan setahu saya, tiap tahun berganti-ganti strategi dan alat yang dia terapkan. Terakhir, sebelum saya keluar dari kosan, sekitar tahun 2004, dia memakai banyak hape Siemens C45i untuk piranti melancarkan aksinya. Jangan tanya digunakan buat apa hape sebanyak itu. Tapi yang jelas setelah misi selesai, dia jual murah tuh hape, 30ribu dia lepas, untuk menghilangkan jejak. Dia tidak tamak, artinya mengambil 'pasien' (sebutan untuk calon MABA yang menggunakan jasa jokinya), sejumlah kemampuan timnya, paling banyak sekira 15 orang. Saat terakhir kali bertemu dia dalam menjalankan misinya, dia mendapat pasien 13 orang, Jurusan Kedokteran Umum-Unair, semuanya. Yang paling mengesankan adalah tingkat keberhasilannya. Dari 13 'pasien', dia mampu meluluskan 12 orang masuk ke jurusan yang dituju, berarti tingkat keberhasilannya lebih dari 90%.

Sistem perjokian yang dia tangani, pasien hanya membayar DP sejumlah tertentu. Ketika mereka berhasil lulus, baru membayar penuh. Sedangkan kalau 'pasien' gagal, tidak perlu membayar. Anda bisa menghitung pemasukannya setiap misi selesai. 12 orang x Rp 75 Juta = Rp 900 Juta. Dikurangi untuk menggaji para Master Joki, Messengers, dan biaya operasional lain-lain. Setidaknya ada 500 ~ 700 Jutaan ada ditangan. Jadi tak heran, kadang setelah misi selesai, dia beli motor baru, atau uangnya diputar lagi ke bisnis lainnya.

Tidak berhenti disitu, risky business lainnya adalah mengerjakan Tugas Akhir (TA) mahasiswa lainnya. Lengkap, dari software, hardware, hingga laporannya, beserta training cara mengoperasikan alat dan presentasi. nah, kalau ini sasaran dan pelanggannya kebanyakan adalah para mahasiswa teknik di PTS sekitar Surabaya. Bayarannya pun bervariasi sesuai dengan tingkat kesulitan dan lama pengerjaan. Itulah kenapa setelah beberapa tahun sejak kelulusannya, dia tetap bermukim di sekitar kampus. Karena dia tetap berkecimpung dalam 'dunia kampus'.

Moral dari kisah ini:
Ambil yang terbaik, jangan tiru keburukannya. Semoga semangat kewirausahaanya menginspirasi para mahasiswa. Tak ada salahnya kita mulai berwirausaha semenjak kuliah/sekolah, kalau ada kesempatan, kenapa nggak diambil. Syaratnya, kuliah juga harus kita selesaikan, itu salah satu komitmen kita pada diri kita dan orang tua. Banyak orang sukses karena hal ini mulai berwirausaha semenjak kuliah, contohnya: Mark Zuckerberg, Bill Gates, Lary Page dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar