Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

29 Maret 2011

Gara Gara "dikandani ora percoyo" Akhirnya Jadi Pingin Nulis

Gara-gara kata ini nih "dikandani ora percoyo", yang mana diucapkan para personel OVJ saat manggung di kota Malang, saya jadi tergelitik pingin nulis komentar sepatah dua patah kalimat.

Sebenarnya secara bahasa gak ada yang salah dengan kata-kata tersebut ataupun ojo nesu. Namun kata atau kalimat seperti itu lebih lumrah atau jamak kalau diucapkan di kota atau daerah yang berada di Jawa Kulonan (Jawa Tengah dan Mataraman). Sedangkan saya lihat saat itu, mereka (OVJ) sedang pentas di kota Malang. Dimana di Jawa Timur, khususnya wilayah arek (Surabaya, Gresik, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, sebagian Lamongan) lebih akrab dengan dialek ala Jawa Timuran yang sering nabrak pakem bahasa Jawa asli.

Jadi ketika dengar si Sule ngomong dengan bahasa seperti itu, lantas saya teringat gaya ngomong isteri saya yang notabene juga Sunda saat mencoba berbahasa Jawa kepada saya dengan dialek Jawa Kulonan. Ora memang berarti "tidak", tapi secara dialek orang di daerah arek lebih nyaman memakai kata gak, atau igak. Jadi harusnya ngomong seperti ini, "Dikandani gak percoyo" lebih mantap kalo ditambahi akhiran "rek" atau "ker" kalau berada di daerah Malang.

Kata ojo nesu (artinya: jangan sedih/dongkol), pun jarang terdengar di daerah ini, malah lebih akrab dengan kata ojo mangkel atau ojo gelo. Dan lebih akrab ditelinga dengan kata "kon" atau "awakmu" daripada kata "kowe" untuk menyebut arti: kamu. Tapi saya juga maklum, sama halnya kalau saya mencoba berbahasa Sunda dengan isteri saya tapi dengan logat Jawa, dan dialek Sunda Banten, mungkin akan keliatan kasar dan aneh.

Tapi sekali lagi itu cuma bahasa, dengan paham beberapa kata, tentu akan membuat audiance menjadi simpatik.

Sebenarnya pingin buat kamus bahasa jawa khusus dialek Lamongan. Karena walaupun dialek nyaris mirip dengan Suroboyoan namun ada kata-kata yang selalu janggal ditelinga orang Surabaya. Contohnya kata nyilih (artinya: pinjam), orang Lamongan selalu menggunakan kata nyelang, kalau diterjemahkan seolah memakai selang (pipa). Juga dengan kata kepriye, akrab dipakai di Jawa Tengah dan sekitarnya, yang artinya gimana/bagaimana. Orang Surabaya lebih akrab dengan kata kok opo atau yok opo, sedangkan orang Lamongan lebih terbiasa ngomong kok piye atau kokye. Sebenarnya kalau ada waktu luang, saya ingin menaruh pada kolom khusus untuk membahas secara gamblang logat, dan dialek khas Jawa Timuran, tapi sekali agi belum sempat, mungkin nanti.

Ngisor mejo ono ulane.....
Ojo gelo iku carane


maksud parikan atau pantun ini adalah:
Di bawah meja ada ularnya....
Jangan dongkol, kalau ini caranya

03 Maret 2011

Kesan Sebulan di Tempat Baru

Mungkin ada baiknya menuliskan kesan dan pengalaman baru disini, sebelum otakku meledak kebanyakan memori dan uneg-uneg, Hiperbola .

Sebenarnya tak ada bedanya, hampir sama seperti kerjaan di perusahaan manufaktur lainnya. Cuma job responsibility- ku sekarang adalah sebagai QA/QC, gak beda jauh sih dengan process. Tujuannya sama sih, mengontrol dan memastikan kualitas produk sesuai dengan requirement quality standard dari Customer. Kalau di perusaahaan lama urusannya hanya focus pada internal perusahaan dan biasanya ‘bentrok’ dengan productivity dari produksi, sekarang urusannya lebih melebar. Tak hanya scope internal saja yang diurusi melainkan mulai dari Supplier hingga Customer Issued. Tapi sekali lagi saya anggap masih mampu karena itu adalah hal yang biasa juga kukerjakan di tempat lama.

Masalah mulai timbul ketika harus bertanggungjawab pada review check BOM (Bill of Material) List, membuat issue perubahan Drawing (Manufacturing Spec), hingga ngurusi proses di produksi, dan parahnya training pun under QA, walah!!!

Hmm….ini dah nyalahi kodrat kayak gini, BOM List ’kan biasanya dikerjain material control atau PPIC dan Purchasing, sedangkan QA dan section lain hanya sekedar tahu dan implement. Parahnya BOM list disini beda kasus dengan tempat lama, gini-gini gue pernah berada di section PPIC. Kalau di tempat lama, dimana material level 1 hingga sub-sub level penyusun lainnya teratur, dan mudah untuk di breakdown, jelas. Tapi… disini lain, part level 1 yang harusnya total assembly itu ternyata juda ada part turunan semi assembly. Kalau sudah seperti ini, tentu buat pusing orang yang ngecek. Dimana banyak part yang dipakai common model, dimana modelnya ratusan dengan total semua part kira-kira 7000-an item. Kalau Cuma sekedar cek dari BOM list gak masalah, tapi ketika sudah buka drawing… hmm ngelu gak, mati mati kon!

Terus lucunya (ketawa dulu deh, ngetawain penderitaanku) ada perubahan part dan drawing, harusnya kayak gini ’kan dikerjain sama Doccon dan R&D Engineering yang lain sekedar review. Lalu yang lebih lucu lagi, ternyata nih produksi gak ada Proses yang independen, berdiri sendiri, punya kewenangan untik membuat sistem kerja, mapping rootcause problem, buat problem solving lalu action dan monitoring. Nyata-nyata sistem PDCA-nya gak jalan, hingga akhirnya tanggungjawab dilimpahkan ke QA lagi, bleeeh!!! Lalu ada lagi yang bikin aku terkesan disini, sebegitu hebatkah QA ini hingga sampai sampai harus mengkoordinir training operator atau staff yang baru join. Hmm... Super QA kalau aku boleh bilang. Masalahnya untuk kasus kasus yang nyalahin kodrat tadi dikarenakan section-nya gak ada. Material control gak ada, hingga dikeroyok bareng Purchaser, Warehouse, dan Planner. Doccon gak jelas scope responsibility-nya, campur kerjaan sebagai clerk, gak ada yang lead. Trainer juga gak ada, Process Engineer apalagi? Nonsense. Tapi untungnya (ternyata masih untung), aku tak menjalani kehidupan kayak gini sendirian, ada section head stamping dan molding yang harus rangkap jabatan sebagai maintenance tools atau mechanic-electric machine-nya masing-masing.

Kata orang, kerjaannya nyantai tapi itu gak sepenuhnya benar. Sebenarnya nyantai, karena pressure dari Boss kurang dan kurang concern ngerjain semuanya. Kalau dipikir-pikir, kalau semua kerjaan dikerjakan dengan benar bakal nggak kelar dan bejibun. Maka dari itu sistem quality internal gak jalan. IPR atau NCR gak pernah dikerjain produksi, sama mau ngerjain prosesnya gak ada yang ada QA. Masak gue ngasih kerjaan gue sendiri? Mampus lah!

Kalau dari paribosone wong jawa kuwi “ngisor meja ono ulane, ojo gelo iku carane.” Artinya nggak usah merasa aneh, nyinyir, karena tiap tempat pasti punya cara sendiri. Walaupun terkesan pelit untuk nambah orang. Jadinya ya... pakai skala prioritas, yang penting jalan kalau dirasa belum ya nanti, atau kalau jarang ya kapan-kapan, atau gak perlu ya tak usah dikerjakan. Ok kan?

Mengapa Harus Berdamai dengan Masa Lalu

”Inilah kenapa gue males sekali berurusan dengan masa lalu...........
Itu lho si A ngajak balik hubungan serius lagi,
Gila nggak tuh! Padahal ’kan sekarang gue dah punya C...”


Mungkin ini terkesan sentimentil ketika kita terkenang kembali dengan masa lalu. Apalagi yang berkaitan dengan cinta dan emosi... hmmmf!!! Pasti ada waktu dimana kita merasa tercabik-cabik hati, emosi dan ingin ’mengenyahkan’ mantan pasangan/ pacar kita dari hidup kita ketika timbul perselisihan diantara kita. Momen dimana sesuatu yang menyangkut dirinya seolah menjadi musuh utama dalam hidup ini dan jijik..

Namun ketika waktu berjalan dan hati kita mampu berdamai dengan emosi. Seirama dengan hal itu, hubungan kita dengan sang mantan bisa dibilang menjadi baik lagi dan ’mesra’. Tentu saja konotasi mesra disini harus diletakkan dalam proporsi yang sesuai dengan situasi dan kondisi kita saat ini. Yang menjadi persoalan adalah ketika pada kondisi sekarang kita telah memiliki pasangan lainnya.

Nah inilah yang menjadi persoalan jangan sampai mesra disalah gunakan melakukan tindakan yang bisa memicu atau menyakiti hati pasangan kita sekarang. Masih untung kalau kondisi kita sekarang masih sebatas pacaran dengan pasangan baru kita, parahnya kalau kondisi kita saat ini ternyata sudah berumahtangga, sudah memiliki suami atau istri, selain sang mantan kita.

Mari kita bahas satu persatu, kalau untuk kondisi masih available tentu bukan jadi kendala. Kemesraan yang terbangun lagi mungkin bisa saja sebatas sahabat atau bisa juga menjadi lebih jauh, tentu saja ini tergantung pada komitmen yang kita bangun saat berdamai dengan masa lalu. Hal ini bisa tercapai kalau tercapai rasa yang setara dan proporsinya sama, jangan timbul ge-er diantara salah satu pihak. Tapi terserah saja kalau lah kita ingin mengulang lagi hubungan masa lalu, tentu saja dengan pertimbangan yang masak dan komitmen yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Satu hal lagi, kita harus mengesampingkan gengsi untuk balik lagi, tentu saja ini dipengaruhi subyektifitas dan lingkungan pergaulan. Artinya bukan masalah besar, tergantung mau atau tidak kita menjalaninya lagi. Dimana intinya semuanya berpulang lagi pada sebesar mana cinta kita padanya.

Kasus kedua, ketika posisi kita sekarang sedang memiliki pacar, sedang bertunangan, atau malah sudah berumahtangga dengan pasangan baru kita. Sebenarnya bukan masalah jika kita berdamai dengan masa lalu namun yang diperlukan adalah trust, honesty, dan respect. Artinya kedekatan kita dengan masa lalu (sang mantan) jangan sampai menimbulkan reaksi fusi yang memicu terjadinya ledakan emosi hingga mengakibatkan perpecahan hubungan kita sekarang. Semuanya bersumber pada komunikasi yang tentu saja harus dilandasi sikap keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, dan saling menghargai diri kita, pasangan kita sekarang, ataupun dengan sang mantan. Akan lebih baik lagi jika mengenalkan jati diri sang mantan pada pasangan kita, tentu saja tak perlu mengekspos kemesraan yang pernah dijalani dulu. Hindari hal-hal yang membuat pasangan kita cemburu.

Intinya hubungan yang kita jalani haruslah berlandas pada sikap dan proporsi yang bisa kita berikan. Hindari sikap ge-er dan romantisme masa lalu, bersikaplah sewajarnya seperti teman atau sahabat. Jangan pernah terpancing untuk bermain api karena ada banyak pihak yang pasti disakiti. Satu hal lagi, setidaknya akan lebih baik lagi jika pasangan kita mengetahui hubungan (bisnis atau friendship) kita dengan sang mantan.

Bukankah lebih bijak menambah teman daripada musuh di kehidupan ini? Lupakan perihnya masa lalu dan berdamailah untuk kehidupanmu sekarang dan kelak.