Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label VIVAT ITS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIVAT ITS. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2018

My Untold Story : DO dari Calon Teroris


Saya agak bingung memilih kata kata yang tepat untuk postingan kali ini. Salah dikit, ntar dituduh dukung teroris dan kurang empati akan jatuhnya korban. Jadi mohon maaf sebelumnya jika ada kata yang kurang berkenan.

Innalillahi wa inna illaihi rooji'un.

Tragedi itu terjadi lagi. Negeri yang kocak ini digegerkan lagi dengan teror bom di Surabaya. Setelah sebelumnya terjadi ketegangan yang mengakibatkan korban jiwa di rutan di markas brimob kelapa dua, Depok, antara napi teroris vs anggota polisi.

Ketika teror terjadi di 'rumah' aparat penegak hukum saya anggap mereka mendapat lawan yang setara. Dia bawa senjata anda bawa senjata, ya silakan lah adu tembak, bom boman dll.

Tetapi yang saya sayangkan, kenapa harus di rumah ibadah, terlepas di Gereja atau lainnya. Namanya juga tindakan terorisme, mungkinn lain waktu bisa saja masjid, wihara, pura, candi hindu, atau borobudur bisa jadi targetnya.

Padahal ibadah itu perkara asasi antara manusia dengan dzat paling berkuasa, berkehendak dll yang disebut Tuhan, melalui metode dan cara yang dianutnya, mengikuti petunjuk manusia suci yang disebut sebagai Nabi.

Namun...rupanya mungkin tidak semua manusia sependapat dengan pendapat saya.

Saya paham dan tidak menutup mata bahwa kali ini pelakunya adalah beberapa keluarga muslim. Orang awam akan bertanya tanya, kok bisa ngebom sampai ngajak istri dan anak anaknya yang masih kecil. Kok tega?

Jawabannya adalah bisa. Kenapa? Saya coba akan bercerita pengalaman saya dulu sewaktu kuliah di ITS Surabaya, sekitar tahun 2002.

Seperti kebiasaan mahasiswa yang kuper, jika sudah malam saya sering menghabiskan waktu jalan jalan sendirian di Gramedia Kertajaya ketimbang jalan sama pacar. Lha wong ngomong sama cewek aja gemetaran, gimana mau pacaran.

Sebenarnya saya lebih menyukai buku buku komputer dan teknik, tapi tidak terpaku pada genre itu saja. Suatu hari ketika saya lagi tenggelam dalam rak buku buku Islam saya bertemu dengan seseorang yang berusia 35~40 tahunan, dan 'terlihat' lebih Islami dengan ciri berjenggot dan berdahi agak kehitaman. Lalu kamipun ngobrol basa basi perkenalan. Kemudian terlibat pembicaraan serius tentang Quran.

Saya orangnya 'open mind' walaupun saat itu cenderung berhaluan kiri, penganut Nietzsche dan Marxisme. Namun dari kecil saya mengenyam Madrasah dan dididik secara Islam yang taat. Walaupun sholat masih bolong bolong.

Karena ada perlu lain, akhirnya kami pisah dan bertukar kontak dan alamat. Ingat waktu itu belum ada Facebook, Whattapps, BBM dll. Yang ada telepon rumah dan hp tat tit tut (itupun jarang yg punya).

Singkat cerita, beberapa hari kemudian orang tersebut datang ke kosanku. Tentu saja saya welcome. Kemudian saya perkenalkan ke beberapa teman saya. Namun reaksi orang tsb menginginkan hanya saya saja untuk diskusi bedah Quran. Dan pada pertemuan berikutnya saya diajak ke masjid UPB di daerah Deles, tak jauh dari kosanku. Disitu saya bertemu dengan seorang lagi. Bayangan saya tuh.... saya diajak dengarin ceramah bareng bareng dengab jamaah lainnya. Tapi ternyata, di masjid tidak ada aktivitas selain sholat Maghrib, dan berdoa. Namun, di teras masjid saya dan 2 orang kenalan baru saya mengaji.

Mulanya tidak ada yang aneh... Tapi lantas orang tsb menukil nukil beberapa ayat dari surat, dan mencari arti pemahamannya. Tentu saja pemahaman menurut mereka. Hari pertama ngaji di luar kosan tidak terlalu aneh.

Kemudian beberapa hari kemudian saya ke masjid UPB sesuai janji ketemuan lagi. Sekali lagi seusai sholat kami tidak membaur dengan jamaah lainnya. Dan... mulai menggali dan menukil nukil surat tertentu. Saya agak mulai curiga kenapa yang dinukil adalah ayat ayat yang berkaitan dengan kenikmatan hidup di jalan Allah, jihad, dan penegakan amar ma'ruf nahi munkar. Penegakan ulil amri, dan menyerukan memerangi pemerintahan yang salah (Pemerintah yang Thoghut ).

Sebenarnya siapa yang tidak tergiur akan menjadi golongan yang langsung masuk ke Surga jika berjihad di jalan Allah. Betapa wangi surga tercium dan akan menjadi hamba yang mulia.

Suatu saat saya ada kerjaan (praktek demo), hingga nggak bisa ketemuan ngaji. Akhirnya ba'da Isya' salah satu dari mereka ke kosan saya. Ya... saya minta maaf namun janji untuk ketemuan kapan kapan lagi. Namun kenalanku tersebut sempat ketemu dengan teman kosanku yang seneng jahullah. Mereka tampak bertukar pikiran serius. Namun saya tidak terlalu perhatian, karena saya sibuk nyelesain demo PLC .

Kemudian setelah kenalanku pulang, temen kosku cerita kalau ternyata pemahaman dia beda dengan kenalanku. Bahkan dia menasehatiku, "ati ati lho Mat, kon ketemu nangdi ambek wong iku?"

"Lagi musim NII/DII, saya khawatirnya kenalanmu tersebut cenderung kesana atau golongan radikal lain", ujarnya.

Beberapa hari selepas dinasehati teman, saya masih ketemuan dengan mereka, bandel kan. Sebenarnya aneh ngaji kok dewean, saya sering nanya, katanya nanti diajak bareng bareng kalau sudah sama pemahamannya. Dan hari yang ditunggu tiba saya hendak diajak ngaji ke tempat lain. Apalagi nanti kalau ke lokasinya harus ditutup matanya. Disinilah saya berontak, mbatin "waduh mesti dibaiat aku."

Dari sini cerita saya 'ngaji' berhenti. Saya melarikan diri dengan alasan pacaran (kencan). Ya... kebetulan saat itu ada yang mau denganku, hehehe... Dan lama kelama kelamaan hilang kontak.

Btw, siapa yang tidak tergiur akan menjadi golongan yang langsung masuk ke Surga, jika berjihad di jalan Allah. Bahkan sebagai imam kenapa nggak mengajak keluarga sekalian untuk bersama sama di jalan yang 'mulia'. Menghancurkan kaum yang bertentangan (Thaghut). Walaupun harus berkorban nyawa, nyawa anak, nyawa isteri. Kalau untuk Allah kenapa nggak. Ismail kecil pun dengan senang hati untuk mengorbankan diri, jika ini adalah kehendak Allah.

Itulah jawaban kenapa mereka rela mengorbankan anak isteri.

Tapi... saya tidak sependapat kenapa harus melakukan teror di Indonesia. Kenapa memerangi sesama warga negara Indonesia, kita tidak sedang berperang. Kalaupun ingin menegakkan Islam di negara Indonesia bukan dengan cara ini.

Kita tidak bisa membersihkan sesuatu dengan air yang kotor.

06 Maret 2015

Kisah Masa Kuliah: The Real Entrepreneur

The Young Entrepreneur atau dalam bahasa "Pengusaha Muda". Kenapa harus jadi pengusaha muda?

Ada seorang motivator bilang, "Jadilah engkau entrepreneur saat kamu masih sekolah! Sehingga kelak ketika kamu lulus, kamu sudah punya pondasi yang kuat untuk menjadi pengusaha yang sukses!"

Tapi, kebanyakan orang tua kita menginginkan anaknya memfokuskan ke pendidikan dulu, jangan mikirin lainnya. Cepat-cepat lulus dan sukses! Padahal dunia kampus itu bukan hanya mencari cumlaude. Ada banyak celah untuk mencari pengalaman hidup yang sesungguhnya!

Ini adalah cerita tentang teman saya, semasa kami masih kuliah di ITS. Saya disini sebagai orang ketiga, kadang pelaku kedua, tapi yang jelas bukan pelaku utama. Daripada panjang lebar langsung saja saya cerita.

Begini ceritanya.....

Teman saya ini anggap saja namanya "Mr.I" (dibaca Misteri). Dia beberapa angkatan di atas saya, namun beda jurusan dengan saya. Saya kenal dengannya karena kami pernah satu kosan. Secara kebiasaan, dia seperti stereotipe mahasiswa ITS kala itu. Kuliah, makan di warung, baca koran, main komputer, nongkrong di warung gresikan. Nggak ada yang terlalu menonjol, dia tidak aktif di kegiatan kemahasiswaan, semacam HIMA, BEM, JMMI, atau aktivitas luar kampus semacam HMI, KAMMI. Cuma dia memiliki aktivitas kumpul-kumpul dengan teman-teman yang seide, sangat aktif.

Dia bisa melihat dan menangkap peluang terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan kampus. Pertama, saya melihatnya memberikan jasa afdruk foto. Saya pertama kali masuk sebagai mahasiswa ITS, tahun 1997. Sepuluh tahun sebelum roll film tergerus teknologi digital, saat itu foto dengan roll film,masih jaya-jayanya. Dan dia bisa menangkap peluang dengan membuka jasa afdruk foto, dimana foto ini dibutuhkan MABA akan banyak hal, antara lain, pas foto untuk Bakti Kampus Institut, Bakti Kampus Jurusan, membuat KIPEM (kartu Penduduk Musiman), membuat Kartu Anggota Perpustakaan, dan lain-lain sebagainya. Dasar naluri usahanya bagus, walau tempat usahanya gabung dengan kosannya, namun laris juga walaupun hanya musiman.



Usaha keduanya yang saya ketahui, jujur ini negatif dan nyerempet bahaya! Tapi ini sangat membantu sekali bagi kantong cekak mahasiswa. Pada saat itu, hape adalah barang yang belum umum, langka, dan mahal. Saat itu, yang laris manis untuk telepon-telepon dan janjian malam minggu dengan pacar adalah telepon. Ya, telepon umum atau Warung Telepon (Wartel). Masih ingat dengan kedua benda tersebut? Kejelekannya, Wartel jika setiap malam minggu pasti selalu penuh! Telepon umum, kalau yang jenis telepon koin sering macet, nah kalau yang jenis telepon kartu, mahal di kantong mahasiswa. Tapi ditangan "Mr.I", semua mahasiswa bisa memanfaatkan kartu telepon yang super murah dibanding jumlah pulsa yang dimilikinya. Kok bisa? Apa "Mr.I" ini petugas Telkom atau punya orang dalam di Telkom? Hehehe si "Mr.I" ini adalah salah satu cracker telepon kartu di ITS, saat itu. Kalau mau lihat cara kerja pengisian pulsa kartu telepon versi jadul, silakan klik disini.



Ya... dia pernah cerita, dia pingin mendapatkan boks telepon kartu saat itu, demi mempelajari teknologinya. Dan akhirnya beberapa hari kemudian, muncul orang yang membawakan boks padanya. Tentu saja, oleh "Mr.I" dia diberikan harga yang setimpal. Ditangan "Mr.I" itulah, boks telepon umum diubahnya menjadi alat pengisi pulsa Kartu Telepon. Dan itulah, kenapa bisa beredar pulsa isi ulang versi murah dalam lingkungan kampus. Namun kebusukan, tercium juga oleh Polisi dan pihak Telkom, entah siapa yang bocorkan. "Mr.I" pun sempat ditangkap oleh Polisi dan dikorankan! Namun anehnya dia bisa terkekeh-kekeh saat baca beritanya ditangkap Polisi. Lha nggak aneh gimana, disitu ceritanya ditangkap dan dipenjara, padahal dia lagi makan mie rebus dan ngopi di warung gresikan, sambil baca koran lagi. Tapi... setiap kasus ada harganya, katanya dia harus ngeluarin 3 juta untuk keluar dari jerat hukum dan menandatangani berkas tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Tapi, bukan "Mr.I" kalau dia tidak bangkit dan mencari peluang baru. Ada suatu momen dimana "Mr.I" juga menjual hasil karyanya, Buku Soal-Soal Persiapan Ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), lengkap dengan pembahasan dari tahun ke tahun. Kadang kala dia juga hadir dengan menjual sesuai event ujian D3 ITS atau D3 Unair. Namun, coba pernahkah anda bertanya dalam hati darimana sang pembuat buku menjual buku yang berisi soal-soal tersebut beserta pembahasannya? Coba bayangkan?

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan usaha yang digeluti "Mr.I" yang lain. Dimana dia tidak hanya sekedar main usaha yang aman. Usahanya yang paling dramatis bin kreatif adalah sebagai EO. Ya... EO is Event Organizer, yaitu pengorganisasi suatu kegiatan atau event. EO apakah itu? EO Perjokian SPMB. Wow!!!



Untuk yang satu ini dia adalah Tokoh dibalik perjokian yang marak saat itu, sejak 1997. Namun dia memiliki target dan calon yang sangat bonafide dan menjanjikan. Saat itu, belum ada ekstensi, belum ada SPMB khusus, dan lain-lain. Tentu saja hal ini masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah kebanggaan! Semacam masuk ITS atau UNAIR. Dan satu-satunya jalan masuk PTN ini melalui SPMB atau PMDK, kecuali program D3. Dimana kekuatan otak menjadi andalan, bukan kekuatan uang! Tapi "Mr.I" ini menawarkan opsi lain, agar siapa yang mampu membayarnya, dia akan berikan tempat terbaik dengan meloloskan SPMB ke tempat yang dia inginkan. Sasarannya tentu anak-anak orang kaya yang 'kurang pintar' atau nggak pede bisa nembus SPMB. Tapi dia lebih berkonsentrasi pada mereka-mereka yang ingin masuk ke Kedokteran Umum (FKU) UNAIR. Tarif yang dipatok pun amat mahal untuk saat itu, 75 juta per orang. Tapi itu tidak seberapa karena masuk Kedokteran adalah kebanggan. Secara moral, temanku ini agak ngawur juga, masak ngisi calon dokter dengan orang-orang yang 'tidak kompeten'.

Tapi dia punya prinsip, "Saya cuma membantu, perkara nanti kalau mereka bisa jadi dokter atau tidak. Kalau mereka niat dan berusaha maka akan jadi Dokter-Dokter yang hebat kelak. Tapi kalau nggak ada kemauan, mereka akan hancur sendiri karena seleksi alam."

Sebagai EO, dia tentunya harus melengkapi timnya dengan Master, Pengalih Perhatian, Messenger, dan lain-lain. Dan setahu saya, tiap tahun berganti-ganti strategi dan alat yang dia terapkan. Terakhir, sebelum saya keluar dari kosan, sekitar tahun 2004, dia memakai banyak hape Siemens C45i untuk piranti melancarkan aksinya. Jangan tanya digunakan buat apa hape sebanyak itu. Tapi yang jelas setelah misi selesai, dia jual murah tuh hape, 30ribu dia lepas, untuk menghilangkan jejak. Dia tidak tamak, artinya mengambil 'pasien' (sebutan untuk calon MABA yang menggunakan jasa jokinya), sejumlah kemampuan timnya, paling banyak sekira 15 orang. Saat terakhir kali bertemu dia dalam menjalankan misinya, dia mendapat pasien 13 orang, Jurusan Kedokteran Umum-Unair, semuanya. Yang paling mengesankan adalah tingkat keberhasilannya. Dari 13 'pasien', dia mampu meluluskan 12 orang masuk ke jurusan yang dituju, berarti tingkat keberhasilannya lebih dari 90%.

Sistem perjokian yang dia tangani, pasien hanya membayar DP sejumlah tertentu. Ketika mereka berhasil lulus, baru membayar penuh. Sedangkan kalau 'pasien' gagal, tidak perlu membayar. Anda bisa menghitung pemasukannya setiap misi selesai. 12 orang x Rp 75 Juta = Rp 900 Juta. Dikurangi untuk menggaji para Master Joki, Messengers, dan biaya operasional lain-lain. Setidaknya ada 500 ~ 700 Jutaan ada ditangan. Jadi tak heran, kadang setelah misi selesai, dia beli motor baru, atau uangnya diputar lagi ke bisnis lainnya.

Tidak berhenti disitu, risky business lainnya adalah mengerjakan Tugas Akhir (TA) mahasiswa lainnya. Lengkap, dari software, hardware, hingga laporannya, beserta training cara mengoperasikan alat dan presentasi. nah, kalau ini sasaran dan pelanggannya kebanyakan adalah para mahasiswa teknik di PTS sekitar Surabaya. Bayarannya pun bervariasi sesuai dengan tingkat kesulitan dan lama pengerjaan. Itulah kenapa setelah beberapa tahun sejak kelulusannya, dia tetap bermukim di sekitar kampus. Karena dia tetap berkecimpung dalam 'dunia kampus'.

Moral dari kisah ini:
Ambil yang terbaik, jangan tiru keburukannya. Semoga semangat kewirausahaanya menginspirasi para mahasiswa. Tak ada salahnya kita mulai berwirausaha semenjak kuliah/sekolah, kalau ada kesempatan, kenapa nggak diambil. Syaratnya, kuliah juga harus kita selesaikan, itu salah satu komitmen kita pada diri kita dan orang tua. Banyak orang sukses karena hal ini mulai berwirausaha semenjak kuliah, contohnya: Mark Zuckerberg, Bill Gates, Lary Page dll.

13 Maret 2012

Kisah Masa Kuliah: Pejantan Tangguh


Kalau bicara masa kuliah, ada saja cerita lucu. Dan kali ini sengaja baru terekspos kala ngangen-angen masa lalu itu, kok yo bisa nganeh-anehi. Kali ini kita membahas tentang para pejantan tangguh...(eh sorry maksudnya para Pejalan Tangguh), wah nggak sama dengan judulnya, iyalah namanya provokatif! Mau tahu ceritanya, memori nista ini seharusnya nggak boleh terungkap, hanya jadi rahasia para pelakunya saja, hehehe.

Catat: Pengalaman nista ini hanya dilakukan oleh orang-orang jomblo yang nggak punya pacar dan nggak punya kegiatan di malem Minggu. So, Don't try this at your campus!

Kalau nggak salah kejadiannya tahun 2002-an. Pelakunya tak lain adalah jomblowan-jomblowan dari GW5 crews. Kami memang satu kos-kosan, tinggal di Gebang Wetan No 5. Pada saat itu, kami sudah Senior dan dalam proses menjadi angkatan Jurassic. Tapi yang jadi masalah, banyak diantara kami (semua sih) masih nggak punya pacar. Jadi setiap malem minggu, kami habiskan dengan jalan-jalan dengan nggak karuan, jalan-jalan ke TP, ke Mall Galaxy, ataupun ngelakuin kegiatan yang nggak jelas. Mentok-mentoknya di kosan, lalu main truff, catetan kumulatif, yang kalah jongkok sampai pagi.

Tapi hari itu, kami ingin melakukan sesuatu yang lain, sesuatu yang fenomenal! Kebetulan hari itu, ada penampilan Titi DJ di Tunjungan Plaza (TP berapa ya.. 2 atau 3, lupa). Kalau nggak salah itu acara dari suatu produk telekomunikasi.

Jadilah... menjelang sore tiba (jam 5-an), kami: Saya, Arinda, Dadi, Gembul, Nanok, Juwik (kalau nggak salah) melakukan sesuatu yang akan merubah dunia dan mencatatakan namanya di Sejarah Gebang Wetan 5. Berangkat ke TP sepakat nggak naik motor, tapi naik kendaraan umum (lyn O lantas oper ke lyn E). Sampai sana, kami memang lihat acaranya, termasuk juga penampilan sang Diva.

Lepas acaranya usai, sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kami kemudian makan malam (bakso/nasi goreng) disekitar TP (tentu saja cari yang murah, lha wong tahu sendirilah, mahasiswa kere!). Setelah dirasa kenyang dan puas cuci mata di keramaian Surabaya. Akhirnya aksi itu dijalankan, dengan mengucap Bismillah dan bertekad bulat kami lalu beraksi.

Rute yang kami pilih saat itu adalah dari TP lalu nyeberang menuju Gedung Surabaya Post, Lantas ke Kayoon terus ke Karimun Jawa, lalu sampai Gubeng, lalu lurus saja menyusuri Kertajaya Raya hingga sampai Kertajaya Indah, notok pasti nyampai ITS. Kalau dilihat di Google map katanya jaraknya sekira 8.6 KM, dan sekira 16 menit


Tapi itu lak jare mbah Google, saat itu kan belum ada google map. Apalagi kenyataannya kayaknya hampir 10Km-an deh, ditambah kalau jalan dengan baju rapi itu sangat aneh. Bayangkan pakaian necis, jeans ketat dengan sandal kulit keren, hanya untuk jalan kaki doang. Hah!! Tahu nggak betapa tersiksanya, baik fisik maupun mental (harga gengsi). Padahal masih banyak lyn (angkot) yang berseliweran menuju ITS (Keputih atau Gebang), tapi tekad sudah mengeras dalam hati walau selemah apapun. Maju terus pantang Mundur! VIVAT ITS!!! Apalagi ini adalah ajang adu gengsi diantara kami, menyerah berarti siap menerima olok olok seumur hidup di kosan, KEJAM!

Kalau jalannya nyantai sih mending, tapi ini jalannya sudah kenceng, kayak orang kebelet saja. Yang jelas keringat bercucuran, akhirnya ya nyari jual air mineral botolan disepanjang jalan yang. Ya... sudah, sempat berhenti sebentar di sekitaran prapatan Unair (Dharmawangsa), tapi akhirnya tetap lanjut jalan kaki juga menuju Kertajaya Indah. Arinda, Robi tetap terdepan, diikuti Nanok dan aku, terus di baris terakhir ada Gembul dan Dadi. Kayaknya sih Gembul nggak siap diajak jalan beneran, kirain bercanda kali hehehe.

Akhirnya setelah setengah jam lewat, nyampai juga ke pintu gerbang Gebang Lor. Eh ini terhitung cepat lho, kalau nggak percaya coba pecahin rekor kami. Dan, kosan pun sampai. Setelah leyeh-leyeh, ngeringin keringat, lalu cuci muka, sholat Isya' eh langsung ngeloyor lagi ke Warsik (Warung Gresikan) pertigaan Gebang Lor. Hehehe penuh, akhirnya ke Warsik yang dekat Warkit. Langsung pesan semangkuk I*d*mie kuah plus Es susu soda. Segeerrr banget, hehe kami ketawa ketiwi disana, nggak habis pikir malem-malem jalan kaki dari TP ke Gebang. Kok bisa ya melakoni cara kayak gini, hehehe...
"Ok... kapan kapan kita ulangi lagi!!" ajak Arinda, cah Solo yang nyasar di SisKal-ITS.

Aku, Dadi, dan Nanok berpandangan tak mengiyakan ataupun menolaknya.

Tapi malam ini, bukan malam pertama dan terakhir bagi pejalan pejalan tangguh macam kita. Karena rupanya si Arinda dan Nanok juga melakukannya lagi dari TP sampai Gebang, bahkan sampai dua kali lagi, tentunya dengan menularkannya pada para penghuni GW5 yang lain. Yang pingin merasakan sensasi jalan-jalan di tengah malam. Pertama dari Viaduk Gubeng lalu melalui Unair Kampus A, terus lurus ke Dharmahusada, sampai Galaxy Mall, terus ke ITS.

Rute 2


Terus yang kedua, melewati viaduk Gubeng lalu belok kanan terus melewati Unair Kampus B dan akhirnya nembus depannya Gramedia Kertajaya, hehehe. Yang aneh aneh ini, sayang aku melewatkannya (kayaknya karena aku sudah dapat pacar, hehehe).

Tapi sesungguhnya kami punya rencana yang besar yaitu melakukan jalan-jalan malam dengan melalui rute dari Perak menuju ITS dengan melewati Kenjeran. Sayangnya, ide gila itu sampai lulus belum pernah terwujud oleh wong wong edan GW5 Crews

Rute 3: PERAK-ITS


Moral dari kisah ini:
Sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin bisa dilakukan, apalagi oleh arek-arek ITS. Yang berbau IPTEK saja bisa, apalagi yang berbau ngawur! Jarak itu hanyalah vektor, selama masih jelas koordinatnya, pasti bisa tercapai.

20 Februari 2012

Kisah Masa Kuliah : Salah Jurusan

Sebenarnya males ngungkit-ngungkit cerita masa lalu, tapi ya sudahlah.... sudah lebih sepuluh tahun berselang mungkin cerita lama ini layak kutulis. Cerita cerita ini kutulis dalam beberapa pengalaman, sengaja tidak kuberi urutan karena berupa loncatan-loncatan ingatan saja. Jadi ya... mohon maaf sekenanya.

Selepas aku divonis gagal untuk masuk SPMB (apa UMPTN ya namanya waktu itu) di tahun 1997. Akhirnya hari itu juga aku berpikir cepat, cari brosur brosur yang dibagikan saat pulang ujian SPMB. Hmm... orang tua pinginnya aku kuliah, tapi sebagai kedua orang tua yang berprofesi Guru yang penghasilannya pas-pasan mereka menginginkanku masuk sekolah yang murah dan bermutu.

Dengan kata lain Universitas kayak gitu, ya Universitas Negeri. Saat itu pilihannya cuma Negeri atau Swasta, gak ada extention. Lihat brosur D3 Unair... ya ujian dah lewat, lihat D3 Unibraw, ya... ujiannya besok Senin padahal sekarang Sabtu. Waktu sudah menunjukan jam 9 pagi. Perjalanan Lamongan ke Malang kira-kira 3.5 ~ 4 jam kalau naik Bus, itupun belum ditambah puter-puter nyari angkot yang menuju ke Unibraw, dan nyari kosan.

Maklum waktu itu blank dan gak tahu mana-mana selain Lamongan saja. Akhirnya seorang temen nyodorin brosur D3 & Politeknik ITS, seminggu lagi pendaftaran ditutup.
"Hmm... masih ada waktu..." pikirku.

Tapi kenapa harus ITS? Kampus yang paling kubenci. Kenapa kubenci? Ya.. karena para alumni SMADA (SMAN 2 Lamongan) yang diterima ITS rata rata sosok yang nggak kusukai, terkesan sombong dan arogan. Apalagi kalau bukan karena slogan "Arek ITS Cuk!"

Akhirnya selepas Sabtu-Minggu bersedih-sedih 'merayakan' kegagalan nembus SPMB, Senin nya aku ditemani Ibu tercinta berangkat ke Surabaya nyari dimana lokasi ITS. Setelah ngalor ngidul ngetan ngulon, naik Bus AKDP turun di Wilangun, sambung Bus Kota turun Jembatan Merah, terus naik lyn O menuju Keputih. Saat itulah baru ngeh kalo ITS di daerah Keputih.

Datang langsung menuju Gedung BAAK-ITS, Dr. Angka. Lihat sana, liat sini akhirnya daftar juga terus seperti bias ngisi formulir. Saat itulah mulai bimbang, mau milih mana: pilihan D3 mengerucut ke: Teknik Sipil Bangunan, Teknik Mesin, atau Teknik Elektro-Computer Control. Dalam hati pinginnya pilihan seperti di atas, tapi akhirnya tanya yang lebih ngerti katanya Grade tertinggi Teknik Elektro, Teknik Mesin, baru Teknik Sipil Bangunan. Akhirnya nulisnya jadi pilihan pertama Computer Control, kedua baru Sipil Bangunan. Padahal sebenarnya lebih nge-fans ke Sipilnya karena saya hobi corat coret alias gambar!

Loncat, singkatnya setelah bersusah payah ujian dan deg-deg ser hari pengumuman tiba.... Langsung kucari namaku di Jurusan Sipil Bangunan, sayangnya kulihat nggak ada. Lalu dengan gontai ngelihat ke papan pengumuman tempat Teknik Elektro Computer Control. Hmm.... rupanya namaku nongkrong ditengah-tengah! Hah aku masuk Elektro??? Entah aku harus tertawa senang atau bagaimana? yang jelas, aku sangat alergi Elektro. Maklum saat SMP, kerjaan kami tentang rangkaian radio FM dibanting Pak Guru dimuka kami, hanya gara-gara salah masang Elco (Electrolytic Capacitor). Dan saat itulah saya bersumpah:
"Banting-bantingen gak popo, aku yo gak kathe melbu Elektro, gak pateken!"

Memang akhirnya saya masuk Jurusan D3 Teknik Elektro Computer Control, bahkan akhirnya melanjutkan lintas jalur ke jenjang S1 Teknik Elektro. Walaupun begitu, saya tetap sedikit alergi dengan rangkaian elektronika sampai sekarang. Kalau dibilang saya salah jurusan, memang! Tapi ini adalah kesalahan yang indah dan saya menikmatinya.

Moral dari kisah ini:
Janganlah kamu sampai terlalu membenci sesuatu karena bisa jadi kau akan termakan omonganmu. Kalau benci cowok ya jangan segitunya, jangan jangan dialah yang kelak jadi pasangan hidupmu.

24 Februari 2010

Sang Profesor Itu Telah Berpulang

Semalam, ada telepon dari keluarga di Lamongan, rupanya ibu yang telepon. Hmm... ternyata kabar duka yang beliau sampaikan bahwa Prof.Ir. Hadi Sutrisno suami dari mbak Rini meninggal.

Innalillahi wa Inna ilaihi Roji'un...
Ya, sebagai civitas akademika ITS apalagi Teknik Elektro siapa yang nggak kenal nama beliau. Beliau adalah salah satu Guru besar di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Pernah menjadi Purek di era 1990-an yang lekat dengan program mobil WW1 dan WW2. Kemudian berkembangnya ludruk di Elektro yang dikenal sebagai Ludruk Tjap Toegoe Pahlawan.

Penyebab kematiannya menurut ibuku, yang sempat menjenguknya di Grha Amerta RS Dr. Soetomo adalah katanya karena sejenis bakteri yang menyerang paru-parunya hingga akhirnya menyerang otaknya. Sewaktu ibu berkunjung ke sana katanya sempat ketemu Pak Priyo, dan beberapa dosen civitas akademika ITS. Saat itu keadaannya sempat berangsur baik namun rupanya takdir ada di tangan sang kuasa, selasa sore Sang profesor itupun menghembuskan nafas terakhir. Menurut ibu, beliau akan dimakamkan di Ngawi di tanah kelahirannya (kemungkinan tadi).

Nasib orang susah diterka padahal sebenarnya saya punya rencana mengunjunginya kelak kalau punya waktu luang. Beliaulah kebanggaan di keluarga besar kami. Bagaimanapun juga beliaulah yang mengilhami saya untuk terjun ke Elektro, walaupun akhirnya saya nggak bisa mengikuti jejaknya di konsentrasi bidang studi Sistem Tenaga (Power) karena nyatanya disitulah titik kelemahanku (Medan Elektromagnet dan Konversi Tenaga Listrik), hingga akhirnya aku lebih memilih Sistem Pengaturan. Sebenarnya secara garis darah dan keturunan saya nggak ada hubungan langsung dengan beliau. Beliau menjadi kerabat saya karena isterinya (mbak Rini) masih ada hubungan dengan garis keturunan ibuku. Memang seharusnya sih saya manggilnya mas, tapi kok timpang banget ya lebih baik Pak atau Om saja.

Ya, selama menuntut ilmu di Teknik Elektro ITS, saya tak pernah sekalipun berjumpa dengannya, kecuali saat Wisuda D3 dan Wisuda S1, dan acara keluarga. Saat itu beliau lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai Dekan di Universitas Mataram dan sebagai pioneer Jurusan Teknik Elektro di Universitas tersebut. Sebenarnya saya ingin meniru jejak langkahnya sebagai Dosen, peneliti, dan penggagas, serta mungkin terlalu banyak yang tidak bisa saya sebutkan.

Akhir kata, selamat jalan Profesor... semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dan semoga sang istri, Mbak Rini, selalu diberi ketegaran dan ketabahan hati. Padahal, sebulan yang lalu ibundanya (Budhe Musa) baru saja meninggal. Kini, sang suami yang menghadap illahi. Semoga Allah selalu melimpahkan kesabaran dan ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan.

15 Desember 2009

Biar Kalah Yang Penting Gaya



Minggu kemarin, tanggal 13 Des 2009, Yayasan IKA Alumni ITS Kepulauan Riau mengadakan Futsal di Ikan Daun Batam. Acara ini merupakan kelanjutan dari bunga rampai Dies Natalis ITS. Setelah Donor Darah, Lomba Blog, dan nanti tanggal 20 Desember 2009 akan ditutup dengan Tumpengan di Pondok Santai Kak Dadut.



Ya... tahunya acara seperti ini juga telat, maklumlah orang sibuk (sibuk ngupil sambil nge-game). Jadi hanya sempat berpartisipasi di Pertandingan Futsal. Lumayanlah masio gak menang lak sing penting ngumpul karo arek-arek. Ya... sekali lagi dikarenakan terlalu sibuk jadi kurang silaturahmi dengan arek-arek seperguruan. Ya... meski departemen sebelah sudah menyatakan gulung tikar, tapi rencana menyatukan arek-arek seperguruan yang bekerja di perusahaan ini untuk bangkit dan menunjukkan jati dirinya dalam sebuah tim tetap dilakoni. Setelah berkoar-koar akhirnya terkumpullah satu tim (walaupun pas-pasan, sak ono'e wonge) dan jadilah kami ikutan berpartisipasi.




Hmm... aktualnya di lapangan tak lebih dari 5 orang saja dari perusahaanku yang hadir. Selebihnya sok sibuk semua, entah karena mereka gak suka bola, atau ogah ketemu arek-arek, aku nggak tahu. Yang jelas akhirnya dengan tambahan 3 amunisi dosen Poltek ditambah 1 orang eks Panasonic, membuat kami menjadi siap tempur dan berani bertarung (hehehe... bertarung? bahasanya itu lho, hiperbola banget). Bukan gitu bro, aku dan 4 orang lainnya memang sudah uzur (maksude 30 tahun ke atas), tapi kan 2 orang diantara kami 3 orang diantara kami ini jago futsal, ditambah arek-arek enom dosen politeknik Batam. Harusnya ini kami patut masuk tim unggulan.

Tapi sekali lagi kita mengulang momen masa lalu, ketemu tim tangguh arek-arek TEC. Belum lagi tim gabungan Unisem dan Schneider (Dr.Angka), dan arek-arek galangan (C.U.K).

Pertemuan pertama lawan Dr Angka ternyata kita bisa mengimbangi bahkan nyaris menang, namun akhirnya kita kalah 2-3. Setelah tenaga terkuras, di pertandingan kedua kita melawan OC TEC yang mana kutahu ada si Wado (Ade Mulyana) adik kelasku, playmaker handal yang juga jago bikin gol. Hmm.. benar aja kita pontang-panting dan menjadi lumbung gol dengan 5 gol yang terlebih dahulu ke gawang kami. Beruntung di menit-menit akhir kami bisa menipiskan keadaan dengan membalas dua gol, sayang kami terlambat, paling tidak ini tak membuat kami terlalu malu, hehehehe....

Dengan hasil ini kita sudah pasti gagal melaju ke Final, pertandingan terakhir pun sudah tidak menentukan. Ini mungkin yang membuat lawan kami C.U.K, kabur dari arena. Akhirnya kami menang 5-0 juga walaupun menang WO lho, heheee. Gak papa toh bukan hasil yang dicari tapi merekatkan persahabatan dan pertemanan lagi sesama teman seperguruan. Siapa tahu ditawari kerja oleh senior di perusahaannya. hehehe

Gak papa, acara seperti ini kan sakjane perlu dilestarikan, masalahnya tinggal kepedulian kita selaku alumni ITS masih mau nggak menjalin hubungan dengan ekosisitem kita dahulu. Sebenarnya saya membayangkan IKA Alumni ITS ini kuat bahkan bisa berfungsi seperti organisasi yang multifungsi. Bisa seperti koperasi, yang bisa memberi pinjaman. Atau seperti perusahaan asuransi yang bisa memberikan asuransi pada semua alumninya, atau lainnya. Hmm... mungkin cita-cita itu masih jauh, tapi itu adalah mimpi, bisa saja jadi kenyataan jika ada kesamaan visi diantara kita.

VIVAT ITS! Hidup ITS... Hidup ITS

24 Agustus 2009

HymNe ITS

HymNe ITS
Syair: Ir. Amiranti, Disesuaikan: E. L. Pohan


Refrain 1:
Almamaterku yang kucinta
Ibu yang luhur, ITS
Tetap membara semangatmu
Cita-citamu tak kendur

Sepuluh Nopember Empat Lima
Mendorong, Menjiwaimu
Melangkah ke arah tujuan
Dengan tekadmu yang teguh

Membina bangsa
Atas dasar Pancasila
Dan Undang Undang Dasar Empat Lima
Landasan juangmu……

Refrain 2:
Almamaterku yang kucinta
Ibu yang luhur, ITS
Amatlah kokoh gemblenganmu
Membina putra-putrimu

Menuntut teknologi yang canggih
Berbudi agung dan cerdas
Menuju kesejahteraan
Bangsa dan umat manusia

Alma..materku
Kan kuturut bimbinganmu
Jadi pejuang yang takkan kenal letih
Membangun negeri

Hidup ITS... Hidup ITS...
Almamaterku Jaya...

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sering kunyanyikan dalam hati kala kehilangan keyakinan akan pekerjaanku, harusnya aku bisa lebih menjadi profesi apapun itu, sesuai yang ku mau karena aku alumni ITS CUK! Hmm... anda menyukainya dan alumni ITS? Klik aja disini untuk mendownload-nya. Semoga selalu ada semangat untuk mewujudkan cita-cita dan angan yang selalu penasaran ini.