Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Tontonan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tontonan. Tampilkan semua postingan

03 September 2019

Resensi Film Third Person (2013)


Anda pingin melihat Liam Neeson tidak melakukan aksi heroik dan baku tembak, namun berakting hanya kisah drama dan roman. Salah satunya bisa anda dapatkan di kisah film Third Person (2013).

Kisah Third Person ini menceritakan 3 karakter utama. Yakni Michael seorang Novelis yang pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer, Scott seorang desainer Amerika yang suka mencuri desain, dan Julia seorang mantan artis opera sabun.

Walaupun kisah ketiga film bersetting di tiga tempat, yakni Paris, Roma, dan New York. Kisah ketiga ini yang ternyata saling terkait, atau setidaknya ada benang merahnya.

Pertama, karena judulnya Third Person yang artinya orang ketiga, maka sudah tentu setiap karakter utama tadi sedang berhubungan dengan orang ketiga. Michael (Liam Neeson) berpamitan pada istrinya Elaine (Kim Basinger), untuk mencari inspirasi menulis novel berikutnya di Roma, yang ternyata dalam film ini, dia ada di Paris. Dan di Paris ini dia bertemu denga Anna (Olivia Wilde). Dari kisahnya, Michael tampak ingin menjauh dari istrinya dan melupakan suatu tragedi. Karakter kedua, adalah Scott (Adrien Brody) yang sedang berada di Roma, setelah mencuri ide desain. Dia bertemu dengan seorang gadis saat di bar yang bernama Monika (Moran Atias) yang sedang berjuang mendapatkan anaknya kembali dari seseorang bernama Carlo. Sementara Scott sendiri memiliki seorang istri yang bernama Theresa (Maria Bello). Karakter ketiga adalah Julia (Mila Kunis) yang sedang berebut hak asuh anak dengan mantan suaminya Rick (James Franco), yang ternyata telah menggandeng kekasih baru bernama Sam (Loan Chabanol). Sementara pengacara dari pihak Julia adalah Theresa.

Benang merah kedua, jika diikuti sangat dalam maka kisah ini dipersatukan dengan konflik yang hampir mirip, yakni tentang kisah tragedi anak. Diceritakan ternyata Michael dan Elaine juga baru kehilangan anak. Sementara Julia dipisahkan dari anaknya karena dianggap melukai anaknya, dan beralibi ingin mencegah anaknya dari hal bisa membuatnya tenggelam. Sedangkan Monika berusaha bernegoisasi dengan Carlo untuk mendapatkan anaknya, yang akhirnya mendapat empati dari Scott yang bersedia memberikan segalanya untuknya. Walaupun Scott juga tidak terlalu yakin, apakah anak Monika itu benar adanya, atau cerita fiktif Monika dan Carlo yang digunakan untuk memeras Scott. Sementara istri Scott, yang juga pengacara Julia, yakni Theresa berusaha menghilangkan trauma dari kolam renang, dimana mereka telah kehilangan anak mereka yang lepas dari pengawasan Scott sekian detik.

Kisah asmara, konflik batin, ketidakpercayaan, menghiasi film ini datang silih berganti dan pergi. Kalau membayangkan tinju seperti hit and run. Kisah asmara Anna dan Michael yang rumit, juga keadaan Julia yang jatuh bangun, dan konflik ketidakpercayaan dan asmara Scott dengan Monika. Pada akhir cerita bayangan Anna, yang berubah dari Julia, atau Monika, seakan menunjukkan bahwa kisah ini seolah-olah bagian dari Novel yang ditulis Michael. Tapi itu penafsiran saya, selebihnya tonton sendiri.

Parent Guide:
Ada beberapa adegan ketelanjangan Olivia Wilde yang harus anda sensor, jika menonton bersama anak.

29 Agustus 2019

Resensi Film Moon (2009)


Anda pernah menyaksikan Robinson Crusoe (Pierce Brosnan), Castaway (Tom Hanks), atau Buried (Ryan Reynolds)? Kira kira film seperti itulah Moon. Cerita tentang kesendirian atau terdampar pada suatu tempat yang jauh dari siapapun dan keluarga selalu menarik, dan akan selalu menampilkan perang psikologis, dan mungkin membuat para penonton terbawa.

Cerita Moon, yang dibintangi aktor watak yang selalu tampil bengal, Sam Rockwell yang kebetulan juga berperan sebagai Sam Bell. Nah, Sam Bell adalah seorang astronout yang ditempatkan di stasiun ruang angkasa "Sarang" (bahasa korea, arti Cinta) yang berada di bulan. Dia dipekerjakan oleh Lunar Industries, yang menambang Helium.

Sam meninggalkan bumi ketika istrinya Tess sedang mengandung anaknya. Sam, seorang diri berada di stasiun ruang angkasa tersebut. Eh, enggak ding, dia menghabiskan waktunya bersama robot pintar bernama Gerty, disuarakan oleh Kevin Spacey. Ya, nggak setragis Tom Hanks di Castaway yang hanya bicara sama bola volley Wilson. Bersama Gerty, segala aktivitas dan informasi keseharian Sam tercatat, dan sehari hari berkomunikasi. Diceritakan bahwa komunikasi dengan Bumi terganggu, sehingga tidak ada komunikasi video dua arah (live). Bahkan saat berkomunikasi dengan istrinya dia hanya bisa melalui pesan video. Diceritakan anaknya sudah lahir dan sudah besar. Sam merasa sudah hampir 3 tahun di stasiun tersebut, dan sebentar lagi pulang, sesuai kontraknya. Masalah mulai timbul ketika dia memeriksa kondisi di sekitar bulan dan terlibat kecelakaan. Dari situlah mulai terungkap kebenaran, dan apa yang terjadi sebenarnya.

Film Moon ini tidak benar-benar mengisahkan dunia sci-fi yang spektakuler. Latar belakang luar angkasa dataran bulan, bahkan hanya terlihat di beberapa scene saja. Ketika saat dia berpatroli mengecek kondisi bulan dan berusaha berkomunikasi dengan bumi. Selebihnya kita akan dibawa pada konflik batin, situasional, dan psikologis, yang diperankan dengan baik oleh Sam Rockwell.

Bagi anda pecinta teknologi sci-fi, anda tak akan mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi bagi anda yang menyukai film yang bertema Psychological Thriller. Film ini bisa menjadi rujukan untuk anda saksikan.

Bagi pecinta film bertema kesendirian atau terdampar, dengan banyaknya konflik psikologis dan misteri, film Moon semenarik Castaway. Dan jauh lebih menarik, daripada anda menonton film bertema serupa namun minim di situasi dan cerita, yang banyak menampilkan lekuk tubuh artis dan adegan hot, ala film Blue Lagoon, Survival Island, atau yang terbaru A.I Rising.

27 Agustus 2019

Resensi Film Hereditary (2018)


Tadi malam saya nonton film Hereditary. Jujur awalnya saya lupa genre film ini, saya pikir ini film Drama, maklum beberapa hari ini nonton film Drama. Mulai nostalgia ke Notting Hill, Great Expectation, lalu mencari film baru Manchester by The Sea dan film yang aneh, semacam Life Itself. Maka dari itu saya nonton film seperti biasanya jam 10 malam ke atas, untuk menghindari adegan 17+ tersaksikan oleh anak-anak.

Eh, ketika dari awal pembukaan sudah disuguhi dengan aroma kematian, saya langsung ngeh... Waduh ini film Horror! sebenarnya saya nggak takut dengan film Horror Hollywood semacam Sinister, Polaroid, Brightburn dll. Tapi jujur kalau Conjuring series memang rada nggak enak dilihat sendiri malam-malam. Ketika film berjalan saya mulai menebak-nebak fim Horror ttipe gimana nih film.

Film dibuka dengan kematian sang nenek. Setelah sang nenek meninggal, keluarga ini masih terdiri dari 4 orang. Yakni Ayah, Ibu, sang abang seusia remaja, dan si adik cewek yang masih anak-anak. Sang ibu ini seniman, buat seni instalasi rumah (maket) yang mirip kali dengan aslinya. si adik cewek rupanya memiliki bakat seni dari ibunya, yakni suka nggambar apa aja. sang ayah sibuk dengan urusan bisnisnya, dan sang abang yang dalam masa kenakalan remaja, yakni mulai coba-coba ngeganja. Diceritakan juga bahwa si adik ini punya alergi pada kacang, yang mana keluarganya sangat selektif ngasih makan sama dia.

Setelah kematian sang nenek, beberapa kali si ibu melihat penampakan. Bencana mulai muncul ketika sang abang ngeganja di sebuah pesta temannya sambil ngasuh adiknya, dimana ayah dan ibunya ada urusan. Kemudian teror mulai melanda keluarga ini, apalagi ketika sang ibu mulai bisa berkomunikasi dengan roh. OK spoiler, jadi nggak saya jelaskan roh siapa ini.

Kemudian film ini terlihat lebih kelam dan aura mistis mulai nampak, apalagi ketika setan setan mulai bermunculan. Dan jleng..... ini ketika saya sadari film ini sangat mirip sekali dengan "Pengabdi Setan" Joko Anwar yang tayang di 2017. Ya, kengeriannya dan goalnya. Saya tidak tahu apakah Ari Aster sengaja mbacem (baca: plagiat) filmnya Joko Anwar tersebut. Tapi dari plot dan beberapa suasana film besutan Ari Aster memang bisa lepas dari bayang-bayang Joko Anwar, dimana ada skenario dan twist yang berbeda.

"Hereditary" secara arti bahasa adalah "Turun Temurun". Ya, intinya menurut saya apa yang mau disampaikan cerita ini mirip dengan Pengabdi Setan. Saya juga merasa 'nggak enak' lihat film ini. Saya rekomendasikan film ini deh, buat kamu para pecinta film Horror yang pingin terteror dan terbawa suasana.

Saya biasa download film disini

21 Februari 2015

Menilai Sebuah Kreativitas Animasi


Dunia kartun atau animasi adalah dunia anak, atau setidaknya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak. Karena biasanya anak-anak akan gampang meniru apa yang disampaikan oleh Kartun. Tag atau slogan tokoh, akan mudah diingat dan ditirukan oleh anak. Karena anak-anak adalah ibarat gelas yang masih kosong dan mudah diisi. Anda tentu ingat biasa mendengar "betul..betul..betul!", atau "dua seringgit..", kata-kata yang biasa dipakai tokoh dalam film Upin Ipin.

Lantas, apa jadinya jika tontonan yang semestinya dinikmati anak-anak, menjadi tontonan yang tidak sesuai untuk anak? Apalagi di era modern ini, anak-anak cenderung 'belajar' berinteraksi dengan menirukan apa yang dia dapat dari media. Bisa dari gadget, komputer, koran, radio, dan tentunya yang paling banyak ada di setiap rumah adalah televisi. Tentu saja hal ini akan berakibat membuat perilaku anak-anak ini menjadi kurang baik.
(lihat di postingan saya terdahulu)

Dari sekian film animasi yang lalu-lalang di jagad pertelevisian Indonesia. Dalam hal ini, kartun animasi dari televisi berbayar tidak saya libatkan, seperti Cartoon Network dan lain-lain. Saya ingin mengetahui kartun animasi yang paling disukai oleh anak-anak. Kemudian saya men-survey anak-anak comel di sekitar kompleks perumahan saya, untuk mendapatkan animasi yang terbaik. Maunya sih, mulai ranking satu sampai sepuluh, tapi ternyata, cuma ada 6 yang layak ditampilkan. Berikut juga saya tambahkan komentar, dan hasilnya antara lain:

1. Upin dan Ipin


Komentar:
Entah harus ngomong apa lagi tentang film kartun yang satu ini, speechless dah... Film produksi Les' Copaque ini, seolah gambaran lengkap dari kehidupan anak kampung Malaysia yang hidup sederhana, jauh dari gemerlap KL. Dengan memasukkan unsur etnis Malaysia yang terdiri dari ras Melayu, India, China, dan Indonesia. Tokoh-tokoh yang ditampilkan mempunyai karakter khas, dan ide atau cerita yang disampaikan pun bervariasi. Intinya mereka punya misi, dan sepertinya memiliki tim kreatif yang lengkap, dan skripny yang bagus. Sehingga setiap penampilannya layak ditunggu.

2. Boboiboy

Komentar:
Film yang satu ini juga dari Malaysia, buatan dari Animonsta Studio, dan temanya beda banget dengan Upin & Ipin. Film ini bertema fantasi dan Superhero. Dimana karakternya dimunculkan dari tokoh-tokoh yang mewakili masing-masing etnis Malaysia (sama seperti Upin dan Ipin). Menceritakan tentang konflik antara Boboiboy beserta teman-temannya dengan Alien yang ingin menguasai coklat di Bumi. Dari segi cerita, masih sangat mendidik, bahwa kebaikan akan selalu menang. Penuh dengan sisi humanis, dan tetap gaya khas anak-anak. Artinya tidak keluar ke jalur cerita orang dewasa.

3. Doraemon

Komentar:
Film animasi dari jepang ini menjadi film animasi terawet yang diputar oleh stasiun televisi di Indonesia. Mulai zaman saya SD hingga saya punya anak SD, waw! Tentu saja yang menjadi daya tarik film ini adalah kemampuan robot masa depan Doraemon yang bisa mengeluarkan apa saja, dan tokoh Nobita yang sangat payah dan pemalas! Namun walau ide cerita yang terkesan monoton dengan menampilkan Nobita yang terus dibully oleh Giant dan Suneo, namun hal yang paling ditunggu adalah alat yang keluar dari kantong ajaib Doraemon. Menurut saya secara cerita bagus dan seperti membawa kita berfantasi akan hal-hal yang nampaknya nggak mungkin di kehidupan sekarang. Jeleknya, andai si anak meniru tokoh Nobita yang tergantung dan pemalas. Namun secara keseluruhan film ini masih bagus.

4. Pada Zaman Dahulu

Komentar:
Lagi-lagi film produksi Malaysia, dan satu lagi karya dari rumah produksi Les' Copaque. Cerita film ini sebenarnya sangat lekat dalam kehidupan rakyat Nusantara. Karena saya bicara Nusantara, ya tentu saja meliputi Malaysia. Sangat disayangkan, huhuhu.. dongeng yang menjadi pengantar tidur saat kecilku, lha kenapa kok Malaysia yang buat film ini duluan... kenapa bukan Indonesia? Tapi ya sudahlah! Film ini mengangkat Fabel si Kancil yang cerdik, yang punya seribu akal. Dan tentu saja banyak pesan moral yang disampaikan. Jadi...film anaimasi memang layak ditunggu kehadirannya!

5. Sincan

Komentar:
Film animasi dari jepang ini, mungkin bukan sepenuhnya cerita kehidupan anak-anak. Banyak diselipkan tingkah laku anak yang cenderung dewasa sebelum waktunya. Namun, anak-anak cenderung akan mengabaikannya karena nggak ngerti, dan untungnya... LSF Indonesia masih ketat, dengan menggunting bagian-bagian yang terlalu kasar dan jorok! Ide cerita kurang nyambung dengan dunia anak. Namun, ada beberapa bagian di film ini yang masih menjadi daya tarik anak.

5. Adit dan Sopo Jarwo
Komentar:
Film animasi buatan Indonesia, buatan MD Animation. Akhirnya ada juga animasi yang bagus dari Indonesia, walau nangkring di peringkat ke-6. Grafis animasi ini bagus dan gearakannya hidup, tidak kaku. Namun sayang ide cerita masih lemah! Dan kurang memberi pesan moral yang pas, pada ukuran anak-anak. Pesan saya, untuk ide cerita harus digarap lebih kreatif. Kemudian diperbanyak teman-teman Adit, masak si Adit mainnya sama bang Jarwo. Ya... nantinya bisa dimodifikasi Adit dan kawan-kawan, atau gimana. Sehingga pesan moral yang disampaikan harus jelas, terlebih film ini membidik penonton usia berapa, anak-anak kah? atau orang dewasa?

6. Keluarga Somat

Komentar:
Satu lagi film animasi buatan Indonesia, buatan Dreamtoon Studio. grafis bergaya Shaun the Sheep. Sedikit saya sayangkan, guyonannya terlalu jayus! Kemudian cerita mungkin terlalu mengarah ke kehidupan keluarga, dimana segmen dewasa lebih banyak. Sehingga pesan moral yang disampaikan tidak jelas ditangkap anak. Hal ini yang membuat bingung saya tentang penonton usia berapa yang ingin dibidik, anak-anak kah? atau orang dewasa? Tapi kalau tayang pagi atau sore, tentu anak-anak, bukan ibu rumah tangga kan?

Dahulu, waktu saya kecil saya pernah menyaksikan kartun buatan Indonesia, yaitu Si Huma dan Windi. Pernah dengar? Atau masih ingatkah? Orang yang seangkatan dengan saya atau lebih tua dari saya seharusnya masih ingat. Itupun kalau dulu mereka punya televisi. Film buatan PPFN ini sempat tayang beberapa saat. Ide ceritanya tentang petualangan si Huma dan Windi. Saya kurang ingat berapa seri film ini tayang di televisi. Kala televisi di tanah air masih didominasi televisi hitam putih.

Namun jauh dilubuk hati saya, film animasi Indonesia bisa dikelola dengan baik. Karena sebuah film bukan melulu grafis yang harus bagus, tapi semua kesatuan, baik itu sound, ide cerita (script), dubber dan gaya bahasa, karakter, soundtrack dan lain-lain. Jadi kalau mau bagus ya harus seperti itu. By the way, Bravo dunia animasi Indonesia!

17 November 2012

Sinetron Islami Yang Tidak Islami

Sinetron-sinetron yang bertemakan religi (Islam) bertebaran. Namun sayangnya, tontonan yang dijual tak layak disebut Sinetron Religi. Jadi dari kacamata saya, lebih seperti sinetron biasa, dengan tokohnya memakai 'pakaian muslim'. Sinetron tersebut belum mampu menyampaikan pesan secara Islami. Mungkin yang memproduksi karya tersebut bukan orang Islam, tapi diklaim tontonan Islami. Artinya demi komersialitas saja, tayangan ini berupaya merebut segmen pemirsa lainnya.

Sinetron yang berbalut religi Islami memang sangat banyak bermunculan. Sayangnya, tujuan yang hendak disampaikan oleh para pembuatnya bukan untuk mengampanyekan Islam. Celakanya kadang-kadang ada seorang tokoh muslim yang selalu syirik berbuat jahat pada tokoh utamanya. Demi mempertahankan panjangnya episode, kadang-kadang ada selalu kejahatan yang dilakukan. Ini apa? Jalan cerita kehidupan muslim apa seperti ini? Ada seorang muslim yang selalu membenci muslim lainnya. Ini 'kan tidak benar, seolah lumrah saja hal ini terjadi dalam kehidupan masyarakat Islam.

Dalam sinetron religi, kadangkala unsur-unsur utama dalam kehidupan muslim kurang ada. Karena mungkin saja, pembuatnya 'orang abangan' yang tidak tahu tata nilai kehidupan muslim dalam bermasyarakat. Dan tema cerita yang dihadirkan tidak menunjukkan tema Islami yang menghibur. Tidak harus penuh lucu-lucuan, namun setiap adegan bisa mengemban misi penyampaian ayat-ayat Al Quran yang jelas.

18 Mei 2011

Menyaksikan Karya Para Kreator Animasi Negeri Tetangga di Perbatasan ini

Siapa anak Indonesia yang tak kenal Upin Ipin? Yang kita kenal dengan celoteh khasnya "betul, betul, betul." Ya... sebuah karya animasi yang kini selalu wajib ditayangkan tiap hari di MNC TV. Walaupun tiap hari ceritanya diulang-ulang, tetap saja anak-anak pada betah nongkrong di depan TV sambil melakukan aktivitas lainnya. Ide cerita yang mendidik dengan syarat pesan moral disetiap episodenya seolah menjadi oase bagi anak-anak agar selalu menjadi anak yang baik. Dengan latar belakang potret keragaman suku di Malaysia, mulai dari Melayu, China, Singh, India dll. Seolah menjadi gambaran yang indah dalam suatu lingkup persahabatan anak-anak. Sebuah karya animasi yang pertama kali kulihat di TV9 Malaysia adalah karya dari rumah produksi Les' Copaque. Dan sampai saat ini masih tetap tayang setiap Sabtu jam 16.30 Wib dengan cerita yang baru dan menarik.

Beberapa minggu terakhir ini ada film animasi baru tentang aksi kepahlawan (superhero) yang tak kalah bagus animasinya. Judulnya BoboiBoy, tayang setiap Ahad di TV3 Malaysia jam 18.00 Wib. Sekarang film ini jadi wajib tonton si Abang Parsa, bahkan dia mulai hapal semua karakter di film ini. Menampilkan 4 orang jagoan cilik yang punya kekuatan super, seperti BoboiBoy dengan membelah diri jadi 3 kembaran, mempunyai kekuatan petir, tanah, dan angin. Yaya, gadis berjilbab yang bisa terbang, Ying gadis china berkacamata yang larinya super cepat, dan terakhir Gopal pemuda India yang gemuk, yang bisa merubah setiap barang menjadi makanan kala dia terdesak atau ketakutan. Semuanya bersatu melawan alien hijau, bernama Adudu yang mempunyai pengawal para robot. Dimana tujuan si Adudu mencari koko (coklat) sebagai sumber energi.

Sama seperi Upin Ipin, BoboiBoy juga kata-kata khas yakni "Terbaik."Kali ini yang jadi rumah produksinya adalah Animonsta, yang katanya bekas orang-orangnya Les' Copaque.

Entah kapan film ini bakal mewabah ke Indonesia, tapi saya yakin pasti akan datang! Yang jelas film ini jauh lebih bermutu dan lebih berjiwa anak-anak dibanding Ben 10, Ironman, ataupun Transformers. Jadi unsur edukasi tampaknya masih ada. Pertanyaan besar dari saya, pada dimana kreator animasi negeri ini? Tak adakah Animator-animator negeri ini yang mumpuni daripada negeri tetangga? Dan mana kepedulian bangsa Indonesia memberi tontonan yang bermutu untuk anak-anak kita? Apa negara ini hanya bisanya bikin Sinetron tak bermutu?

29 Maret 2011

Gara Gara "dikandani ora percoyo" Akhirnya Jadi Pingin Nulis

Gara-gara kata ini nih "dikandani ora percoyo", yang mana diucapkan para personel OVJ saat manggung di kota Malang, saya jadi tergelitik pingin nulis komentar sepatah dua patah kalimat.

Sebenarnya secara bahasa gak ada yang salah dengan kata-kata tersebut ataupun ojo nesu. Namun kata atau kalimat seperti itu lebih lumrah atau jamak kalau diucapkan di kota atau daerah yang berada di Jawa Kulonan (Jawa Tengah dan Mataraman). Sedangkan saya lihat saat itu, mereka (OVJ) sedang pentas di kota Malang. Dimana di Jawa Timur, khususnya wilayah arek (Surabaya, Gresik, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, sebagian Lamongan) lebih akrab dengan dialek ala Jawa Timuran yang sering nabrak pakem bahasa Jawa asli.

Jadi ketika dengar si Sule ngomong dengan bahasa seperti itu, lantas saya teringat gaya ngomong isteri saya yang notabene juga Sunda saat mencoba berbahasa Jawa kepada saya dengan dialek Jawa Kulonan. Ora memang berarti "tidak", tapi secara dialek orang di daerah arek lebih nyaman memakai kata gak, atau igak. Jadi harusnya ngomong seperti ini, "Dikandani gak percoyo" lebih mantap kalo ditambahi akhiran "rek" atau "ker" kalau berada di daerah Malang.

Kata ojo nesu (artinya: jangan sedih/dongkol), pun jarang terdengar di daerah ini, malah lebih akrab dengan kata ojo mangkel atau ojo gelo. Dan lebih akrab ditelinga dengan kata "kon" atau "awakmu" daripada kata "kowe" untuk menyebut arti: kamu. Tapi saya juga maklum, sama halnya kalau saya mencoba berbahasa Sunda dengan isteri saya tapi dengan logat Jawa, dan dialek Sunda Banten, mungkin akan keliatan kasar dan aneh.

Tapi sekali lagi itu cuma bahasa, dengan paham beberapa kata, tentu akan membuat audiance menjadi simpatik.

Sebenarnya pingin buat kamus bahasa jawa khusus dialek Lamongan. Karena walaupun dialek nyaris mirip dengan Suroboyoan namun ada kata-kata yang selalu janggal ditelinga orang Surabaya. Contohnya kata nyilih (artinya: pinjam), orang Lamongan selalu menggunakan kata nyelang, kalau diterjemahkan seolah memakai selang (pipa). Juga dengan kata kepriye, akrab dipakai di Jawa Tengah dan sekitarnya, yang artinya gimana/bagaimana. Orang Surabaya lebih akrab dengan kata kok opo atau yok opo, sedangkan orang Lamongan lebih terbiasa ngomong kok piye atau kokye. Sebenarnya kalau ada waktu luang, saya ingin menaruh pada kolom khusus untuk membahas secara gamblang logat, dan dialek khas Jawa Timuran, tapi sekali agi belum sempat, mungkin nanti.

Ngisor mejo ono ulane.....
Ojo gelo iku carane


maksud parikan atau pantun ini adalah:
Di bawah meja ada ularnya....
Jangan dongkol, kalau ini caranya

23 Maret 2010

Melihat Dikotomi Nasib "Para Pemburu" di Trans TV

Hmm…. Di bulan Maret ini, saya baru mendapatkan acara yang baik lagi. Tiap minggu, kini selalu menjadi acara favorit saya dalam meluangkan waktu menonton TV. Acara itu bernama ”Para Pemburu”, yang ditayangkan setiap Minggu jam 15.30 WIB. Tayangan ini seolah membuka cakrawala kita dengan melihat dari dua sisi. Ya tayangan ini banyak bercerita tentang dua sisi kehidupan masyarakat yang berbeda nasib.

Ada 3 episode yang saya sudah lihat (sejauh ini saya tak tahu sudah berapa kali tayang –katanya memang acara baru di bulan Maret). Kisah pertama yang saya lihat, menceritakan tentang kisah ”Para pemburu Emas” di Sulawesi (saya agak lupa Sulsel atau Sulteng). Disana, diceritakan tentang beratnya perjuangan kaum bawah yang memburu hanya sejumput emas demi bertahan hidup dan menyambung nasib keluarganya. Mereka memburu emas hingga masuk ke dalam gua–gua yang mereka buat sendiri hingga berpuluh-puluh meter. Kemudian dipilah-pilah, itupun semua bahan galian tak berupa emas, hanya sejumput. Itupun tak setiap hari mereka beruntung, jika sudah begitu keluarga mereka harus puasa atau makan seadanya. Ditambah lagi resiko keruntuhan tambang yang bisa merenggut nyawa, yang mana harganya tak sepadan dengan penghasilannya. Padahal harga emas yang dibeli oleh para penadah yang ’jemput bola’ ke tempat-tempat pertambangan tradisional pun hanya dengan nilai terendah, sekitar 200 ribuan per gram. Coba bandingkan dengan harga emas 24 karat di toko-toko perhiasan anda! Sungguh sangat timpang, Kemudian sang narator memaparkan tentang dikotomi kehidupan golongan kaya yang membeli emas hanya untuk investasi atau gaya-gayaan/prestise. Apakah patut kita masih membanggakan emas sebagai investasi ketika melihat jatuh bangun kehidupan mereka?

Kisah kedua, yang saya lihat tentang para pencari batu alam di Gunung Batu, daerah Jawa Barat –lupa Cirebon atau Bogor. Disaat kita sibuk menghias tembok dan taman di rumah kita dengan batu alam yang indah. Disaat lain para pemburu batu alam harus naik turun gunung, jungkir balik bahkan harus menghindari runtuhan gunung yang longsor demi perjuangannya mengumpulkan batu alam. Hanya dihargai rendah perkilonya, rasanya tak setara dengan nilai ketika sampai di tangan kita. Itupun belum ditambah dengan resiko cacat tertimpa bongkahan batu alam. Tayangan ini langsung membatalkan niat saya untuk menghias rumah saya dengan batu alam.

Kisah ketiga, tayang minggu lalu (21/3/10) tentang pemburu berlian (intan). Hampir sama dengan nasib para pemburu emas, miris melihat nasib mereka yang mencari berlian demi sesuap nasi. Padahal selama ini berlian selalu disimbolkan sebagai cinta yang abadi. Lantas masih pantaskah kita bicara cinta jika melihat saudara kita yang tak beruntung itu, mencarinya namun tak bisa memiliki.

Dari beberapa episode yang sudah tayang, presepsi saya tentang Trans TV hanya berisikan acara sampah reality show dan sinetron agak terpatahkan. Paling tidak, dua acara ”Para Pemburu” dan ”John Pantau” telah memberikan pencerahan kepada kita yang hidup di alam teknologi informasi dan globalisasi ini agar tetap peduli pada lingkungan di sekitar kita.

30 Agustus 2009

Si Mata Satu Yang Laknat

Tampaknya aku sudah mulai jenuh pada segala yang bersifat kebohongan, hedonisme, dan pencitraan kultur baru. Saturasi ini dimulai ketika aku mulai resah (muak lebih tepatnya) pada kondisi tatanan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan di Indonesia.

Dan ternyata virus-virus ini kulihat menyebar dengan nyaman di publik, dan seperti tak ada anti virus yang beredar di pasaran. Hmm... entah apa aku yang kuper atau gimana, lha wong ternyata virus-virus ini kayaknya baik-baik saja. Virus ini menyebar melalui perantara yang hebat, dimana hampir setiap keluarga pasti memilikinya. Apakah itu? Ya... si mata satu itu bernama televisi.

Rupanya dia kini telah berubah menjadi laknat bagi kaum yang berilmu. Apa pasal? Semua tayangan itu hampir penuh mudhorot. Nyaris tak tersisa kebaikan, ada sih... itupun sangat jarang. Herannya kenapa masyarakat negeri ini -termasuk saya tentunya- sangat menggemari nonton TV?

Dulu saya kira hanya sinetron dan gosip artis yang kuanggap tontonan yang tak berguna makanya saya lantas mengabaikannya dan lebih memilih berita dan talk show. Namun akhir-akhir ini saya mulai muak dengan talk show yang gak jelas juntrungannya dan keberadaan berita-berita yang bicara seolah kepanjangan mulut sang penguasa. Belum lagi tontonan film asing yang banyak adegan buka-bukaan, seks bebas, one night stand, french kiss, hedonisme, dan lain-lain. Hal ini ’seolah’ mengajari orang-orang Indonesia berkepribadian selayaknya seperti itu.

Sekarang sinetron mana yang menurut anda baik? Dengan menampilkan tokoh yang mempunyai dikotomi sifat yang signifikan dimana yang baik kelihatan sangat baik dan pasti hidupnya menderita, sedangkan yang jahat terlihat jahat 100 persen dan pasti kaya. Selalu dihiasi bumbu percintaan yang penuh liku-liku sampai mbulet kayak benang kusut. Hah...! apa yang anda cari dari acara seperti ini, hanya sampah!!! Ada lagi sinetron yang katanya untuk totonan anak-anak, hahaha...... sinetron apa yang mengajari anak-anak kekerasan, seolah secara dini mengajari anak-anak bahwa segala penyelesaian masalah harus dilakukan dengan kekerasan. Kemudian ada lagi sinetron yang saya rasa timpang (gak jelas), yaitu sinetron yang mengatasnamakan agama/religi. Banyak sekali sinetron-sinetron tersebut yang sungguh tidak layak ditonton, katanya mengatasnamakan agama, ealah... kenapa nggak ada hadits atau ayat yang mau disampaikan ke pemirsa? Adegan-adegannya sungguh tidak layak ditiru, mengapa justru perbuatan buruk ya lebih ditonjolkan? Saya sampai bilang dalam hati, ”Niat nggak sih sutradaranya bikin sinetron islami?” Tapi dari sekian sinetron yang bobrok, saya masih apresiasi pada sinetron Para Pencari Tuhan. Ya... walaupun menurut saya masih kurang nilai-nilai yang hendak disampaikan dan masih terlalu banyak adegan lucunya. Tetapi Deddy Mizwar rupanya berhasil menyampaikan misinya kepada publik.

Lalu kita beralih ke gosip selebriti, hah...astaghfirullah sungguh saya tak habis pikir kenapa bangsa kita suka menggunjingkan kehidupan orang lain. Bukankah Allah sungguh melaknat orang-orang yang seperti ini? Saya juga merasa aneh, dengan menyorot kehidupan mereka seolah mempengaruhi hidup kita agar meniru mereka. Padahal banyak diantara ’selebitri’ kita itu tak bermoral, hedon, hidup bebas, dan pecandu narkoba. Halah... jamane wis edan! Ibuku dulu pernah bilang, ”Artis iku kan tandak kota, orang yang jadi tandak ya... orang yang jelas gak bener!” padahal itu beliau katakan 20 tahun lalu.

Zaman sekarang kita mesti pandai memilah-milah tayangan, baik untuk diri kita dan keluarga kita, jangan semuanya kita ikuti. Termasuk acara talk show, sayang masih banyak talk show yang jelas tidak mendidik seperti Bukan Empat Mata nya si Tukul, juga acara yang diasuh Budi Anduk dan Ari Untung serta acara sejenis lainnya yang banyak mengumbar aurat, hedon, tidak bermutu, dan tidak layak tonton. Acara apa itu? Gak mutu blas!!! Untung saja masih ada acara seperti Kick Andy dan bincang-bincang kesehatan yang menyelamatkan dunia talk show, ini nih acara yang sungguh layak ditonton. Meski pada beberapa episode kick Andy sedikit mengecewakan saya. Namun ini adalah acara yang jauh lebih bermutu, sumber inspirasi, sejajar dengan Golden Ways-nya Bapak Mario Teguh.

Saya juga kecewa dengan acara talk show Kabar Pagi di TVONE, apa pasal? Acara yang kerap mendatangkan bintang tamu dan narasumber itu selalu saya tonton namun kenapa harus ada bintang tamu Roy Martein si pecandu narkoba yang baru bebas dari penjara? Apa sih faedahnya kita mendengarkan cerita orang seperti dia? Dari semula itu tindakannya tidak benar! Coba kalau dia bukan artis apa masih ditanggap? Ini kok malah seperti mengagung-agungkan, seperti sebuah pengalaman yang menarik. Padahal kelakuannya dari awal itu kan sudah tidak benar! Bikin senewen saja.

Diantara acara-acara televisi banyak acara-acara non islami yang nyatanya banyak kaum muslim terlibat dan suka. Seperti ajang pencarian jodoh, Take Me Out dan acara serupa lainnya seperti Cinlok dan lain-lain. Katanya orang timur dan berbudaya
malu apalagi beragama Islam. Islam tak mengajarkan seperti itu dalam mencari pendamping hidup, ada cara lain yang lebih bermartabat dan berakhlaq.

Sebenarnya masih banyak yang perlu dibenahi, terutama kenapa acara musik begitu banyak, baik terutama siaran langsung, lalu diikuti banyolan-banyolan konyol yang tidak mendidik? Wah...wah sudah jadi Republik Dagelan negeri ini!!! Yang paling parah itu acara-acara yang berbau kemusyrikan, seperti The Master, Master Mentalist, Master Hipnotist, dan acara-acara sejenis lainnya. Mau dibawa kemana negeri ini? Jadi pemuja setan? Naudzubillah... Oya.. satu lagi, akhir-akhir ini saya sering menyaksikan penyiar berita sudah tampil membaca berita sejak jam 4.30 pagi padahal Subuh di Jakarta biasanya dimulai jam 4.35 ke atas. Lha kalau mereka (pembawa berita) beragama muslim, Subuhannya gimana, di qoshor? Yang bener saja Subuh kok di qoshor, atau pas iklan baru sholat? Halah saya kok ragu mereka melakukannya.

Intinya televisi telah menjadi momok yang disukai para pemujanya dan menakutkan bagi yang waspada. Semoga stasiun TV lebih bijak, dan lebih membela kepentingan beragama daripada sekedar menaikkan ratting demi mendapatkan iklan. Ya... semoga ada pencerahan bagi komisi penyiaran Indonesia (KPI) agar lebih tegas membuat peraturan tentang pertelevisian di Indonesia. Bukan cuma sebatas lembaga yang hanya sekedar ada namun tak nyata dan tak berbuat banyak dalam melindungi umat. Dimana hanya materi saja yang dikejar, bukan moralitas dan pendidikan. Kalau sudah seperti masih perlukah KPI di muka bumi Indonesia.  Namun KPI hanyalah salah satu instrumen filter, peran terpenting ada ditangan Pemerintah. Andai pemimpinnya amanah, seharusnya dia bisa lebih berperan dalam melindungi kehidupan rakyatnya.

10 Agustus 2009

Into The Wild

Mungkin aku sedikit telat mengetahui ada film yang bagus ini, baru awal bulan Juli 2009 kusaksikan film ini di HBO. Into The Wild adalah film yang sangat menarik, inspiratif, dan diadaptasi dari kisah nyata yang dijalani Christopher McCandless.

Ternyata mengadaptasi film dari sebuah kisah nyata adalah tantangan sulit nan rumit. Tebaran begitu banyak realitas saling menjalin membentuk kisah panjang dan komplek. Jika tak hati-hati pemampatan bisa berakhir pada film yang membingungkan. Namun Sean Penn sebagai Sutradara sekaligus Penulis Skenario, sukses membuat Into The Wild menjadi film petualangan yang sulit dilupakan. Bahkan tampil lebih memikat daripada buku berjudul sama karangan John Krakauer, yang menjadi dasar adaptasi.

Biografi pemuda bernama Christopher McCandless ini meraih bestseller sejak peluncuran tahun 1996. Butuh sekitar 10 tahun bagi Penn untuk mengangkatnya ke layar lebar, karena menunggu izin keluarga McCandless.

Film dimulai saat Chris (Emile Hirsch) sudah berada di liarnya alam bersalju Alaska, tujuan utama petualangannya. Langkah kaki Chris berakhir di depan sebuah bus rongsok yang terdampar di area terbuka di sela-sela kerimbunan hutan cemara. Setelah memeriksa dengan cermat, Chris pun memutuskan tinggal di bus tersebut dan dinamainya Magic Bus.

Lalu adegan berputar balik ke masa dua tahun sebelumnya,tahun 1990 saat wisuda kelulusan Chris dari Emory University di Atlanta. Kedua orangtua Chris (diperankan sangat baik oleh William Hurt dan Marcia Gay Harden) sebenarnya sudah punya rencana masa depan bagi anak pertama mereka. Salah satunya dengan membelikan Chris mobil baru dan tawaran pekerjaan.

Chris menolak semua rencana orangtuanya, lebih tepatnya ia muak dengan segala tatanan sosial kelas menengah yang menyelubungi kehidupannya sejak kecil. Chris memilih minggat. Tanpa kata pamit dan secarik surat ia meninggalkan rumahnya dan mulai berpetualang menjelajahi alam bebas di seantero Amerika Serikat.

Sebelum memulai pengembaraan, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya, US$ 24.000, ke lembaga sosial Oxfam. Ia juga menggunting semua kartu kredit dan membakar kartu identitas serta jaminan sosial. Alexander Supertramp menjadi identitas baru Chris selama berpetualang menuju wilayah barat Amerika.

Sepanjang jalan, Chris bertemu dan tinggal bersama beberapa orang yang kelak mengubah hidupnya. Ada pasangan hippie Jen (Catherine Keener) dan Rainey (Brian Dieker). Kemudian bertemu petani gandum dan jagung, Wayne (Vince Vaughn), hingga duda tua pengrajin kulit Ron Franz (Hal Holbrook). Pertemuan dengan mereka menunjukkan Chris pada sebuah kesadaran, dalam sebuah petualangan yang terpenting adalah perjalanan, bukan tempat yang dituju.

Pengambilan gambar film ini dilakukan langsung di lokasi asli yang pernah disinggahi Chris. Mulai Arizona, California, South Dacota, hingga Meksiko. Malah untuk Alaska, kru film sampai bolak-balik empat kali demi mendapat gambar sesuai dengan musim.

Tak mengherankan jika sajian pemandangan alam dalam Into The Wild tergolong spektakuler. Penn memilih pola pengambilan gambar laiknya film dokumenter dalam Discovery Channel atau National Geographic. Meski tanpa kemasan romantis, pemandangan seperti pegunungan batu, sungai, padang rumput, hamparan ladang gandum dan jagung, serta hutan belantara tampak begitu indah.

Sederet pujian mengalir dari para kritikus ke film berdurasi 2 jam 25 menit ini. Berbagai penghargaan untuk beragam kategori dari Sao Paulo International Film Festival, Satellite Awards, hingga National Board of Review Amerika pun disabet.

Lagu Guaranteed yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder dan music score Into The Wild masuk nominasi Golden Globe 2008 untuk kategori original song dan original score.

Sebagian pujian mengarah pada kematangan Penn saat menyajikan sosok Chris. Meski secara personal kagum pada petualangan Chris, Penn tak terjebak menokohkan Chris sebagai sosok pahlawan tanpa cela.

Chris tampil sebagai pemuda cerdas sekaligus naif. Pemuda yang marah pada tatanan sosial lalu nekat berpetualang tanpa perhitungan matang. Hanya demi mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan dalam kesendirian di alam bebas.

Pada akhirnya, penonton tak diarahkan untuk menyukai atau membenci Chris. Tak ada upaya menghakimi perilakunya. Saya pun tak yakin apakah menyukai sosok Chris. Namun yang pasti saya menaruh simpati padanya dan bisa mengerti mengapa Chris memilih nekat berpetualang.

Apalagi, di penghujung hayatnya yang singkat, akhirnya Chris menemukan makna hidup. Kalimat terakhir dalam jurnalnya adalah: “happiness only real when shared”. Kebahagiaan tiada berarti tanpa kehadiran orang lain untuk berbagi.