Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

19 Januari 2012

Kuliner Mudik: Pantura Jawa Timur

Jika melewati jalur lintasan ini selama mudik, ada beberapa tempat buat pencinta kuliner yang bisa disinggahi untuk mengisi perut. Yuk, intip disini!

Setelah lintasan yang cukup panjang, kota besar pertama yang kita singgahi di Jawa Timur adalah Tuban. Bila sudah kelaparan, dan agar tidak kesasar ke mana-mana, tempat yang paling mudah dicari adalah RM Pangestune, di jalan utama yang berhadapan dengan pantai (Jl. Semarang 1, seberang Hotel Purnama, 0356 411145. RM Pangestune menyajikan masakan Jawa Timur-an istimewa.

Tujuan lain adalah Masjid Agung Tuban. Di depan masjid ada banyak warung tenda dengan berbagai tawaran kuliner Jawa Timur yang layak dicoba. Karena Tuban adalah kota pantai dengan pelabuhan nelayan yang cukup besar, masakan seafood di Tuban sangat direkomendasikan. Masakan Tuban sangat kaya bumbu/rempah. Bahkan lebih berbumbu dibanding masakan Minang.

Salah satu masakan khasnya disebut becek, dimasak dengan sekitar 14 jenis bumbu/rempah, semacam gule yang sangat pedas. Ada sebuah warung sederhana dengan sajian becek mentok yang istimewa. Sayangnya, warung ini sulit ditemukan karena tempatnya sangat mblusuk-mblusuk di tengah kampung. Ada juga satu warung sederhana dengan hidangan utama kare rajungan super-pedas yang sangat populer (RM Manunggal, Jl. Manunggal Jaya, depan SMUN 3).

Rajungan adalah sejenis kepiting. Masakannya disebut rajungan balsem karena pedasnya menyengat seperti balsem. Ada-ada saja. Hehehe ...

Dari Tuban perjalanan akan membelok ke Selatan, melewati Babat (kota asal wingko babat, jajanan dari tepung ketan dan parutan kelapa), dan terus ke Lamongan. Anda mungkin akan terkejut bila melihat gapura Kota Lamongan yang menyebut kota itu itu sebagai Kota Tahu Campur. Lho, bukankah Lamongan lebih terkenal dengan soto ayamnya (misal: Soto Ayam Pak Sadi)?

Kenyataannya, Pemerintah Kota Lamongan sendiri secara resmi memilih tahu campur sebagai ikon Lamongan. Tahu campur adalah tahu goreng campur tauge, daun selada, dan mi berbumbu petis, disiram kuah yang mirip semur dengan daging tetelan sapi.

Untuk soto ayam Lamongan, silakan cicipi di RM Mandala (Jl. Panglima Sudirman 61). Kaldu ayamnya sungguh sangat intens dan gurih. Di sini juga tersedia tahu campur. Sekali tepuk dua lalat.

Kuliner khas Lamongan adalah nasi boran – juga disebut nasi boranan, yaitu nasi dengan lauk masakan rumahan sederhana – yang dijajakan di kaki lima di sekitar alun-alun, depan Stasiun KA Lamongan.

Selain itu, Lamongan juga dikenal dengan lontong kikil, yaitu gulai kental dari kikil sapi, dimakan dengan lontong. Bila ingin mencicipi lontong kikil yang paling mak nyuss, rekomendasi saya justru bukan di Lamongan, melainkan di Surabaya (Lontong Kikil Waru).

Akhirnya, kota terakhir sebelum masuk ke Surabaya adalah Gresik. Favorit saya adalah cangkrukan – nongkrong sambil kongkow minum kopi – di warung kopi Cak Wito di gang kecil samping Masjid Raya di alun-alun Gresik. Terinspirasi oleh warung kecil inilah saya menciptakan tagline untuk Kopitiam Oey milik saya: koffie-nja mantep, harganja djoedjoer.

Belum mampir ke Gresik kalau belum mencicipi masakan bandeng-nya. Yang paling populer adalah RM Bandeng Pak Elan I (Jl. Veteran 69, di seberang Kantor Pusat PT Semen Gresik). Rumah makan ini juga punya cabang di tempat lain. Tetapi, untuk saya, saya selalu singga ke warung Mbak Tipa di Kampung Lumpur (dekat Tempat Pelelangan Ikan Gresik). Masakan Mbak Tipa – khususnya bandeng kropok-nya, sungguh membuat saya selalu terkenang-kenang.

Anda juga bisa mampir untuk beli oleh-oleh otak-otak bandeng (bukan seperti otak-otak Jakarta atau Palembang, melainkan seperti sate bandeng Banten, yaitu bandeng utuh yang dikeluarkan tulang dan dagingnya, lalu diisi dengan daging bandeng yang sudah dilembutkan dengan berbagai bumbu, kemudian digoreng). Yang paling tekenal adalah buatan Ibu Muzzanah.

Cicipi juga keistimewaan nasi krawu khas Gresik yang banyak dijual oleh ibu-ibu dari Madura. Favorit saya adalah Nasi Krawu Mbuk Su (Jl. HOS Cokroaminoto I/32, 031 3972203). Ini adalah nasi putih dengan lauk krengsengan daging sapi (masakan khas Madura), dengan tiga macam srundeng, dan sambel trasi yang puedesnya nuendaaaang! Bila tidak sempat mencicipi di Gresik, di Surabaya pun banyak yang menjual nasi krawu ini. Misalnya, Nasi Krawu Bu Rida, Jl. Aditiawarman 102 (081 23015183), persis di depan Sutos (Surabaya Town Square).

Tentang Surabaya, dengan tawaran kuliner yang seperti "tidak ada matinya", sebaiknya Anda membeli beberapa buku panduan wisata kuliner yang sudah banyak diterbitkan. Setidaknya, daftar singkat berikut dapat dimanfaatkan sebagai panduan. Selamat mudik. Titi DJ – hati-hati di jalan.

Copas artikel: detikFood
Oleh:Bondan Winarno

19 September 2009

Es Siwalan

Selain legen atau tuak, ada jenis minuman lain yang sangat khas di daerah pantura Lamongan. Khas karena kebanyakan hanya bisa didapatkan di sekitar pantura. Di Jawa Timur, minuman khas ini jamak di jumpai di daerah Tuban, Gresik, dan tentu saja Lamongan. Orang sering menyebutnya es siwalan atau es ental. Karena memang bahan dasarnya berasal dari buah ental / siwalan.

Siwalan/ental masih satu famili dengan pohon palm, atau sejenis kelapa-kelapaan. Buahnya relatif lebih kecil dibanding kelapa. Bila sudah menua (matang) warna kulit luarnya berwarna coklat gelap kemerahan. Untuk mendapatkan ental/siwalan anda perlu membuang kulit luar, hingga tinggal menyisihkan kulit dalamnya yang tipis. Bentuk buah ental/siwalan lebih mirip nata de coco dengan tekstur kenyal nan lembut.

Es siwalan ini sendiri disajikan/terdiri dari buah siwalan yang diiris dadu kecil-kecil, kemudian diberi santan, gula aren (gula merah) secukupnya, dan terakhir diberi es batu.

Hmm... nikmat dan segar, rasanya mirip kolang kaling atau nata de coco. Sayangnya di Lamongan es ental ini hanya terdapat di daerah Paciran atau Brondong (pesisir utara lamongan). Segelas es ini mungkin bisa menawarkan dahaga anda setelah puas berkeliling Wisata Bahari Lamongan atau Gua Maharani

16 September 2009

Sego Boranan Lamongan

Kali ini saya mau membahas makanan paling khas di Lamongan, kota kelahiran saya. Sewaktu masih sekolah di Lamongan makanan ini menjadi menu wajib sarapanku, namun ketika kuliah di Surabaya hanya bisa kunikmati sarapan ini seminggu sekali, sekarang? Dalam tempo lima tahun terakhir, makanan ini yang hanya kurasakan beberapa kali ketika momen pulang kampung saja.

Makanan ini mungkin hanya anda jumpai di kota asalnya saja, yaitu makanan “Sego Boranan”. Selama ini orang luar daerah hanya kenal Lamongan sebagai asal Soto Ayam dan Tahu Campur, padahal makanan Lamongan yang terkenal adalah sego boranan. Makanan ini penyajiannya mirip sego sambel Suroboyo namun wadah dan bahan sambalnya yang membuat makanan ini khas dan sulit ditemukan di tempat lain.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, apa itu sego boranan?
Sego boranan yang komplit itu terdiri dari nasi putih (dulu memakai nasi jagung), disajikan dengan ragam lauk pauk, kemudian pletuk, empuk, urapan sayur, dan rempeyek kacang atau teri, dan tentunya balutan sambal kelapa nan pedas yang berwarna oranye, yang disajikan di atas pincukan daun pisang dan kertas.

Lauk pauknya sangat beragam, antara lain ada ayam goreng, udang, tempe, tahu, telur asin, telur ceplok, telur dadar digoreng dengan tepung, sate uretan (bakal calon telur), jerohan, ikan Bandeng, ikan Kuthuk, ikan Sili. Banyak sekali, jadi jangan bingung memilihnya namun lauk yang paling dicari adalah "ikan Sili". Harga lauk dengan ikan Sili ini lebih mahal dibandingkan dengan daging ayam.
Ikan Sili ini tak bisa ditemui setiap saat karena termasuk ikan musiman. Dulu, Ikan Sili ini lebih dikenal sebagai ikan hias. Bentuk ikan ini panjang seperti belut, tidak kentara mana bagian kepala atau ekornya. Durinya pun rapi berjajar hanya ada di bagian tengah. Jadi ketika anda mengunyah terasa tekstur yang enak dan tidak terganggu duri-durinya..

Pletuk, terbuat dari nasi yang dikeringkan atau kacang, lalu dibumbui dan digoreng. Namanya diambil dari bunyi ketika makanan ini dikunyah, ‘pletuk, pletuk’.

Empuk, ini dibuat dari tepung terigu yang dibumbui, dan digoreng sehingga mengembang. Konon nama ini sebenarnya berasal karena saking lembutnya hingga terasa empuk di mulut, oleh karena itu dinamakan empuk.

Sementara urapan sayur, dimasak dengan sambal urap berbahan bawang merah, bawang putih, garam, cabe merah, penyedap rasa, dan parutan kelapa. Cara memasaknya unik, bukannya dikukus atau dibiarkan mentah, tetapi dipanaskan dengan kreweng, semacam tanah liat bentuk persegi dan dibakar sehingga menghasilkan asap sehingga aromanya jadi sedap.

Sedangkan bahan sambal boran, terdiri dari lengkuas, jahe, terasi, jeruk purut, cabe rawit yang direbus, beras mentah yang direndam sebagai pengental, parutan kelapa, bawang merah, bawang putih, dan merica. Supaya rasanya mantap, ditambahkan gula dan garam. Lalu, semua bahan diblender jadi satu. Sambal kuah ini diguyurkan di atas nasi dan lauk.

Jangan harap bisa menemui sego boranan di restoran atau warung makan sebab masakan ini hanya dijajakan keliling kampung oleh ibu-ibu. Mereka berkeliling ke penjuru kota. Namun anda juga bisa menemui para penjual ini berjajar di sepanjang alun-alun kota baik di pagi ataupun malam hari dan di sepanjang Jl Basuki Rahmat (arah masuk kota, dari lampu merah alun-alun lalu belok kanan lalu dan lurus), juga bisa anda temui di depan BP Muhammadiyah lama, dan Pasar Lamong Raya. Belasan ibu-ibu duduk berjajar berjualan sego boranan dengan menggelar tikar disampingnya dengan tentu saja boran di sampingnya. Asyiknya, pembeli bisa lesehan atau jongkok sembari menikmati lezatnya sego boranan ini. Harga seporsi sego boranan Rp 5.000 meski di beberapa tempat ada juga yang dijual dengan harga Rp 3.000, tergantung lauk yang diambil.

Oya, nama sego boranan ini diambil dari wadah tempat menaruh nasi, yaitu terbuat dari boran atau keranjang yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Keempat sudutnya disangga bambu supaya tak menyentuh tanah langsung. Lauk ditempatkan di ember besar dan sambal di panci. Semuanya kemudian dimasukkan ke boran. Untuk mengedarkannya diusung/disunggi di punggung ibu-ibu dengan jarik gendong.

Jadi untuk anda yang penasaran dan memendam hasrat ingin menikmati nasi boranan rasanya harus datang ke kota Lamongan. Karena sego boranan ini hanya ada di Lamongan saja (sayangnya, setahu saya), tidak seperti soto ayam Lamongan yang sudah bertebaran di penjuru Indonesia dan mendunia.

Untuk kali ini sekian dulu saja membahas menu sego boranan Lamongan yang nikmat itu. Tapi pesona kuliner Lamongan tak berhenti sampaiu disini saja, masih banyak makanan yang nikmat di Lamongan antara lain Tahu Campur, Tahu Tek, Wingko Babad, Jumbreg, Es Siwalan, dan lain sebagainya. Di lain waktu mari kita cicipi makanan lainnya.