Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

02 September 2015

Pantai Melayu Lagi

Pantai Melayu, Batam
29 Agustus 2015
Quality Crew PT. Patlite Indonesia
Berikut saya share foto-foto kami

kamehameha

Out of Water



It's banana time

Byuuurrr!!!!

Last but not least

19 Februari 2012

CNY 2012: Trip to Singapore

Akhirnya keturutan juga ngajak keluarga jalan-jalan bareng ke Singapura. Walaupun terkesan mendadak, dan baru diusulkan istri, H-3. Sebenarnya yang bikin gamang ke sana itu, gara-gara mbayangin repotnya kalau bepergian dengan anak-anak. Tapi akhirnya ya gitu deh jalani aja.

Jadilah akhirnya sehari sebelum "Gong Ci Fa Cay", kami sekeluarga berangkat. Tepat pukul 8.30 WIB, fery Batamfast meninggalkan pelabuhan Batam Center menuju Harbour Front, Singapore. Sebenarnya sih aku baru 4 kali ke Singapore itu pun sorangan wae, paling banter sama temen-temen, malah sama ibunya anak-anak juga belum pernah. Masuk Singapore kita langsung dihadapkan pada pintu imigrasi, aku kebagian bawa si Echa, anak keduaku yang baru berumur 1.5 tahun sedangkan abangya yang belum genap 5 tahun ke imigrasi bareng mamanya. Yang ada di pikiran burukku saat itu, pasti si petugas imigrasi nuduh aku mau jual bayi alias trafficking. Apalagi urutannya ngadep si petugas imigrasi misah, aku kebagian si sipit sedang Ibu dan abangnya kebagian si item. (Hm...SARA banget nih.. jangan ditiru)
Gini kira-kira pertanyaannya, "What's your business in Singapore?"
Aku jawab, "Just trip and vacation with my family." Dalam hati nih orang usil banget pingin tau aja.
Lanjut, "How many days?"
Langsung kujawab,"Just one day, after that back to Batam."
"Only one day? Oya where's her mom?" Nih orang nggak percaya banget, kayaknya tampangku kriminal banget yoo.
"There are they, mom and my son." sambil kutunjuk ke arah ibunya. Dia lalu melihat ke arah istri dan anakku yang sudah nunggu.
"OK, enjoy the trip. Next please!" pungkasnya...

Lega deh..... setidaknya ini yang kedua aku mengalami momen ketidakpercayaan dari petugas imigrasi. Pada awal ke Singapore dulu, sempat aku ditanya hal yang sama, terus dengan siapa saya kesini (Singapura)? Akhirnya setelah kutunjukkan surat dinas baru percaya, memang sih saat itu tampang ndeso & gondrong, persis TKI hehehee... lha sekarang podho

Setelah lingak linguk, akhirnya kami memutuskan naik MRT saja, tujuan pertama kami ke Orchard Road. Semua serba auto dan seperti tidak memerlukan operator/petugas. Berhubung nggak punya uang dollar pecahan kecil ( kurang dari S$5) akhirnya nyamperin informasi untuk beli card saja, pikirku lebih hemat kalau mau kesini lagi. Lagian mau ambil peta kecil penunjuk informasi rute. Sebenarnya bisa saja aku mau naik taksi, cuma aku mau ngajarkan ke anakku untuk menikmati fasilitas publik layaknya MRT di Singapore. Biar besok kalau kuajak ke Jakarta atau Surabaya bisa bandingin, hehehe... Yang bikin seneng suasana naik MRT itu, fasilitas. Selain Full AC, display LCD penunjuk stasiun berikutnya jelas dan perkiraan kedatangannya tepat. Terus di kursi itu kan ada tulisan 'Reserved'. Tahu artinya reserve kan, yup cadangan, anda benar! Artinya pilihan utamanya ya berdiri, kursi ini hanya dikhususkan dipakai wanita hamil, ibu yang membawa anak kecil, orang cacat, dan manula. Yang membuatku salut dan respek pada orang Singapore, rupanya mereka lebih peduli ketika di dekat mereka ada 4 kategori di atas yang tidak kebagian kursi. Buru-buru mereka langsung berebut menawarkan kursi pada istri dan anakku. Hmm... ini lho yang dinamakan sopan santun, unggah ungguh, dan tepo seliro.

Hmm... andai Indonesia punya fasilitas publik seperti ini, ketepatan waktu, nyaman, bersih, sifat santun, dan lancar tanpa calo. Kemudian melihat infrastruktur yang mendukung ekskalator bagus dengan kecepatan tinggi, subway yang terhubung antar koridor dan plaza. Hmm.... mbatin

Kemudian jalan-jalan di Orchard, hehehe... banyak cewek mirip ngartis, dandan seksi, terkesan vulgar. Tapi ketika nguping ternyata beberapa berlogat Jawa, hehe mungkin para TKW. Oohh maklum hari Minggu mungkin lagi libur, boleh jalan-jalan.

Jalan jalan ditengah kota baik di Orchard, Bugis Junction, atau lainnya nampaknya sangat mengasyikkan untuk jalan di pedestrian, selain semua pada jalan, baik bule, dan turis lokal, asia dll. Memang negara ini menawarkan suasana pesona keindahan landscape kota modern. Anehnya walau geografis Batam dan Singapore sangat dekat, tapi di Singapore ini sangat enjoy untuk jalan-jalan. Cuaca terkesan lebih dingin, padahal harusnya sama panasnya dengan Batam? Tanya Kenapa? Disamping gedungnya tinggi-tinggi di sepanjang jalan (pedestrian) banyak pohon yang tumbuh yang membuat suasana asri. Lagi lagi mbatin dalam hati kapan Batam minimal bisa kayak gini.

Yang bikin salut adalah kewibawaan Pemerintahnya. Mereka buat aturan dan semua warga ataupun pendatang, dan turis bisa menaati dan mengikuti. Tahu sendiri dendanya, pasti keder! Selain aturan ERP di jalanan tertentu, untuk membatasi jumlah mobil pribadi yang berlalu lalang. Pajak kendaraan juga sangat tinggi, ditambah lagi harga BBM juga tinggi. Jadi seperti orang yang super kaya lah yang bisa punya mobil dan berjalan-jalan keliling kota.

Selain itu, di tempat taman dan lokasi yang strategis pasti banyak petugas kebersihan yang naik sepeda angin roda tiga, dimana dibelakangnya ada kantong besar sampah yang dikumpulkan dari masing-masing tong-tong sampah yang sudah dipilah-pilah, antara lain: sampah plastik, sampah kaleng, dan sampah basah (seingatku). Dan mereka ada banyak dan sering patroli, mungkin kalau hari-hari kerja tak sebanyak saat ini. Merokok pun tak bisa sembarangan, jangan harap ketemu rokok di ruang publik. Merokok ya mesti parkir (berhenti) di tong sampah yang ada puntungnya, gak bisa sambil jalan seperti kereta api.

Yang membuat saya heran, betapa banyak mall dan pertokoan. Dan itupun laris, pasti laku! pembelinya ya selain turis mancanegara, para pendatang, serta Turis kere macam kami. Karena negara ini sangat pesat industri wisatanya, apalagi Singapore adalah pusat transit untuk Asia (The Gate of Asia). Sehingga sepertinya kalau jualan asal ditaruh di Singapore pasti laku! Hehehe.... padahal mungkin banyak yang buatan Indonesia yang harganya kalau di Indonesia jelas lebih murah. Beda banget situasinya dengan keadaan di Indonesia. Secara geografis lebih luas namun secara ekonomi kalah kelas. Ada pameo sih, kalau Singapore bisa kayak gitu karena negaranya kecil, jadi lebih terkonsentrasi dan mudah diatur. Tapi saya rasa itu nggak sepenuhnya benar. Mereka bisa karena punya komitmen untuk mewujudkan cita-cita selain itu didukung dan dituntut oleh aparat pemerintahan yang jujur, bertauladan, dan berkualitas.

Tapi segala sesuatunya pasti ada kurang dan lebihnya. Negara ini memang sangat tergantung pada energi. Indonesia pun banyak ekspor gas ke sana, padahal Batam dan Kepulauan Riau sekitar kadang masih byar pet. Ya.. Kalau dipikir-pikir negara Singapore ini pasti banyak makai listrik. Segala sesuatu mulai basement pakai AC lampu dan ekskalator dimana-mana. gak bisa bayangin berapa energi yang dibutuhkan. Aku pernah terbang malam naik Jetstar dari Juanda ke Changi. Aku bernah berpikir hanya Surabaya atau Jakarta lah City of Light. Tapi salah! Rupanya di Singapore sangat terang benderang, Marina Bay dikelilingi lampu nan elok dan indah. Lalu si Merlion dan Air mancur menari di Bugis Junction, kenapa mesti buang-buang air, tapi untuk fasum toilet di mall dan gedung-gedung lainnya, kalau abis BAB bersihinnya mesti pake tisu. No water hahaha... kalau bagiku ya seperti gak cebok heheheh...

Ya begitulah setelah lepas Maghrib kami pulang ke Batam lagi, dah... puas belanja jalan-jalan. Lain kali mungkin bisa lebih lama disana....


02 Desember 2009

Hmm... Asyiknya Naik Lion Air 737-900ER

Beberapa waktu lalu, aku pernah komentar yang negatif soal maskapai Lion Air. Namun beberapa hari yang lalu, saya merasakan sesuatu yang lebih baik dan jauh berbeda pada maskapai ini.

Lion Air rupanya telah melakukan perubahan dengan mendatangkan pesawat boeing yang ’terbaru’ di kelas penerbangan domestik. Tampil dengan beberapa pesawat Boeing 737-900 ER, Lion Air tampak paling gagah di Indonesia. Bayangan saya sebelum terbang bersama Lion Air saya sudah under estimate, pasti saya akan naik pesawat MD lagi. Tapi ternyata Lion Air penerbangan Batam – Surabaya kali ini, saya disuguhi pesawat yang menakjubkan Boeing 737-900 ER. Nggak fair rasanya, kalau nggak memujinya.

Selama ini penerbangan domestik yang pernah saya pernah jalani saya hanya menemukan Garuda Indonesia yang terdepan, dengan Boeing 737-800 NG dan Mandala Air dengan pesawat jenis Airbus A320. Namun entah kenapa beberapa minggu ini kok nggak ada lagi penerbangan Mandala rute Batam – Surabaya.

Boeing 737-900 ER pesawat dengan kursi kulit yang bagus enak dan yang jelas lebih lapang dari MD. Sensasi terbang pun tampak menyenangkan, perasaan takut saat take off dengan MD sudah nggak ada lagi, bahkan getaran dalam pesawat sangat minim kurasakan. Hmm... ini baru pesawat top!

Kalau begini, aku pasti menjadikan Lion Air sebagai prioritas pertama maskapai nasional yang kugunakan, selain Garuda Indonesia tentunya.

Beda Jadi Gelandangan di Juanda dan Changi

Pernah lihat film The Terminal? Kayaknya aku serasa lagi syuting film tersebut. Gara-gara delay penerbangan, aku harus terlantar 3,5 jam di Juanda itu belum termasuk ditambahkan satu jam lagi kedatangan awal. Hmm... maka total 4.5 jam aku harus menunggu disana, mulai jam 2 siang sampai jam setengah tujuh malam. Gila, selama itu aku ngapain enaknya di Juanda?

Mula-mula sih aku merasa santai aja dengan kondisi seperti ini. Kupikir karena aku berada di Bandara International, orang awam seperti aku akan mengartikannya seharusnya bandara ini mempunyai taraf dan standard International.

Tapi aku sungguh kecewa, karena praktis setelah melalui pengecekan fiskal dan dokumen imigrasi, seratus persen aku menjadi gelandangan di sana. Mau masuk lobi ruang tunggu nggak bisa karena belum waktunya, jadinya harus nunggu di area yang menghubungkan keberangkatan dan kedatangan International?

Memang ada tempat duduknya, namun sepanjang mata memandang hanya ada satu rombong gerobak penjual oleh-oleh panganan dan minuman.

HP low bat lagi ngapain lagi membunuh waktu yang 3 jam itu? Bisa jamuran nih. Memang sih ini kesalahan maskapai yang membuatku harus menunggu walaupun ujung-ujungnya juga ngasih kompensasi makanan tapi kayaknya itu belum cukup.

Aku pernah sekali bawa laptop ke Juanda nyalain wifi, terlihat beberapa sinyal, kirain bisa internetan, hmm...payah satu sinyal pun nggak ada yang bisa. Alhamdulillah, setelah 3 jam nunggu ddi luar akhirnya bisa masuk ke lobi, saat nge-charge HP, nonton TV, dan makan. Eit, toilet dimana? Ya... ada diluar? Harus keluar lagi dan antri lagi melewati ruang pemeriksaan, yang benar saja! Lantas aku jadi panik sendiri mau ngapain ya di Singapore sambil nunggu pagi, karena last ferry ke Batam sudah telat jika aku tiba jam 10 waktu Singapore?

Akhirnya tepat jam 7 aku meninggalkan kepenatan di Bandara International Juanda yang menurutku nggak international banget standarnya.

Yup, bener dugaanku aku nyampai jam 10 malam waktu singapore (lebih cepat satu jam dari WIB atau setara WITA). Hmm...aku sempat panik setelah turun dari pesawat, selain tampangku lebih mirip TKI daripada turis. Setelah berjalan beberapa saat, ya... aku serasa terpesona bo! gak nyangka banget ada bandara sekeren Changi ini. Yang kulihat pertama, eskalator (tangga berjalan) ini menggunakan sistem standby, artinya kalau sensor didepan mendeteksi ada orang yang mau menggunakan, otomatis dia jalan kalau nggak, ya normalnya diam saja.

Kemudian pandanganku tertuju pada sekelompok bule yang pada klesetan di lantai koridor. Kok nyaman aja kayaknya, jelas apa lantai ini terlapisi karpet atau gimana ya? Yang jelas besih dan nyaman, beberapa petugas berseliweran naik otopet listrik (segway). Lalu pandangan mataku tertuju pada sekelompok orang yang berdiri menggunakan komputer, eh... ternyata free internet, sayangnya komputer sudah penuh harus nunggu. Kulihat beberapa bilik meja dan dilengkapi kursi sudah dilengkapi networking port dan stop kontak masing-masing. Andai bawa laptop setidaknya aku bisa duduk, nyalain wifi, dan ngenet sepuasnya, kayak cerita temanku yang barusan kesini seminggu yang lalu.

Tapi disini, menunggu itu tidak menjemukan. Ada beberapa kursi yang bentuknya mirip kursi malas yang lazim ditemui di pantai. Tapi ini lebih berfungsi untuk beristirahat. Akhirnya aku bisa rebahan juga, menyelonjorkan kaki dan melepas sepatu, hmm... ini baru nyantai. Ya... berhubung waktu sudah tidak memungkinkan akhirnya kuputusin untuk bermalam di Changi saja, nggak tahu apakah ntar aku diusir atau nggak? Setelah lowong pengguna free internet, aku lalu mencobanya akses disini cepat wuzz...wuzz dan yang pakai nggak bakal kecewa, namun pihak bandara rupnya mendesain agar tiap 15 menit komputer ini log off sendiri. Rupanya agar kita tidak memonopoli fasilitas publik ini dan bergiliran dengan orang lain yang membutuhkannya. Hmm.. ntar kalau nggak ada orang aku mau internetann sampai pagi. Kalau merasa haus tinggal cari kran air minum disebelah, pencet tombolnya, buka mulut, maka rasa haus pun terobati. Toilet pun nggak jauh dari tempatku berdiri tadi, sudah dilengkapi pula bagi penyandang cacat.

Puas internetan, setengah dua pagi akhirnya aku tertidur di kursi rebah tersebut sampai pagi bersama beberapa bule di sebelahku. Aku bahkan tidak merasa jadi gelandangan, malah serasa menikmati tidur di hotel mewah, karena bising suara pesawat ternyata nyaris tak terdengar di tempatku tidur. Hmm.... nyaman dan tenang.

Andai juanda seperti ini? Sebagai bandara international seharusnya memanjakan pengunjungnya dan membuat senang perasaan calon penumpang. Hendaknya ya diberikan fasilitas yang memadai. Mungkin aku sih maklum, tapi turis mancanegara? Hendaknya kita memberikan kesan dan pelayanan yangg bagus. Hmm... katanya Visit Indonesia Year? Ya... mana ada turis mau datang lagi dua kali kalau fasilitas penyambutannya saja berantakan. Please deh.....