Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

25 Februari 2011

Mencoba Memilih Jalan Lain di Hidupmu

Why… must do this, if you don’t like it?
Why… hurt your heart everyday?
Is this real your way? Are you sure? What’s your dream?


Setidaknya itulah kata-kata yang terngiang-ngiang di telingaku? Akibatnya kepala nih rasanya pening memikirkan jawaban-jawaban semua di atas. Karena pada dasarnya semuanya berkaitan dengan satu hal, yaitu ujung-ujungnya duit. Dimana semua bisa terlaksana kalau kita sudah masuk ke dalam golongan non finansial problem. Golongan yang menduduki strata puncak di kamus dunia ekonomi.

Status akhirnya kembali menjadi joni, berharap ini cuma pijakan sementara sebelum comeback to my dream, again. Mimpi yang telah terenggut lagi karena financial problem. Haruskah menjadi dunia seperti menjadi penjara seumur hidupku? Melakukan pekerjaan yang sebenarnya kurang sreg di hati?

Pada dasarnya mimpi semua orang itu semuanya sama kebahagiaan, Cuma parameternya berbeda-beda tergantung posisi sesorang saat bermimpi ataupun tingkat fantasi kita. Secara normal manusia itu pingin bebas, lepas melakukan kegiatan yang apa kita sukai dan kita senangi dan free as a bird! Masalahnya kita tidak seperti burung, (hampir) tidak ada barang di dunia untuk dan dari manusia yang gratis. Sejak prinsip ekonomi masuk, sorry no free stuff!

Pas melamun eh kepikiran ternyata jadi manusia itu susah, apalagi hati kita tak pernah merasa puas. Dulu waktu masih fresh graduate kepingin cepet-cepet dapat kerja yang bagus. Sudah dapat kerja bagus pingin menjadi karyawan tetap. Lalu sudah karyawan tetap masih pingin punya karir yang cemerlang dan bagus. Lalu sudah diposisi (hampir) puncak pingin di PHK biar dapat pesangon banyak karena mau buka usaha sendiri. Eh sudah buka usaha, belajar mandiri biar gak gantungin gaji dan pesuruh orang lain. Lalu tiba-tiba bisnis yang sudah dirintis gagal, akhirnya ….. kembali lagi menjadi joni.

Hehehe…. lalu teringat lagi lagunya d’Masiv, Jangan Menyerah!

”Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik...”

Bagaimanapun juga, hidup adalah perjuangan, selama jantung masih berdetak... mimpi-mimpi itu masih menunggu untuk diwujudkan.
Try and learn, try again until you reach peak performance

22 Februari 2011

Hi I'm Still A Live

Tak terasa sudah lama blog ini tak terjamah tangan usilku lagi. Faktor utama bukanlah padatnya kesibukan melainkan tersitanya perhatian pada hal lain. Salah satunya kehadiran puteriku, anak keduaku yang lucu. Jadi tak kubiarkan kesempatan bersama malaikat-malaikat kecilku berlalu dalam ketukan jari di keyboard. Apalagi profesi joni melekat lagi sekarang setelah bebas dari julukan ini selama hampir setahun. Jadi lengkap sudah ketidakeksisanku di tanah blogger.

Hanya sekali dua kali update status di facebook, lalu nongol hampir tiap malam di multiplayer game online di http://games.co.id. Ini kulakukan kalo si malaikat malaikat-malaikat kecilku dah pada bobok. Gak papa deh walau sesekali, yang penting telah kucoba untuk eksis lagi di dunia maya. Tapi terus terang ini bukan masuk kategori butuh (wajib) namun sebatas kadang-kadang.

Jadi, ya just flow aja.....

07 November 2010

Trouble is a Friend

Indonesia adalah negeri yang indah dan subur ini dengan segala keeelokan pesona alam dan budayanya. Namun di negeri ini tersimpan pula misteri dari alam Indonesia yang jarang kita ketahui. Apalagi zaman telah berkembang dengan pesatnya, kebutuhan hidup manusia telah menggeser segalanya. Seakan-akan hanya kitalah (umat manusia) yang berhak menentukan apa yang hendak kita perbuat dengan bumi ini. Bahkan kita telah melupakan naluri alam untuk menentukan iramanya sendiri, menentukan apa yang alam butuhkan ini.

Mungkin saja kita telah melupakan kearifan lokal sebagai bangsa Indonesia. Negeri yang punya paling banyak gunung berapi, paling banyak pulau, dan cakupan hutan yang luas. Seharusnyalah kita memiliki perlakuan dan sikap tertentu pada wilayah yang kita diami. Yang jelas, secara alami negeri ini punya waktu periodik untuk dilanda letusan gunung berapi, tsunami, gempa, banjir, longsor, dan kebakaran hutan. Adakalanya yang sedini mungkin bisa kita cegah seperti kebakaran hutan, banjir, maupun tanah longsor. Namun selebihnya kita hanya bisa bersahabat dengan alam dan mengandalkan kepekaan kita terhadap alam sekitar. Tak perlu jauh-jauh, misalnya kita yang hidup di daerah pegunungan pastilah memiliki tradisi atau kearifan yang unik, paham kapan gunung akan berbahaya ataupun tidak. Begitupula kita yang hidup didaerah pantai tentu paham bahwa tsunami, badai, atau angin topan juga senantiasa mengancam keselamatan kita.

Ya ... setidaknya dimanapun kita berada bahaya itu pasti ada dan selalu mengancam, entah bagaimana caranya. Baru-baru ini bahkan di saat daerah lain pada terkena bencana alam, eh malah di daerah saya di Batam ini, tertimpa kejatuhan puing-puing bagian mesin pesawat asing. Lha iya kan! Bencana itu bisa datang kapan saja dan siapa saja bisa terkena.

kita mesti eling dan waspada, artinya kita harus ingat dan memperhatikan alam sekitar kita. Janganlah terlalu berlebihan merusak alam, gunakan sebijak mungkin, jangan seolah-seolah sok bahwa kita adalah makhluk yang perkasa. Padahal sesungguhnya kita tak pernah berdaya melawan alam, mother nature. Hidup berdampingan dengan ancaman bencana adalah bagian dari kehidupan di Indonesia.

29 Oktober 2010

Dua Pemuda Afsel Berhaji Naik Sepeda

MAKKAH–Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.

“Mengayuh sepeda ke Kerajaan dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami melakukan perjalanan dengan cara ini sehingga kita siap untuk menjalani kerasnya ibadah haji,” kata Cairncross, yang berprofesi sebagai perencana kota, sepeti dikutip arabnews.com.

Di Cape Town mereka kuliah hukum Islam di sebuah universitas. Cairncross hobi berselancar angin, Haron hobi kickboxing dan mendaki gunung. Cairncross kemudian kursus perencanaan kota yang kemudian mengantarnya kepada dunia kerja. Mereka mengaku bahagia begitu tiba di perbatasan Arab.

Mereka memulai perjalanan pada 7 Februari 2010. Ini adalah perjalanan haji pertama mereka. “Kami bisa naik pesawat, tapi kami menghargai perjalanan yang berbeda. Jadi kami memilih menggunakan sepeda kami. Bersepeda adalah kegiatan yang paling kami sukai,” kata Cairncross.

Senja tiba, mereka akan mencari masjid atau memasang untuk beristirahat. Selepas Subuh, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan, Selama perjalanan,eka menemukan orang-orang yang ramah dan menyambut baik mereka. Orang-orang salut atas perjalanan haji mereka. Tawaran makan pun berdatangan selama di perjalanan

Mereka membawa bekal yang minim. Tawaran bantuan uang pun berdatangan kepada mereka. Di perbatasan Arab, petugas keamanan juga menyambut ramah dua jamaah yang harus pula turun naik pegunungan dengan mengayuh sepeda. Melewati sembilan negara selama sembilan bulan, mereka sering mengganti ban dan memperbaiki rantai sepeda.

Masalah bahasa sedikit menjadi kendala dalam perjalanan mereka. Tapi, mereka bisa mengatasinya. Selesai berhaji, mereka akan pulang melalui Afrika Barat. mch/Riyanto

28 Oktober 2010

Tuhan Mengirimkan Pesannya Lagi Untuk Bangsa Indonesia

Letusan Merapi, Oktober 2010
Belum tuntas penanganan dan pemulihan bencana di Wasior, Papua Barat. Ternyata Allah mengirimkan pesannya lagi untuk kita dihari yang hampir bersamaan. Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan letusan Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Mungkin ini adalah cara Tuhan berbicara kepada kita pada bangsa Indonesia agar saling menyayangi dan merasakan kesatuan sebagai bangsa. Bencana Wasior bukan milik Papua Barat saja, tapi semua bangsa Indonesia harus merasa prihatin dan saling bahu membahu membantu. Begitu pula dengan bencana yang kini sekaligus melanda pulau Jawa dan Sumatera. Ini bukanlah bencana personal, dimana kita yang sekarang tak terkena musibah hanya berucap alhamdulillah bukan ditempat kita, atau malah berkata tsunami, gunung meletus, gak ngefek tuh di sini. Atau malah berkata makanya kalau tinggal jangan di gunung atau di pulau pulau yang rawan tsunami!

Tsunami Mentawai, Oktober 2010
Bagaimana bisa anda sebagai manusia apalagi berbangsa Indonesia berkata sedemikian keji itu? Bagaimanapun duka dan bencana itu adalah rahasia Tuhan, dimana saja kita berada, andaikan mau Allah pasti bisa menurunkan cobaan untuk kita. Tak terkecuali dengan tempat tinggal kami (Kepulauan Riau) dan pulau Kalimantan yang secara teori aman dari gempa karena tak berada pada patahan bumi. Bisa saja bencana lain seperti puting beliung, banjir, atau kelaparan yang malah datang, who knows?
Jadi masihkah kita sebagai bangsa masih menganggap bencana itu hanya derita warga sekitar dan tanggung jawab Pemerintah saja?

Merapi telah mencuri lebih dari 20-an nyawa dan belasan korban luka bakar dan gangguan ISPA serta puluhan ribu warga terpaksa mengungsi di pengungsian. Belum lagi harta benda dan rumah yang rusak serta 300-an ternak sapi menjadi korban. 


Begitupula dengan pulau pulau kecil di sekitar kepulauan Mentawai yang telah merenggut lebih dari 300-an nyawa serta ratusan orang masih dinyatakan hilang. Belum lagi pemulihan pemukiman yang porak poranda.
Apalagi faktor jarak dan cuca untuk menjadi kendala tersendiri untuk secepatnya menyalurkan bantuan dan pemulihan. 
Bagaimanapun juga kita tak bisa memilah milah bencana, namun aksi dan tindakan yang responsif yang diperlukan dari kita. Kalaupun kita tak bisa turun sebagai relawan atau menyalurkan bantuan ke tempat bencana, masih banyak LSM dan media lain yang bisa dipercaya untuk membantu mereka, saudara saudara kita yang bernasib kurang mujur itu.
Seperti dibawah ini:
Salurkan peduli anda melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT):
Rekening Peduli Merapi: BCA No. 676 030 3133, Mandiri No. 128 000 4723 620, BNI Syariah No. 009 611 0239 a/n Aksi Cepat Tanggap.

Rekening Peduli Mentawai: BCA No. 676 030 2021, Mandiri No. 101 000 563 4264, BSM No. 101 000 5557 a/n Aksi Cepat Tanggap.

Jadi masih pantaskah kita berdiam diri?

31 Agustus 2010

Ternyata Domain ramawijaya.co.cc sudah expired?


Wah, baru tahu ternyata expired juga nihh domain, iya ding sudah setahunan lebih. Ya udah akhirnya celingukan dulu buat nge-aktifin lagi tuh domain gratis lagi. Dan ternyata mudah banget.
Langkah-langkahnya:
1.Klik saja renew, anda langsung dibawa ke www.co.cc
2.Kemudian klik Domain settings
3.Anda lalu disuruh mengisi alamat email anda dan passwordnya serta keyword
   Ketikkanlah sesuai email yang anda daftarkan saat itu.

4.Lantas klik sign in dan anda langsung dibawa ke jendela di bawah ini:

Pilih saja personal kalau anda tetap ingin gratisan, lalu continue dan selesai dah…
Lantas coba lagi reload domain cc anda.

Menanti Pujaan Hati

Rasanya telah tak sabar kumenanti kedatangannya, buah hati yang kedua. Ingin kumengetahui seperti apa wajah yang setiap bulan hanya bisa kuamati samar-samar di layar USG. Hah... rasanya tak sabar dia cepat besar dan melihatnya berantem sama kakaknya Parsa.

Semoga, ibunya diberikan kelancaran melahirkannya, selamat keduanya dan sehat! Ya Allah lindungilah mereka, Amin!!!

10 Juni 2010

Hello World, Gue masih hidup

Sudah dua bulanan gak online ngeblog, jarang FB-an, atau eksis di milis, dan nampang di muka temen eks sekerjaan.

Ya.. dua bulan ini gue lebih memilih menjadi pengangguran murni, hehehe... Ya gimana lagi sudah 5 tahun kerja dan hampir tiap hari pulang malem rasanya gue butuh waktu untuk menikmati hasil kerja gue dan bersama si junior.


Apalagi si mamanya junior ngajak bikin rombak abis nih rumah, ya... buat persiapan si junior kedua lahir ntar, biar luas dan gue sama junior 1 bisa ngungsi ke atas kalo spring bed queen ini full dengan boboknya mama dan junior 2 kelak.

So... sambil jadi mandor, gue main-main sama nih bocah, sampe lupa ternyata dah 2 bulan gue cerai sama PSECB. Lama-lama nganggur, rupanya gue mulai capek. Ya... saatnya mulai gerilya lagi.

Hehehe... tak masalah, insya Allah seminggu dua minggu kelar memporak porandakan rumah jadi istana mungil buat mamanya anak-anak yang tercinta dan meraka para buah hatiku.