Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

20 Desember 2009

Di Periode kedua Pemerintahannya, SBY makin menunjukkan kelucuannya

2009-2014 adalah periode kedua SBY memerintah RI ini, kali ini dia berpasangan dengan Boediono. Sayang, belum genap 100 hari duet kepimimpinan ini telah diguncang banyak prahara tentang korupsi.

Mulai dari skandal kriminalisasi KPK hingga Century Gate. Sayangnya langkah-langkah yang diambil Presiden untuk menyikapi kedua permasalahan ini jauh dari koridor hukum yang berlaku.

Publik tentu ingat bagaimana Presiden menyuruh seolah meniadakan/mem-peti es-kan masalah kriminalasisi Bibit dan Chandra yang notabene Ketua KPK. Setelahh sempat ditahan oleh Polri dengan tuduhan yang kurang teruji kelayakannya (istilahnya cuma fakta semu, dengan tuduhan yang kurang berdasar dari Anggodo)-sudah dibatalkan Ari Muladi. Benar, kami senang akhirnya Bibit dan Chandra di bebaskan, tapi masalah itu belum tuntas. Kalau memang mau diselidiki, selidiki saja sekalian Kepolisian dengan kabareskrim dan Kejaksaan. Seolah-olah tindakan Presiden ini cuma menyelamatkan muka Pemerintahannya saja, dan melanggar koridor yang berlaku dengan mencabut perkara yang sudah P21. Sebenarnya saya setuju dengan Pak Eggy Sujana, saya kawatir hal ini akan jadi kebiasaan Bos besar RI 2009-2014 itu.

Dan kali ini Century Gate telah merembet ke jajaran Pemerintahannya yang tersangkut, yakni Boediono dan Sri Mulyani. Setelah dibentuk Pansus Century Gate, tampaknya Presiden mulai gerah lagi. Terbukti himbauan agar Boediono dan Sri Mulyani non aktif dulu disikapi dengan sedikit emosional menurut saya, pada konferensi pers yang digelar disela-sela konferensi di Kopenhagen, Denmark. Seolah-olah Pansus ini mengganggu Pemerintahannya saja dan ingin reputasi 100 hari program kerjanya tak berjalan. Hhehe.. lha kok malah nyarikambingg hitam kalau Pemerintahannya gagal dalam 100 hari ini, karena direcoki berbagai pihak. Ini lak yo persis anakku yang masih Balita, mau main sendirian aja anak lain gak boleh ngganggu mainan barunya. Habis itu kalau merasa ditekan di DPR atau politikus lainnya, meniba-iba di depan publik, menangis lagi wah.. wah....lucu... gemesin dan pingin njewer!!!

Hmm... entah apalagi yang bakal diperbuatnya nanti. Saya sih cuma berharap agar Presiden bisa menegakkan hukum dan Pemerintahan ini dengan benar. Kami rakyat kecil hanya bisa mengawal dan mengingatkan agar negara ini tidak terjerumus menjadi negara satu golongan saja. Kita semua berharap Indonesia menjadi rumah yang sejuk bagi masyarakat yang cinta keadilan dan berdiri di atas hukum.

15 Desember 2009

Dunia Peradilan Tanpa Orang Hukum

Sebelum saya membahas lebih jauh tulisan ini saya mohon maaf jika ternyata ada pihak-pihak yang tersinggung dan merasa keberatan atas artikel ini. Ini hanyalah konsep menurut presepsi dan pandangan saya. Saya tahu, tidak semua orang seperti yang saya maksudkan. Kalau orang barat bilang, ”Don’t judge by the cover!”

Selama hidup saya ini, dunia peradilan di Indonesia ini bermasalah, artinya tidak semua orang mendapat perlakuan yang sama di mata hukum. Hukum di negara tercinta ini sangat relatif tergantung jauh dekatnya dengan kekuasaan, uang, dan jabatan. Jadi kalau anda masyarakat tidak berada di ’jalur yang tepat’ maka jangan harap anda mendapatkan keadilan di sini.

Perangkat pengadilan yang terdiri dari Hakim, Jaksa, Pembela seolah hanya menjadi lawakan di panggung keadilan. Apa yang salah sebenarnya? Kenapa terjadi banyak persepsi bagi hukum? Bukankah hukum pasti ada dasarnya yaitu Undang-Undang? Lantas kenapa harus dibikin masalah sepele menjadi rumit. Kalau sudah jelas salah ya salahkan, tidak perlu mencoba mencari pembelaan yang mengaburkan fakta. Tapi.... faktanya terjadi demikian dan berulang, sampai-sampai saya merasa bosan dan malu menjadi warga negara Indonesia.


Ganti Saja Sarjana Hukum Dengan Para Teknokrat
Aku lantas berandai-andai, sebenarnya apa sih membuat terjadi ’kekacauan’ hukum di Indonesia ini. Yang benar bisa jadi salah, sedang yang salah gak mau disalahkan? Hufh..!!! Apa karena landasan undang-undangnya yang tidak kuat? Apa tidak semua orang hukum mengeri undang-undang, hingga harus mbulet berputar-putar. Dan akhirnya yang dicari bukanlah menghukum yang berbuat salah, tapi mencari kemenangan. Wah repot kalau gini? Memangnya hukum itu untuk dimenangkan?


Susah memang, kadang aku malah berpikir sebenarnya konsep membuat lembaga hukum yang bernama pengadilan itu apa sih? Apa mencari kemenangan dari suatu kasus? Atau membuktikan kebenaran dan kesalahan?

Bahkan seseorang yang jelas-jelas salah di mata undang-undang ternyata bisa lolos di pengadilan, hanya karena mempunyai pengacara yang handal dan pandai memutarbalikkan fakta. Lantas, kalau begini apa sih yang bisa kita andalkan dari suatu pengadilan? Jangan harap bisa memenangkan kasus kalau tak punya uang! Padahal bukankah sejatinya tugas Hakim adalah memutuskan perkara, Jaksa adalah menuntut hukuman kepada terdakwa yang berlandaskan bukti-bukti saksi dan undang-undang. Sedangkan pembela atau sekarang yang lebih terkenal sebagai pengacara adalah untuk membela hak-hak terdakwa agar mendapatkan pengadilan yang adil dengan berdasarkan pada saksi, alibi, dan motif.

Tapi sekarang kok ya kenyataannya lain, undang-undang dicari kelemahannya, agar terbebas dari hukuman. Pengadilan seolah diperjualbelikan? Ini karena mental atau karena orangnya? Kalau karena orangnya mungkin kita harus berpikir ulang apakah masih pantas lulusan hukum yang jelas-jelas melek hukum tetap dibiarkan di pengadilan dan memutarbalikkan fakta. Bukankah lebih enak mengganti dengan orang teknik atau berilmu pasti. Dimana A pasti menjadi A, B selalu menjadi B tidak mungkin jadi C. Jika mencuri hukumannya maksimal 5 tahun harus dikalkulasi dulu, berapa nilai barang yang dicuri diperbandingkan dengan nilai material tersebut dan inflasi tahun ini. Kemudian dicari nilainya dan dikonversikan dengan tahun hukuman, kan jadi jelas!

Daripada seperti sekarang, mencuri sebuah mangga dihukum 5 tahun babak belur lagi, sedangkan orang yang korupsi 3 trilyun cuma dihukum 3 bulan, tanpa perlu membayar kerugian. Huahuaha.... negara macam apa ini?

Pada dasarnya ada yang lebih bijak, yaitu mengembalikan konsep hukum dan peradilan ini dengan konsep ketuhanan. Artinya meletakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip sesuai dengan nilai moral ketuhanan dan keagamaan. Sehingga bukan sekedar menang tapi belum tentu benar di 'mata' Tuhan.

Biar Kalah Yang Penting Gaya



Minggu kemarin, tanggal 13 Des 2009, Yayasan IKA Alumni ITS Kepulauan Riau mengadakan Futsal di Ikan Daun Batam. Acara ini merupakan kelanjutan dari bunga rampai Dies Natalis ITS. Setelah Donor Darah, Lomba Blog, dan nanti tanggal 20 Desember 2009 akan ditutup dengan Tumpengan di Pondok Santai Kak Dadut.



Ya... tahunya acara seperti ini juga telat, maklumlah orang sibuk (sibuk ngupil sambil nge-game). Jadi hanya sempat berpartisipasi di Pertandingan Futsal. Lumayanlah masio gak menang lak sing penting ngumpul karo arek-arek. Ya... sekali lagi dikarenakan terlalu sibuk jadi kurang silaturahmi dengan arek-arek seperguruan. Ya... meski departemen sebelah sudah menyatakan gulung tikar, tapi rencana menyatukan arek-arek seperguruan yang bekerja di perusahaan ini untuk bangkit dan menunjukkan jati dirinya dalam sebuah tim tetap dilakoni. Setelah berkoar-koar akhirnya terkumpullah satu tim (walaupun pas-pasan, sak ono'e wonge) dan jadilah kami ikutan berpartisipasi.




Hmm... aktualnya di lapangan tak lebih dari 5 orang saja dari perusahaanku yang hadir. Selebihnya sok sibuk semua, entah karena mereka gak suka bola, atau ogah ketemu arek-arek, aku nggak tahu. Yang jelas akhirnya dengan tambahan 3 amunisi dosen Poltek ditambah 1 orang eks Panasonic, membuat kami menjadi siap tempur dan berani bertarung (hehehe... bertarung? bahasanya itu lho, hiperbola banget). Bukan gitu bro, aku dan 4 orang lainnya memang sudah uzur (maksude 30 tahun ke atas), tapi kan 2 orang diantara kami 3 orang diantara kami ini jago futsal, ditambah arek-arek enom dosen politeknik Batam. Harusnya ini kami patut masuk tim unggulan.

Tapi sekali lagi kita mengulang momen masa lalu, ketemu tim tangguh arek-arek TEC. Belum lagi tim gabungan Unisem dan Schneider (Dr.Angka), dan arek-arek galangan (C.U.K).

Pertemuan pertama lawan Dr Angka ternyata kita bisa mengimbangi bahkan nyaris menang, namun akhirnya kita kalah 2-3. Setelah tenaga terkuras, di pertandingan kedua kita melawan OC TEC yang mana kutahu ada si Wado (Ade Mulyana) adik kelasku, playmaker handal yang juga jago bikin gol. Hmm.. benar aja kita pontang-panting dan menjadi lumbung gol dengan 5 gol yang terlebih dahulu ke gawang kami. Beruntung di menit-menit akhir kami bisa menipiskan keadaan dengan membalas dua gol, sayang kami terlambat, paling tidak ini tak membuat kami terlalu malu, hehehehe....

Dengan hasil ini kita sudah pasti gagal melaju ke Final, pertandingan terakhir pun sudah tidak menentukan. Ini mungkin yang membuat lawan kami C.U.K, kabur dari arena. Akhirnya kami menang 5-0 juga walaupun menang WO lho, heheee. Gak papa toh bukan hasil yang dicari tapi merekatkan persahabatan dan pertemanan lagi sesama teman seperguruan. Siapa tahu ditawari kerja oleh senior di perusahaannya. hehehe

Gak papa, acara seperti ini kan sakjane perlu dilestarikan, masalahnya tinggal kepedulian kita selaku alumni ITS masih mau nggak menjalin hubungan dengan ekosisitem kita dahulu. Sebenarnya saya membayangkan IKA Alumni ITS ini kuat bahkan bisa berfungsi seperti organisasi yang multifungsi. Bisa seperti koperasi, yang bisa memberi pinjaman. Atau seperti perusahaan asuransi yang bisa memberikan asuransi pada semua alumninya, atau lainnya. Hmm... mungkin cita-cita itu masih jauh, tapi itu adalah mimpi, bisa saja jadi kenyataan jika ada kesamaan visi diantara kita.

VIVAT ITS! Hidup ITS... Hidup ITS

14 Desember 2009

HeHeHe.... Ternyata Tahun ini Aku Gagal Jadi PNS

Tahun 2009 ini adalah tahun pertama aku mencoba melamar dan tes menjadi PNS. Ini adalah pengalaman pertama setelah sekian lama aku lulus kuliah dan selalu menolak melamar profesi ini, bahkan menoleh pun tidak. Menurutku, dulu profesi menjadi PNS yang notabene adalah abdi negara, adalah profesi yang sia-sia. Maksudnya sia-sia untuk kehidupanku kelak di akhirat.

Maklumlah profesi yang satu ini sangat rawan dari hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan, atau bahkan seolah menuhankan diri kita. Maksud saya coba lihat orang yang ngurus ijin apalah (saya takmau sebut karena takut dituduh melanggar UU ITE). Kadang kita dibuat kesal dan terkesan arogan.

Tapi akhirnya toh tahun ini, setelah sering digojloki adikku bahwa aku sok idealis. Hahh...akhirnya luruh juga untuk melamar jadi PNS. Targetku cuma satu, yaitu mendekatkan diri pada kampung halaman yang tercinta, Lamongan. Atau berada di sekitar kampung istri di Tasik, toh masih Pulau Jawa, bisa ditempuh dengan berbagai moda angkutan.

Tercatat tahun ini ikut tes di 3 tempat, Bandung, Lamongan, dan Batam. Yang terakhir kusebut ini adalah aku sedikit ragu, karena bingung justru kalau ketrima... makin susah kan kalau mau balik ke Jawa.

Alhamdulillah... gagal semuanya. Tapi untuk mencapai kesuksesan kita harus evaluasi dan bisa menilai kegagalanku dimana.

Tes di Bandung di Departemen Perdagangan akhirnya kandas, maklum dah lupa pelajaran Kimia dan mungkin gagal di TOEFL. Tes di Lamongan gagal juga, kalau ini justru aku merasa fair karena setelah seminggu tes kemudian nilai keluar. Bahkan adik iparku yang merasa nilainya jelek ternyata ketrima walaupun nilainya memang jelek tapi nilai tersebut terbaik lho di jurusannya. Kegagalanku lebih dipicu karena aku tidak bisa melejit, aku merasa nilaiku baik. Tapi apalah arti jika dibanding 200 lebih sainganku bernilai lebih baik. Apalagi banyak diantara mereka juga alumni ITS yang tak diragukan kapasitasnya.

Nah, tes yang terakhir di batam ini... ya mau gimana lagi, rupanya iklim Pemerintahan sini masih jauh kata bersih dari KKN. Kalau yang diatas sudah bobrok, pasti akan menurun ke bawah. Saya tidak menuduh, tapi banyak fakta di lapangan yang nyatanya berkata sedemikian itu. Seperti keabsahan kelolosan seleksi administrasi, ternyata walau jurusannya tidak sama dengan kualifikasinya beberapa orang bisa lolos bahkan diterima/lulus tes. Kemudian waktu pengumuman yang lumayan lama, dan transparansi nilai yang tak ada, serta akses internet untuk hal tersebut justru membuktikan proses penerimaan ini diragukan kapasitasnya.

Ya... bagaimanapun tak bisa saya pungkiri bahwa segala proses yang sudah dimulai dengan kejelekan tentu akan mendatangkan hal-hal yang bermuara pada kejelekan. Tuhan tahu dan saya senantiasa berkata "Jangan Menyerah!"

02 Desember 2009

Hmm... Asyiknya Naik Lion Air 737-900ER

Beberapa waktu lalu, aku pernah komentar yang negatif soal maskapai Lion Air. Namun beberapa hari yang lalu, saya merasakan sesuatu yang lebih baik dan jauh berbeda pada maskapai ini.

Lion Air rupanya telah melakukan perubahan dengan mendatangkan pesawat boeing yang ’terbaru’ di kelas penerbangan domestik. Tampil dengan beberapa pesawat Boeing 737-900 ER, Lion Air tampak paling gagah di Indonesia. Bayangan saya sebelum terbang bersama Lion Air saya sudah under estimate, pasti saya akan naik pesawat MD lagi. Tapi ternyata Lion Air penerbangan Batam – Surabaya kali ini, saya disuguhi pesawat yang menakjubkan Boeing 737-900 ER. Nggak fair rasanya, kalau nggak memujinya.

Selama ini penerbangan domestik yang pernah saya pernah jalani saya hanya menemukan Garuda Indonesia yang terdepan, dengan Boeing 737-800 NG dan Mandala Air dengan pesawat jenis Airbus A320. Namun entah kenapa beberapa minggu ini kok nggak ada lagi penerbangan Mandala rute Batam – Surabaya.

Boeing 737-900 ER pesawat dengan kursi kulit yang bagus enak dan yang jelas lebih lapang dari MD. Sensasi terbang pun tampak menyenangkan, perasaan takut saat take off dengan MD sudah nggak ada lagi, bahkan getaran dalam pesawat sangat minim kurasakan. Hmm... ini baru pesawat top!

Kalau begini, aku pasti menjadikan Lion Air sebagai prioritas pertama maskapai nasional yang kugunakan, selain Garuda Indonesia tentunya.

Beda Jadi Gelandangan di Juanda dan Changi

Pernah lihat film The Terminal? Kayaknya aku serasa lagi syuting film tersebut. Gara-gara delay penerbangan, aku harus terlantar 3,5 jam di Juanda itu belum termasuk ditambahkan satu jam lagi kedatangan awal. Hmm... maka total 4.5 jam aku harus menunggu disana, mulai jam 2 siang sampai jam setengah tujuh malam. Gila, selama itu aku ngapain enaknya di Juanda?

Mula-mula sih aku merasa santai aja dengan kondisi seperti ini. Kupikir karena aku berada di Bandara International, orang awam seperti aku akan mengartikannya seharusnya bandara ini mempunyai taraf dan standard International.

Tapi aku sungguh kecewa, karena praktis setelah melalui pengecekan fiskal dan dokumen imigrasi, seratus persen aku menjadi gelandangan di sana. Mau masuk lobi ruang tunggu nggak bisa karena belum waktunya, jadinya harus nunggu di area yang menghubungkan keberangkatan dan kedatangan International?

Memang ada tempat duduknya, namun sepanjang mata memandang hanya ada satu rombong gerobak penjual oleh-oleh panganan dan minuman.

HP low bat lagi ngapain lagi membunuh waktu yang 3 jam itu? Bisa jamuran nih. Memang sih ini kesalahan maskapai yang membuatku harus menunggu walaupun ujung-ujungnya juga ngasih kompensasi makanan tapi kayaknya itu belum cukup.

Aku pernah sekali bawa laptop ke Juanda nyalain wifi, terlihat beberapa sinyal, kirain bisa internetan, hmm...payah satu sinyal pun nggak ada yang bisa. Alhamdulillah, setelah 3 jam nunggu ddi luar akhirnya bisa masuk ke lobi, saat nge-charge HP, nonton TV, dan makan. Eit, toilet dimana? Ya... ada diluar? Harus keluar lagi dan antri lagi melewati ruang pemeriksaan, yang benar saja! Lantas aku jadi panik sendiri mau ngapain ya di Singapore sambil nunggu pagi, karena last ferry ke Batam sudah telat jika aku tiba jam 10 waktu Singapore?

Akhirnya tepat jam 7 aku meninggalkan kepenatan di Bandara International Juanda yang menurutku nggak international banget standarnya.

Yup, bener dugaanku aku nyampai jam 10 malam waktu singapore (lebih cepat satu jam dari WIB atau setara WITA). Hmm...aku sempat panik setelah turun dari pesawat, selain tampangku lebih mirip TKI daripada turis. Setelah berjalan beberapa saat, ya... aku serasa terpesona bo! gak nyangka banget ada bandara sekeren Changi ini. Yang kulihat pertama, eskalator (tangga berjalan) ini menggunakan sistem standby, artinya kalau sensor didepan mendeteksi ada orang yang mau menggunakan, otomatis dia jalan kalau nggak, ya normalnya diam saja.

Kemudian pandanganku tertuju pada sekelompok bule yang pada klesetan di lantai koridor. Kok nyaman aja kayaknya, jelas apa lantai ini terlapisi karpet atau gimana ya? Yang jelas besih dan nyaman, beberapa petugas berseliweran naik otopet listrik (segway). Lalu pandangan mataku tertuju pada sekelompok orang yang berdiri menggunakan komputer, eh... ternyata free internet, sayangnya komputer sudah penuh harus nunggu. Kulihat beberapa bilik meja dan dilengkapi kursi sudah dilengkapi networking port dan stop kontak masing-masing. Andai bawa laptop setidaknya aku bisa duduk, nyalain wifi, dan ngenet sepuasnya, kayak cerita temanku yang barusan kesini seminggu yang lalu.

Tapi disini, menunggu itu tidak menjemukan. Ada beberapa kursi yang bentuknya mirip kursi malas yang lazim ditemui di pantai. Tapi ini lebih berfungsi untuk beristirahat. Akhirnya aku bisa rebahan juga, menyelonjorkan kaki dan melepas sepatu, hmm... ini baru nyantai. Ya... berhubung waktu sudah tidak memungkinkan akhirnya kuputusin untuk bermalam di Changi saja, nggak tahu apakah ntar aku diusir atau nggak? Setelah lowong pengguna free internet, aku lalu mencobanya akses disini cepat wuzz...wuzz dan yang pakai nggak bakal kecewa, namun pihak bandara rupnya mendesain agar tiap 15 menit komputer ini log off sendiri. Rupanya agar kita tidak memonopoli fasilitas publik ini dan bergiliran dengan orang lain yang membutuhkannya. Hmm.. ntar kalau nggak ada orang aku mau internetann sampai pagi. Kalau merasa haus tinggal cari kran air minum disebelah, pencet tombolnya, buka mulut, maka rasa haus pun terobati. Toilet pun nggak jauh dari tempatku berdiri tadi, sudah dilengkapi pula bagi penyandang cacat.

Puas internetan, setengah dua pagi akhirnya aku tertidur di kursi rebah tersebut sampai pagi bersama beberapa bule di sebelahku. Aku bahkan tidak merasa jadi gelandangan, malah serasa menikmati tidur di hotel mewah, karena bising suara pesawat ternyata nyaris tak terdengar di tempatku tidur. Hmm.... nyaman dan tenang.

Andai juanda seperti ini? Sebagai bandara international seharusnya memanjakan pengunjungnya dan membuat senang perasaan calon penumpang. Hendaknya ya diberikan fasilitas yang memadai. Mungkin aku sih maklum, tapi turis mancanegara? Hendaknya kita memberikan kesan dan pelayanan yangg bagus. Hmm... katanya Visit Indonesia Year? Ya... mana ada turis mau datang lagi dua kali kalau fasilitas penyambutannya saja berantakan. Please deh.....

19 November 2009

Nggak Bisa Pura-Pura Kalau Nggak Suka

Aku nggak bisa nutupin perasaan kalau lagi nggak suka dengan hal yang nggak aku sukai ya jelas aku bereaksi, apalagi untuk berpura-pura suka, please deh!!! Terserah kamu mau bilang aku kolot, sok idealis, atau munafik itu terserah!!!!! Yang jelas, aku udah bebal dengan yang namanya dogma, kesepakatan atau apapun. Aku punya prinsip itu sudah jelas!

Hal itu sudah beberapa kualami berkali-kali sejak SMU dulu, ya..disaat itulah gairah mudaku muncul gairah pemberontakan!

Sudah nggak kehitung berapa kali aku berontak di SMU sampai sering kena hukuman Guru atau nilai jadi jelek. Yang kuingat beberapa adalah ketika aku lagi kesel sama guru agama. Masak sholat Jum’at mesti di sekolahan trus khotbahnya dicatat pula karena nanti sewaktu-waktu diminta untuk dikumpulkan di guruku, lantas diperiksanya.

Eh, yang malah aku lakukan setiap Jumatan nggak di sekolahan, tapi di Masjid Agung -yang notabene deket rumahku- dan aku nggak pernah nyatet khotbah apalagi minta tandatangan imam. Ya jelaslah buat apa Jumatan dicatet-catet dan diwajibkan di tempat tertentu, aneh. Tapi dari pemberontakanku ini menghasilkan tamparan di pipi kanan dan kiri oleh Guru Agama ku itu, ditambah nilai 5 di raport, hmm... keren nggak?

Ada lagi, waktu aku nggak suka sama Guru Bahasa Indonesiaku di SMU yang menurutku bermulut besar itu. Terus terang aku lagi neg ndengerin ceritanya apalagi membahas soal sastra, bagiku prosa hanyalah angan yang tak berongga. Jadi dengan tidak sopannya aku langsung keluar kelas karena muak, ini nggak sekali bro! Untungnya dia masih berbaik hati ngasih nilai 6 di raport-ku.

Pemberontakan paling parah mungkin saat awal kuliahku di D3 Kxxxxter Koxxxol - ITS, waktu pengkaderan. Bagiku, pengkaderan adalah hal yang nggak mutu yang selalu kuanggap hanyalah ajang balas dendam yang nggak tersalurkan. Ya iyalah... masak si yunior yang harus terkena imbasnya. Parahnya akhirnya terjadilah salah kaprah turun temurun. Nggak mutu, nggak ada untungnya sama sekali, mending sharing ilmu atau bikin program yang bermanfaat, bukan sebatas ngerjai yuniornya. Jadi ya, aku cabut. Rupanya para senior menganggap aku dan orang lain yang tak sepaham adalah boikoter dan harus diperangi.

Jadilah selama sang senior masih bercokol aku dkk, selalu diintimidasi. Bahkan jangan harap lulus dari kuliah praktek yang diasisteni oleh senior. Hmm.. aku pernah terancam DO gara-gara hal ini, masalahnya sepele aku hanya gagal 1 SKS di praktikum ini. Lha wong kalau praktek selalu giliran jam 12 malam, dan program ku dirusak lalu disuruh benerin, logis sih... kalau aku yang buat pasti aku bisa, masalah cuma 15 menit disuruh ngecek satu-persatu ya... jelas nggak cukup lah. Ya.. mau gimana lagi asal nggak main fisik ya aku biarkan.

Tapi ketika salah seorang senior dengan beberapa gank-nya yang asal Madura menggeruduk aku dan temanku, ya jelas aku mesti berontak, anteman-anteman OK lah! Ealah ternyata masalah pribadi dibawa ke forum senior lawan boikoter. Jadilah perang Baratayudha, untung salah seorang dosen teknik sipil buru-buru memarkirkan mobilnya lalu menghalau kami, dengan diancam akan dibawa masalah ini ke rektorat. Haha... gak tau kenapa tiba-tiba justru intimidasi para senior semenjak itu tiba-tiba hilang. Mungkin mereka takut gagal wisuda deh...!

Hah kali ini aku menghadapi masalah baru, tentang suasana perusahaan yang lagi memanas gara-gara satu departemen tutup. Ya... susah, ntar aja mbahasnya

14 November 2009

Kepulauan Riau

Kepulauan Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga.

Batas-Batas Wilayah Provinsi Kepulauan Riau:
Di Sebelah Utara: berbatasan dengan negara Vietnam dan Kamboja
Di Sebelah Timur: berbatasan dengan negara Malaysia dan Provinsi Kalimantan Barat
Di Sebelah Selatan: berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Jambi
Di Sebelah Barat: berbatasan dengan negara Singapura, Malaysia, dan Provinsi Riau

Pemerintahan Kabupaten dan Kota
Ibukota Provinsi di kota Tanjung Pinang
No. Kabupaten/Kota
1 Kabupaten Bintan, beribukota di Bandar Seri Bentan
2 Kabupaten Karimun, beribukota di Tanjung Balai Karimun
3 Kabupaten Kepulauan Anambas, beribukota di Tarempa
4 Kabupaten Lingga, beribukota di Daik, Lingga
5 Kabupaten Natuna, beribukota di Ranai, Bunguran Timur
6 Kota Batam
7 Kota Tanjung Pinang