Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

27 April 2011

Sebuah Kesuksesan

Malam ini, perasaan bercampuraduk di otakku, sesaat sebelum mengetik. Ada perasaan marah, dongkol, emosi, bahkan iri terhadap kesuksesan prestasi teman, lalu mengkritik tajam juga kesuksesan usaha/ bisnis seorang teman lainnya.

Sesaat yang lalu, aku membaca profil dan tulisan seorang teman dalam sebuah jurnal sains di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah -tempat dia mengajar sekarang. Bukan tulisan ecek-ecek macam blog-ku yang nggak jelas ini tapi sebuah jurnal penelitian yang ditulis kira-kira 3 tahun yang lalu. Sebelum menempuh studi dan mengambil gelar PhD di Jerman.

Terus terang, aku kagum dengan prestasinya sekarang. Padahal kalau diingat-ingat jaman selepas SMA, sebenarnya dulu aku juga pingin ngambil bidang ini tapi gengsi dan malas untuk terjun sebagai peneliti. Jadi kuambillah jurusan alternatif lain yang banyak diserap pasar/industri. Mulanya, dia selepas lulus S1 juga kerja di industri dan sempat berbisnis. Eh... rupanya dia pingin balik lagi ke Universitas sebagai seorang Dosen -setelah hampir dua tahun 'jualan' cat thinner. Karirnya lantas terbang tinggi, mulai di sekolahin S2 di UGM, hingga akhirnya sekarang masih menempuh studi dan melakukan penelitian di Jerman.

Adalagi cerita teman lainnya tentang tolak ukur kesuksesan yang menurutku juga luar biasa. Seorang teman yang saat didunia industri terkesan 'malas' (menurutku mungkin jenuh), ternyata lebih berkembang usaha ketika dia keluar kerja dan merintis usaha warnet dan playstation. Bahkan kini dia telah punya 2 tempat usaha, dan setiap hari selalu rame pengunjung. Dari satu tempat usahanya saja keuntungan kotor antara 17 sampai 19 juta. Dipotong untuk listrik, biaya koneksi internet, sewa ruko, dan gaji karyawannya, dia masih punya keuntungan bersih diatas 10 juta perbulannya. Bayangkan kalau dua tempat? :)

Pernah suatu kali dalam benakku pingin melakukan usaha seperti ini di kota asal, tapi jadi mengurungkan niat. Gara-gara pernah dengar cibiran orang tua tentang suami saudara sepupuku yang lebih asyik melakukan bisnis seperti ini daripada kerja kantoran atau industri, padahal dia juga lulusan S1. Tapi apa salahnya, bukankah di dunia ini ujung-ujungnya juga cari makan buat perut kita dan keluarga kita? Apa masalahnya ketika lulusan Universitas lebih asyik berbisnis daripada mengaplikasikan ilmunya ke dunia industri atau perkantoran? Apa kita melakukan sesuatu karena Gengsi, status sosial atau terpaksa?

Yang saya lihat dari kesuksesan diantara kedua teman saya, dimana satunya seorang ilmuwan dan satunya lagi seorang Pengusaha. Semuanya terletak pada pengabdian dan mentalitas untuk mencintai apa yang dilakukannya. Jadi bukan karena terpaksa, karena ingin gelar tertentu, atau status sosial.

Jadi bagi kita yang masih menganggap di kehidupan ini belum sukses. Maka cintailah apa yang kamu inginkan, raih dan lakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Karena saya akan melakukan sesuatu untuk merubah hidup.

29 Maret 2011

Gara Gara "dikandani ora percoyo" Akhirnya Jadi Pingin Nulis

Gara-gara kata ini nih "dikandani ora percoyo", yang mana diucapkan para personel OVJ saat manggung di kota Malang, saya jadi tergelitik pingin nulis komentar sepatah dua patah kalimat.

Sebenarnya secara bahasa gak ada yang salah dengan kata-kata tersebut ataupun ojo nesu. Namun kata atau kalimat seperti itu lebih lumrah atau jamak kalau diucapkan di kota atau daerah yang berada di Jawa Kulonan (Jawa Tengah dan Mataraman). Sedangkan saya lihat saat itu, mereka (OVJ) sedang pentas di kota Malang. Dimana di Jawa Timur, khususnya wilayah arek (Surabaya, Gresik, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, sebagian Lamongan) lebih akrab dengan dialek ala Jawa Timuran yang sering nabrak pakem bahasa Jawa asli.

Jadi ketika dengar si Sule ngomong dengan bahasa seperti itu, lantas saya teringat gaya ngomong isteri saya yang notabene juga Sunda saat mencoba berbahasa Jawa kepada saya dengan dialek Jawa Kulonan. Ora memang berarti "tidak", tapi secara dialek orang di daerah arek lebih nyaman memakai kata gak, atau igak. Jadi harusnya ngomong seperti ini, "Dikandani gak percoyo" lebih mantap kalo ditambahi akhiran "rek" atau "ker" kalau berada di daerah Malang.

Kata ojo nesu (artinya: jangan sedih/dongkol), pun jarang terdengar di daerah ini, malah lebih akrab dengan kata ojo mangkel atau ojo gelo. Dan lebih akrab ditelinga dengan kata "kon" atau "awakmu" daripada kata "kowe" untuk menyebut arti: kamu. Tapi saya juga maklum, sama halnya kalau saya mencoba berbahasa Sunda dengan isteri saya tapi dengan logat Jawa, dan dialek Sunda Banten, mungkin akan keliatan kasar dan aneh.

Tapi sekali lagi itu cuma bahasa, dengan paham beberapa kata, tentu akan membuat audiance menjadi simpatik.

Sebenarnya pingin buat kamus bahasa jawa khusus dialek Lamongan. Karena walaupun dialek nyaris mirip dengan Suroboyoan namun ada kata-kata yang selalu janggal ditelinga orang Surabaya. Contohnya kata nyilih (artinya: pinjam), orang Lamongan selalu menggunakan kata nyelang, kalau diterjemahkan seolah memakai selang (pipa). Juga dengan kata kepriye, akrab dipakai di Jawa Tengah dan sekitarnya, yang artinya gimana/bagaimana. Orang Surabaya lebih akrab dengan kata kok opo atau yok opo, sedangkan orang Lamongan lebih terbiasa ngomong kok piye atau kokye. Sebenarnya kalau ada waktu luang, saya ingin menaruh pada kolom khusus untuk membahas secara gamblang logat, dan dialek khas Jawa Timuran, tapi sekali agi belum sempat, mungkin nanti.

Ngisor mejo ono ulane.....
Ojo gelo iku carane


maksud parikan atau pantun ini adalah:
Di bawah meja ada ularnya....
Jangan dongkol, kalau ini caranya

03 Maret 2011

Kesan Sebulan di Tempat Baru

Mungkin ada baiknya menuliskan kesan dan pengalaman baru disini, sebelum otakku meledak kebanyakan memori dan uneg-uneg, Hiperbola .

Sebenarnya tak ada bedanya, hampir sama seperti kerjaan di perusahaan manufaktur lainnya. Cuma job responsibility- ku sekarang adalah sebagai QA/QC, gak beda jauh sih dengan process. Tujuannya sama sih, mengontrol dan memastikan kualitas produk sesuai dengan requirement quality standard dari Customer. Kalau di perusaahaan lama urusannya hanya focus pada internal perusahaan dan biasanya ‘bentrok’ dengan productivity dari produksi, sekarang urusannya lebih melebar. Tak hanya scope internal saja yang diurusi melainkan mulai dari Supplier hingga Customer Issued. Tapi sekali lagi saya anggap masih mampu karena itu adalah hal yang biasa juga kukerjakan di tempat lama.

Masalah mulai timbul ketika harus bertanggungjawab pada review check BOM (Bill of Material) List, membuat issue perubahan Drawing (Manufacturing Spec), hingga ngurusi proses di produksi, dan parahnya training pun under QA, walah!!!

Hmm….ini dah nyalahi kodrat kayak gini, BOM List ’kan biasanya dikerjain material control atau PPIC dan Purchasing, sedangkan QA dan section lain hanya sekedar tahu dan implement. Parahnya BOM list disini beda kasus dengan tempat lama, gini-gini gue pernah berada di section PPIC. Kalau di tempat lama, dimana material level 1 hingga sub-sub level penyusun lainnya teratur, dan mudah untuk di breakdown, jelas. Tapi… disini lain, part level 1 yang harusnya total assembly itu ternyata juda ada part turunan semi assembly. Kalau sudah seperti ini, tentu buat pusing orang yang ngecek. Dimana banyak part yang dipakai common model, dimana modelnya ratusan dengan total semua part kira-kira 7000-an item. Kalau Cuma sekedar cek dari BOM list gak masalah, tapi ketika sudah buka drawing… hmm ngelu gak, mati mati kon!

Terus lucunya (ketawa dulu deh, ngetawain penderitaanku) ada perubahan part dan drawing, harusnya kayak gini ’kan dikerjain sama Doccon dan R&D Engineering yang lain sekedar review. Lalu yang lebih lucu lagi, ternyata nih produksi gak ada Proses yang independen, berdiri sendiri, punya kewenangan untik membuat sistem kerja, mapping rootcause problem, buat problem solving lalu action dan monitoring. Nyata-nyata sistem PDCA-nya gak jalan, hingga akhirnya tanggungjawab dilimpahkan ke QA lagi, bleeeh!!! Lalu ada lagi yang bikin aku terkesan disini, sebegitu hebatkah QA ini hingga sampai sampai harus mengkoordinir training operator atau staff yang baru join. Hmm... Super QA kalau aku boleh bilang. Masalahnya untuk kasus kasus yang nyalahin kodrat tadi dikarenakan section-nya gak ada. Material control gak ada, hingga dikeroyok bareng Purchaser, Warehouse, dan Planner. Doccon gak jelas scope responsibility-nya, campur kerjaan sebagai clerk, gak ada yang lead. Trainer juga gak ada, Process Engineer apalagi? Nonsense. Tapi untungnya (ternyata masih untung), aku tak menjalani kehidupan kayak gini sendirian, ada section head stamping dan molding yang harus rangkap jabatan sebagai maintenance tools atau mechanic-electric machine-nya masing-masing.

Kata orang, kerjaannya nyantai tapi itu gak sepenuhnya benar. Sebenarnya nyantai, karena pressure dari Boss kurang dan kurang concern ngerjain semuanya. Kalau dipikir-pikir, kalau semua kerjaan dikerjakan dengan benar bakal nggak kelar dan bejibun. Maka dari itu sistem quality internal gak jalan. IPR atau NCR gak pernah dikerjain produksi, sama mau ngerjain prosesnya gak ada yang ada QA. Masak gue ngasih kerjaan gue sendiri? Mampus lah!

Kalau dari paribosone wong jawa kuwi “ngisor meja ono ulane, ojo gelo iku carane.” Artinya nggak usah merasa aneh, nyinyir, karena tiap tempat pasti punya cara sendiri. Walaupun terkesan pelit untuk nambah orang. Jadinya ya... pakai skala prioritas, yang penting jalan kalau dirasa belum ya nanti, atau kalau jarang ya kapan-kapan, atau gak perlu ya tak usah dikerjakan. Ok kan?

Mengapa Harus Berdamai dengan Masa Lalu

”Inilah kenapa gue males sekali berurusan dengan masa lalu...........
Itu lho si A ngajak balik hubungan serius lagi,
Gila nggak tuh! Padahal ’kan sekarang gue dah punya C...”


Mungkin ini terkesan sentimentil ketika kita terkenang kembali dengan masa lalu. Apalagi yang berkaitan dengan cinta dan emosi... hmmmf!!! Pasti ada waktu dimana kita merasa tercabik-cabik hati, emosi dan ingin ’mengenyahkan’ mantan pasangan/ pacar kita dari hidup kita ketika timbul perselisihan diantara kita. Momen dimana sesuatu yang menyangkut dirinya seolah menjadi musuh utama dalam hidup ini dan jijik..

Namun ketika waktu berjalan dan hati kita mampu berdamai dengan emosi. Seirama dengan hal itu, hubungan kita dengan sang mantan bisa dibilang menjadi baik lagi dan ’mesra’. Tentu saja konotasi mesra disini harus diletakkan dalam proporsi yang sesuai dengan situasi dan kondisi kita saat ini. Yang menjadi persoalan adalah ketika pada kondisi sekarang kita telah memiliki pasangan lainnya.

Nah inilah yang menjadi persoalan jangan sampai mesra disalah gunakan melakukan tindakan yang bisa memicu atau menyakiti hati pasangan kita sekarang. Masih untung kalau kondisi kita sekarang masih sebatas pacaran dengan pasangan baru kita, parahnya kalau kondisi kita saat ini ternyata sudah berumahtangga, sudah memiliki suami atau istri, selain sang mantan kita.

Mari kita bahas satu persatu, kalau untuk kondisi masih available tentu bukan jadi kendala. Kemesraan yang terbangun lagi mungkin bisa saja sebatas sahabat atau bisa juga menjadi lebih jauh, tentu saja ini tergantung pada komitmen yang kita bangun saat berdamai dengan masa lalu. Hal ini bisa tercapai kalau tercapai rasa yang setara dan proporsinya sama, jangan timbul ge-er diantara salah satu pihak. Tapi terserah saja kalau lah kita ingin mengulang lagi hubungan masa lalu, tentu saja dengan pertimbangan yang masak dan komitmen yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Satu hal lagi, kita harus mengesampingkan gengsi untuk balik lagi, tentu saja ini dipengaruhi subyektifitas dan lingkungan pergaulan. Artinya bukan masalah besar, tergantung mau atau tidak kita menjalaninya lagi. Dimana intinya semuanya berpulang lagi pada sebesar mana cinta kita padanya.

Kasus kedua, ketika posisi kita sekarang sedang memiliki pacar, sedang bertunangan, atau malah sudah berumahtangga dengan pasangan baru kita. Sebenarnya bukan masalah jika kita berdamai dengan masa lalu namun yang diperlukan adalah trust, honesty, dan respect. Artinya kedekatan kita dengan masa lalu (sang mantan) jangan sampai menimbulkan reaksi fusi yang memicu terjadinya ledakan emosi hingga mengakibatkan perpecahan hubungan kita sekarang. Semuanya bersumber pada komunikasi yang tentu saja harus dilandasi sikap keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, dan saling menghargai diri kita, pasangan kita sekarang, ataupun dengan sang mantan. Akan lebih baik lagi jika mengenalkan jati diri sang mantan pada pasangan kita, tentu saja tak perlu mengekspos kemesraan yang pernah dijalani dulu. Hindari hal-hal yang membuat pasangan kita cemburu.

Intinya hubungan yang kita jalani haruslah berlandas pada sikap dan proporsi yang bisa kita berikan. Hindari sikap ge-er dan romantisme masa lalu, bersikaplah sewajarnya seperti teman atau sahabat. Jangan pernah terpancing untuk bermain api karena ada banyak pihak yang pasti disakiti. Satu hal lagi, setidaknya akan lebih baik lagi jika pasangan kita mengetahui hubungan (bisnis atau friendship) kita dengan sang mantan.

Bukankah lebih bijak menambah teman daripada musuh di kehidupan ini? Lupakan perihnya masa lalu dan berdamailah untuk kehidupanmu sekarang dan kelak.

25 Februari 2011

Mencoba Memilih Jalan Lain di Hidupmu

Why… must do this, if you don’t like it?
Why… hurt your heart everyday?
Is this real your way? Are you sure? What’s your dream?


Setidaknya itulah kata-kata yang terngiang-ngiang di telingaku? Akibatnya kepala nih rasanya pening memikirkan jawaban-jawaban semua di atas. Karena pada dasarnya semuanya berkaitan dengan satu hal, yaitu ujung-ujungnya duit. Dimana semua bisa terlaksana kalau kita sudah masuk ke dalam golongan non finansial problem. Golongan yang menduduki strata puncak di kamus dunia ekonomi.

Status akhirnya kembali menjadi joni, berharap ini cuma pijakan sementara sebelum comeback to my dream, again. Mimpi yang telah terenggut lagi karena financial problem. Haruskah menjadi dunia seperti menjadi penjara seumur hidupku? Melakukan pekerjaan yang sebenarnya kurang sreg di hati?

Pada dasarnya mimpi semua orang itu semuanya sama kebahagiaan, Cuma parameternya berbeda-beda tergantung posisi sesorang saat bermimpi ataupun tingkat fantasi kita. Secara normal manusia itu pingin bebas, lepas melakukan kegiatan yang apa kita sukai dan kita senangi dan free as a bird! Masalahnya kita tidak seperti burung, (hampir) tidak ada barang di dunia untuk dan dari manusia yang gratis. Sejak prinsip ekonomi masuk, sorry no free stuff!

Pas melamun eh kepikiran ternyata jadi manusia itu susah, apalagi hati kita tak pernah merasa puas. Dulu waktu masih fresh graduate kepingin cepet-cepet dapat kerja yang bagus. Sudah dapat kerja bagus pingin menjadi karyawan tetap. Lalu sudah karyawan tetap masih pingin punya karir yang cemerlang dan bagus. Lalu sudah diposisi (hampir) puncak pingin di PHK biar dapat pesangon banyak karena mau buka usaha sendiri. Eh sudah buka usaha, belajar mandiri biar gak gantungin gaji dan pesuruh orang lain. Lalu tiba-tiba bisnis yang sudah dirintis gagal, akhirnya ….. kembali lagi menjadi joni.

Hehehe…. lalu teringat lagi lagunya d’Masiv, Jangan Menyerah!

”Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik...”

Bagaimanapun juga, hidup adalah perjuangan, selama jantung masih berdetak... mimpi-mimpi itu masih menunggu untuk diwujudkan.
Try and learn, try again until you reach peak performance

22 Februari 2011

Hi I'm Still A Live

Tak terasa sudah lama blog ini tak terjamah tangan usilku lagi. Faktor utama bukanlah padatnya kesibukan melainkan tersitanya perhatian pada hal lain. Salah satunya kehadiran puteriku, anak keduaku yang lucu. Jadi tak kubiarkan kesempatan bersama malaikat-malaikat kecilku berlalu dalam ketukan jari di keyboard. Apalagi profesi joni melekat lagi sekarang setelah bebas dari julukan ini selama hampir setahun. Jadi lengkap sudah ketidakeksisanku di tanah blogger.

Hanya sekali dua kali update status di facebook, lalu nongol hampir tiap malam di multiplayer game online di http://games.co.id. Ini kulakukan kalo si malaikat malaikat-malaikat kecilku dah pada bobok. Gak papa deh walau sesekali, yang penting telah kucoba untuk eksis lagi di dunia maya. Tapi terus terang ini bukan masuk kategori butuh (wajib) namun sebatas kadang-kadang.

Jadi, ya just flow aja.....

07 November 2010

Trouble is a Friend

Indonesia adalah negeri yang indah dan subur ini dengan segala keeelokan pesona alam dan budayanya. Namun di negeri ini tersimpan pula misteri dari alam Indonesia yang jarang kita ketahui. Apalagi zaman telah berkembang dengan pesatnya, kebutuhan hidup manusia telah menggeser segalanya. Seakan-akan hanya kitalah (umat manusia) yang berhak menentukan apa yang hendak kita perbuat dengan bumi ini. Bahkan kita telah melupakan naluri alam untuk menentukan iramanya sendiri, menentukan apa yang alam butuhkan ini.

Mungkin saja kita telah melupakan kearifan lokal sebagai bangsa Indonesia. Negeri yang punya paling banyak gunung berapi, paling banyak pulau, dan cakupan hutan yang luas. Seharusnyalah kita memiliki perlakuan dan sikap tertentu pada wilayah yang kita diami. Yang jelas, secara alami negeri ini punya waktu periodik untuk dilanda letusan gunung berapi, tsunami, gempa, banjir, longsor, dan kebakaran hutan. Adakalanya yang sedini mungkin bisa kita cegah seperti kebakaran hutan, banjir, maupun tanah longsor. Namun selebihnya kita hanya bisa bersahabat dengan alam dan mengandalkan kepekaan kita terhadap alam sekitar. Tak perlu jauh-jauh, misalnya kita yang hidup di daerah pegunungan pastilah memiliki tradisi atau kearifan yang unik, paham kapan gunung akan berbahaya ataupun tidak. Begitupula kita yang hidup didaerah pantai tentu paham bahwa tsunami, badai, atau angin topan juga senantiasa mengancam keselamatan kita.

Ya ... setidaknya dimanapun kita berada bahaya itu pasti ada dan selalu mengancam, entah bagaimana caranya. Baru-baru ini bahkan di saat daerah lain pada terkena bencana alam, eh malah di daerah saya di Batam ini, tertimpa kejatuhan puing-puing bagian mesin pesawat asing. Lha iya kan! Bencana itu bisa datang kapan saja dan siapa saja bisa terkena.

kita mesti eling dan waspada, artinya kita harus ingat dan memperhatikan alam sekitar kita. Janganlah terlalu berlebihan merusak alam, gunakan sebijak mungkin, jangan seolah-seolah sok bahwa kita adalah makhluk yang perkasa. Padahal sesungguhnya kita tak pernah berdaya melawan alam, mother nature. Hidup berdampingan dengan ancaman bencana adalah bagian dari kehidupan di Indonesia.

29 Oktober 2010

Dua Pemuda Afsel Berhaji Naik Sepeda

MAKKAH–Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.

“Mengayuh sepeda ke Kerajaan dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami melakukan perjalanan dengan cara ini sehingga kita siap untuk menjalani kerasnya ibadah haji,” kata Cairncross, yang berprofesi sebagai perencana kota, sepeti dikutip arabnews.com.

Di Cape Town mereka kuliah hukum Islam di sebuah universitas. Cairncross hobi berselancar angin, Haron hobi kickboxing dan mendaki gunung. Cairncross kemudian kursus perencanaan kota yang kemudian mengantarnya kepada dunia kerja. Mereka mengaku bahagia begitu tiba di perbatasan Arab.

Mereka memulai perjalanan pada 7 Februari 2010. Ini adalah perjalanan haji pertama mereka. “Kami bisa naik pesawat, tapi kami menghargai perjalanan yang berbeda. Jadi kami memilih menggunakan sepeda kami. Bersepeda adalah kegiatan yang paling kami sukai,” kata Cairncross.

Senja tiba, mereka akan mencari masjid atau memasang untuk beristirahat. Selepas Subuh, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan, Selama perjalanan,eka menemukan orang-orang yang ramah dan menyambut baik mereka. Orang-orang salut atas perjalanan haji mereka. Tawaran makan pun berdatangan selama di perjalanan

Mereka membawa bekal yang minim. Tawaran bantuan uang pun berdatangan kepada mereka. Di perbatasan Arab, petugas keamanan juga menyambut ramah dua jamaah yang harus pula turun naik pegunungan dengan mengayuh sepeda. Melewati sembilan negara selama sembilan bulan, mereka sering mengganti ban dan memperbaiki rantai sepeda.

Masalah bahasa sedikit menjadi kendala dalam perjalanan mereka. Tapi, mereka bisa mengatasinya. Selesai berhaji, mereka akan pulang melalui Afrika Barat. mch/Riyanto