Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

18 Februari 2019

Mencari Tiket Penerbangan Murah


Semenjak Januari 2019, telah terjadi kenaikan yang signifikan dan gila gilaan pada harga tiket penerbangan domestik.

Awalnya saya pikir, ini masih imbas dari peak season di nataru (Natal & Tahun Baru). Tapi setelah saya cermati, setelah tanggal 15 Januari 2019, saya cek harga tiket di traveloka, lha kok harga tiket Batam - Surabaya masih di kisaran 1,5 jutaan, padahal normalnya di 800an, baru saya curiga. Ini harga kok gak turun turun? Ada apa ini?

Lalu saya cek penerbangan lain, ternyata, Masih abnormal, masih tinggi. Mbatin saya, waduh kalau harga segitu, ya bisa tekor kalau pulkam tiap 2~3 bulan sekali.

Lalu iseng iseng saya cek situs pembelian tiket lainnya tiket.com, ya Allah sama. Apalagi pada saat yang sama lionair mengambil kebijakan dengan meniadakan bagasi gratis, dan membebankan biaya bagasi lagi pada penumpang. Gila! Bisa nggak pulang saya, kalau nggak benar benar urgent.

Lalu iseng iseng saya masuk ke website tiap pesawat, website lionair, website garuda, dan website citilink, berharap siapa tahu harganya beda (lebih murah), dibanding dengan traveloka atau tiket.com. Pertama saya cari tiket tanpa login dulu ke website tersebut, wow sama mahalnya. Kemudian saya login di website masing masing. Wow! Ternyata ketika saya cek harga di citilink, jauh lebih murah.

Untuk harga Batam-Surabaya pakai login di citilink.co.id segini di jam 14.40

Sekitar 880 ribu.

Sedangkan saya cek pakai tiket.com masih segini
Masih sekitar 1,8 juta, untuk jam 14.40.

Saya cek di traveloka juga sama seperti tiket.com.

Di citilink ini, jika anda login sebagai member supergreen citilink, harganya memang sangat murah. Kebetulan saya sudah jadi member sehak tahun 2017. Bahkan anda masih dapat tambahan free bagasi 10kg. Jadi selama citilink belum memperlakukan bagasi berbayar, anda akan mendapatkan 20kg+10kg bagasi, ditambah free 7kg kabin. Nah, kalaupun nanti bagasinya berbayar, dengan member supergreen ini anda masih menikmati 10kg bagasi dan free kabin 7kg. Setidaknya kalau bawaan anda cuma 10kg ya nggak perlu biaya tambahan. Jadi, ngapain pilih yang lain. Jika memang di kota anda, ada penerbangan citilink. Lebih baik anda beli tiket pesawat memakai citilink.co.id dan login dengan member anda.



Selamat tinggal traveloka dan tiket.com, pakai aja citilink dan login menggunakan member supergreen anda untuk mendapatkan tket yang juauuuuh lebih murah dan rasional. Dan, selamat tinggal lionair, pesawat ini memang cocok benar benar digunakan oleh orang yang kaya, orang yang nggak tahu rahasia ini, atau buat anda yang terpaksa (nggak ada pilihan lain), karena hanya satu satunya armada yang melayani.

Ingat, ini rahasia lho

07 Februari 2019

Motif Pembakaran Kendaraan di Semarang dan sekitarnya

Mohon maaf sebelumnya saat saya memposting judul ini. Karena ini hanya opini saya, yang kebetulan adalah pengkhayal tingkat tinggi. Saya juga tak ingin dituduh hoax atau mengaburkan fakta yang sedang didalami oleh pihak kepolisian. Yang saya utarakan dalam tulisan saya hanyalah pikiran saya, yang kebanyakan nonton film psikopat dan teracuni oleh novel misteri.

Menyikapi teror yang terjadi di Semarang dan sekitarnya, para korbannya dipilih bukanlah secara acak (random victims). Itu terlalu sederhana jika dijabarkan jika para korbannya adalah random victims. Setidaknya pada teror-teror pembakaran awal yang terjadi, saya yakin pelaku sengaja memilih korbannya. Kenapa saya ngomong demikian? Karena awal-awal teror pembakaran adalah motif utama pelaku untuk melakukan tindakan kriminal, dan masih bersih dari unsur-unsur show off, dan random victioms.

Dalam pandangan saya, pelaku ini bisa bersifat sosiopat atau malah berkecenderungan psikopat. Setidaknya ada beberapa motif yang melandasi terjadinya pembakaran tersebut.

1. Sakit Hati
Bisa jadi pelaku merasa sakit hati terhadap para korban. Dari sini bisa didapatkan adanya ikatan emosi, artinya pelaku paling tidak dengan korban, entah langsung atau melalui keluarga/ temannya. Walaupun bisa saja korban tidak kenal dengan pelaku.

2. Hakim Jalanan
Anda masih ingat dengan ichiro, seorang yang mengendarai mobil Suzuki Vitara putih ala offroad, yang berani menjadi jagoan dan hakim jalanan. Dia dengan berani menabrakkan mobilnya pada kendaraan lain yang 'tidak patuh', yang melanggar lalu lintas atau rambu jalanan.

Bisa jadi pelaku adalah ichiro jenis lain, mengingat kenapa yang disasar adalah mobil atau motor. Bisa saja pelaku ini orangnya taat dan patuh peraturan. Namun dia sangat mendendam dan jengkel pada orang yang seenaknya melanggar peraturan, dan ditambah tidak ada mendapatkan penegakan aturan yang jelas oleh aparat kepolisian.

Mungkin saja pelaku kesal dengan para korban saat mereka jumpa di jalanan, dan pelaku melihat perilaku jalanan para korban membahayakan pengendara lain, atau tidak patuh rambu lalu lintas. Sehingga mungkin saja terbersit ide, "Jika nggak bisa bener bawa kendaraan, mending kendaraanmu saya bakar!"
Sehingga pelaku membuntuti dimana para korban tinggal, 'menggambar' lokasi target, dan kemudian melancarkan aksinya ketika lingkungan korban tinggal sepi (aman).

3. Iri Hati
Sebenarnya ini motif yang terlalu sumir jika mengatakan pelaku iri hati. Tetapi ini bisa saja, walaupun sebenarnya terlalu luas untuk dijabarkan.

Namun perlu diingat, area TKP sekarang sudah 'tercemar'. Hal ini karena kejadian 'kan sudah viral. Dan perlu diingat, ketika hal ini viral maka akan timbul hal lain, yakni kemungkinan munculnya para peniru aksi ini (copycat). Ya... entah karena terinspirasi, gaya-gayaan, ingin saja, atau memang berteman dengan pelaku awal dalam suatu forum atau organisasi.

Jadi akan makin susah diendus jejak siapa pelaku ini sebenarnya. Tetapi pelaku ini juga manusia, yang saya yakin punya emosi dan hasrat. Pelaku bisa saja tetap tak terendus jika dia bekerja 'rapi', hati-hati dalam memilih korban, dan benar-benar tidak terlalu nekad menyasar korbannya. Artinya, bisa saja calon korban tinggal di perumahan yang dijaga 24 jam oleh security saat keluar masuk. Akan jadi bumerang, jika pelaku tetap nekad melancarkan aksinya pada kawasan seperti ini.

Bagaimanapun juga itu versi dugaan saya saja, jika memang benar pelakunya adalah tipe sosiopat, psikopat, atau main hakim sendiri. Perilaku seperti ini tetap tidak bisa ditolerir walaupun masyarakatnya yang bermasalah. Namun diperlukan peran serta semua pihak untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakat. Akan tetapi bisa saja pelakunya menyasar korbannya dengan random acak dan hanya menakut-nakuti warga. Bagaimanpun juga semoga Polri bisa mengungkap kejadian teror pembakkaran yang sesungguhnya. Bagi saya sendiri, kasus teror pembakaran kendaraan lama kelamaan, seandainya tanpa tertangkap juga akan menguap dengan sendirinya.

22 Januari 2019

Tahun 2019

Waktu terasa berlari, dan ternyata sudah lebih dari 13 tahun aku berada di Batam. Ya.. sebuah gugusan pulau yang bersebelahan dengan Singapura.

Ternyata sudah setahunan aku kehilangan ibunda tercinta.
Ternyata abang Parsa sudah kelas 6, dan akan bersiap masuk SMP
Ternyata kerjaan saya masih di tempat ini, belum ada perubahan.
Ternyata harga tiket pesawat sekarang mahal banget.
Dan tahun ini 2019, kita akan nyoblos Pemilu lagi. Apapun pilihan anda, harapan kita sama, berharap Indonesia lebih baik lagi di tahun depan.

15 Mei 2018

My Untold Story : DO dari Calon Teroris


Saya agak bingung memilih kata kata yang tepat untuk postingan kali ini. Salah dikit, ntar dituduh dukung teroris dan kurang empati akan jatuhnya korban. Jadi mohon maaf sebelumnya jika ada kata yang kurang berkenan.

Innalillahi wa inna illaihi rooji'un.

Tragedi itu terjadi lagi. Negeri yang kocak ini digegerkan lagi dengan teror bom di Surabaya. Setelah sebelumnya terjadi ketegangan yang mengakibatkan korban jiwa di rutan di markas brimob kelapa dua, Depok, antara napi teroris vs anggota polisi.

Ketika teror terjadi di 'rumah' aparat penegak hukum saya anggap mereka mendapat lawan yang setara. Dia bawa senjata anda bawa senjata, ya silakan lah adu tembak, bom boman dll.

Tetapi yang saya sayangkan, kenapa harus di rumah ibadah, terlepas di Gereja atau lainnya. Namanya juga tindakan terorisme, mungkinn lain waktu bisa saja masjid, wihara, pura, candi hindu, atau borobudur bisa jadi targetnya.

Padahal ibadah itu perkara asasi antara manusia dengan dzat paling berkuasa, berkehendak dll yang disebut Tuhan, melalui metode dan cara yang dianutnya, mengikuti petunjuk manusia suci yang disebut sebagai Nabi.

Namun...rupanya mungkin tidak semua manusia sependapat dengan pendapat saya.

Saya paham dan tidak menutup mata bahwa kali ini pelakunya adalah beberapa keluarga muslim. Orang awam akan bertanya tanya, kok bisa ngebom sampai ngajak istri dan anak anaknya yang masih kecil. Kok tega?

Jawabannya adalah bisa. Kenapa? Saya coba akan bercerita pengalaman saya dulu sewaktu kuliah di ITS Surabaya, sekitar tahun 2002.

Seperti kebiasaan mahasiswa yang kuper, jika sudah malam saya sering menghabiskan waktu jalan jalan sendirian di Gramedia Kertajaya ketimbang jalan sama pacar. Lha wong ngomong sama cewek aja gemetaran, gimana mau pacaran.

Sebenarnya saya lebih menyukai buku buku komputer dan teknik, tapi tidak terpaku pada genre itu saja. Suatu hari ketika saya lagi tenggelam dalam rak buku buku Islam saya bertemu dengan seseorang yang berusia 35~40 tahunan, dan 'terlihat' lebih Islami dengan ciri berjenggot dan berdahi agak kehitaman. Lalu kamipun ngobrol basa basi perkenalan. Kemudian terlibat pembicaraan serius tentang Quran.

Saya orangnya 'open mind' walaupun saat itu cenderung berhaluan kiri, penganut Nietzsche dan Marxisme. Namun dari kecil saya mengenyam Madrasah dan dididik secara Islam yang taat. Walaupun sholat masih bolong bolong.

Karena ada perlu lain, akhirnya kami pisah dan bertukar kontak dan alamat. Ingat waktu itu belum ada Facebook, Whattapps, BBM dll. Yang ada telepon rumah dan hp tat tit tut (itupun jarang yg punya).

Singkat cerita, beberapa hari kemudian orang tersebut datang ke kosanku. Tentu saja saya welcome. Kemudian saya perkenalkan ke beberapa teman saya. Namun reaksi orang tsb menginginkan hanya saya saja untuk diskusi bedah Quran. Dan pada pertemuan berikutnya saya diajak ke masjid UPB di daerah Deles, tak jauh dari kosanku. Disitu saya bertemu dengan seorang lagi. Bayangan saya tuh.... saya diajak dengarin ceramah bareng bareng dengab jamaah lainnya. Tapi ternyata, di masjid tidak ada aktivitas selain sholat Maghrib, dan berdoa. Namun, di teras masjid saya dan 2 orang kenalan baru saya mengaji.

Mulanya tidak ada yang aneh... Tapi lantas orang tsb menukil nukil beberapa ayat dari surat, dan mencari arti pemahamannya. Tentu saja pemahaman menurut mereka. Hari pertama ngaji di luar kosan tidak terlalu aneh.

Kemudian beberapa hari kemudian saya ke masjid UPB sesuai janji ketemuan lagi. Sekali lagi seusai sholat kami tidak membaur dengan jamaah lainnya. Dan... mulai menggali dan menukil nukil surat tertentu. Saya agak mulai curiga kenapa yang dinukil adalah ayat ayat yang berkaitan dengan kenikmatan hidup di jalan Allah, jihad, dan penegakan amar ma'ruf nahi munkar. Penegakan ulil amri, dan menyerukan memerangi pemerintahan yang salah (Pemerintah yang Thoghut ).

Sebenarnya siapa yang tidak tergiur akan menjadi golongan yang langsung masuk ke Surga jika berjihad di jalan Allah. Betapa wangi surga tercium dan akan menjadi hamba yang mulia.

Suatu saat saya ada kerjaan (praktek demo), hingga nggak bisa ketemuan ngaji. Akhirnya ba'da Isya' salah satu dari mereka ke kosan saya. Ya... saya minta maaf namun janji untuk ketemuan kapan kapan lagi. Namun kenalanku tersebut sempat ketemu dengan teman kosanku yang seneng jahullah. Mereka tampak bertukar pikiran serius. Namun saya tidak terlalu perhatian, karena saya sibuk nyelesain demo PLC .

Kemudian setelah kenalanku pulang, temen kosku cerita kalau ternyata pemahaman dia beda dengan kenalanku. Bahkan dia menasehatiku, "ati ati lho Mat, kon ketemu nangdi ambek wong iku?"

"Lagi musim NII/DII, saya khawatirnya kenalanmu tersebut cenderung kesana atau golongan radikal lain", ujarnya.

Beberapa hari selepas dinasehati teman, saya masih ketemuan dengan mereka, bandel kan. Sebenarnya aneh ngaji kok dewean, saya sering nanya, katanya nanti diajak bareng bareng kalau sudah sama pemahamannya. Dan hari yang ditunggu tiba saya hendak diajak ngaji ke tempat lain. Apalagi nanti kalau ke lokasinya harus ditutup matanya. Disinilah saya berontak, mbatin "waduh mesti dibaiat aku."

Dari sini cerita saya 'ngaji' berhenti. Saya melarikan diri dengan alasan pacaran (kencan). Ya... kebetulan saat itu ada yang mau denganku, hehehe... Dan lama kelama kelamaan hilang kontak.

Btw, siapa yang tidak tergiur akan menjadi golongan yang langsung masuk ke Surga, jika berjihad di jalan Allah. Bahkan sebagai imam kenapa nggak mengajak keluarga sekalian untuk bersama sama di jalan yang 'mulia'. Menghancurkan kaum yang bertentangan (Thaghut). Walaupun harus berkorban nyawa, nyawa anak, nyawa isteri. Kalau untuk Allah kenapa nggak. Ismail kecil pun dengan senang hati untuk mengorbankan diri, jika ini adalah kehendak Allah.

Itulah jawaban kenapa mereka rela mengorbankan anak isteri.

Tapi... saya tidak sependapat kenapa harus melakukan teror di Indonesia. Kenapa memerangi sesama warga negara Indonesia, kita tidak sedang berperang. Kalaupun ingin menegakkan Islam di negara Indonesia bukan dengan cara ini.

Kita tidak bisa membersihkan sesuatu dengan air yang kotor.

24 Februari 2018

Super Parsa

Anakku cowok yang satu ini memang luar biasa dalam hal Matematika.

Padahal dahulu, saat masih sekolah kelas 1 ~ 2 di Batam dia masih lambat berhitung, dan memakai tangan.

Namun peningkatan pesat terjadi ketika istri dan anak yang pindah ke Lamongan, di saat Parsa kelas 3 SD. Waktu itu pertenghan kelas 3, ada brosur Kumon, dan istri tertarik untuk memasukkan Parsa kursus Kumon. Tentu saja aku yang merasa tidak pernah memaksakan ikut ini itu kecuali ajaran ibadah Islam, menanyakan Parsa, tertarik atau tidak dengan Matematika. Dan dia senang katanya. Akupun OK aja (siap bayarin SPPnya), asal dia bahagia.

Dan... dia mulai berkembang pesat. Level demi level telah di raih.

Pada waktu kelas 4 SD, Parsa pernah mengikuti lomba KMNR. Waktu seleksi tingkat Lamongan Parsa pun lolos ke Surabaya. Waktu di Surabaya, masih banyak teman temannya dari SD Muhammadiyah Lamongan yang bersamanya. Namun sayangnya, hanya Parsa lah yang lolos ke final di Bogor. Itupun hanya 5 orang wakil Lamongan dari kelas 4. Akhirnya saya pun ikut mendampingi beserta satu guru dari SD-nya. Tapi ketika di Bogor Parsa tidak mendapatkan medali. Namun kami semua sangat bangga padanya. Kamu hebat.. anggap ini pengalaman berharga.

Beberapa saat kemudian Parsa mendapatkan piala dari KUMON atas peningkatan level G kalau tak salah, yang luar biasa.

Namun kemudian istri memutuskan balik ke Batam setelah pengobatannya selesai. Jadinya yang tinggal bersamaku adalah istri dan adiknya Parsa, yaitu Echa yang mulai sekolah SD Mutiara Insani di Batam. Echa ini juga luar biasa, tapi nanti kujelaskan dalam segmen yang lain.

Parsa karena sudah merasa nyaman, akhirnya tetap sekolah di Lamongan. Tinggal bersama mbah Kung dan mbah Utinya.

Namun Allah memiliki cerita yang lain. Ada musibah, mbah uti atau ibundaku wafat. Otomatis galau dong ninggal anak dengan mbah kungnya saja.

Dan akhirnya, istriku menemui pihak sekolah untuk berencana memindahkan Parsa ke Batam lagi. Walaupun aku tahu sebenarnya Parsa gak mau, tapi dia pasrah saja. Namun rupanya pihak sekolah keberatan, karena banyak berencana mengikutkan Parsa dalam banyak perlombaan.

Ya udah, akhirnya kami mengurungkan niat itu. Apalagi mbah kung atau Bapak tidak mau diajak pindah menempati rumah adikku. Ya.... itung itung Parsa buat temennya mbah lah, setelah gak da ibu. Tapi tiap 3 bulan sekali pasti aku jenguk.

Ya.... Parsa pun diikutkan lomba Olimpiade Matematika seleksi kecamatan. Dan hasilnya, Parsa Juara 1 lolos tingkat Kabupaten.

Eh... selesai lomba ini, ternyata ada Olimpiade Ahmad Dahlan tingkat karesidenan Bojonegoro. Olimpiadenya yayasan Muhammadiyah se -Lamongan, Bojonegori, Tuban. Lagi lagi Parsa dapat piala, kali ini Juaara Harapan II. Karena ternyata ada presentasi yang mana si abang jelas 'susah' ngomong. Tapi patut bangga, karena dari Juara 1 hingga Harapan 1 semuanya kelas 6, dia sendiri kelas 5.

Tak jauh dari Olimpiade Ahmad Dahlan, eh langsung disusul Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten. Kalo menurutku, orang Lamongan kota 'kan sudah dikalahkan Parsa, jadi seharusnya mudah Juara. Namun rupanya tidak mudah, karena babak pertama nilai Parsa kalah dengan dari kecamatan Babat. Tapi di babak berikutnya Parsa meraih nilai terbaik dan Juara 1, disusul Babat, dan Aji anak SD Jetis III.

Perasaan baru tanggal 22 Februari dia tanding, ealah Sabtu ini, 24 Februari ini kok dia lomba lagi di Babat katanya. Juara atau tidak, kami patut bangga padanya.

Namun adakalanya abang sulit menerima kekalahan. Seperti saat lomba yang diadakan Sakinah dan di Babat tadi pagi. Mungkin dia mikir kok iso seh, padahal dia sempat nongkrong ranking 2 di sesi awal. Namun di final cuma peringkat 22. Tapi setelah aku cek soalnya memang dia melakukan perhitungan yang salah. Lha inilah saatnya bagi ortu untuk bisa menguatkan dan menerima kekalahan dari kesalahan. Wajar, mental anak masih muda tentu masih labil. Namun selama ada harapan dan tidak membuat patah arang. Tetap semangat, dan belajar dari kesalahan. Insya Allah bisa berprestasi lagi.

Terus terang saya iri, karena semasa SD saya hanya sekali ikut lomba MIPA, itu pun cuma dapat Juara Harapan I. Ya... si abang Parsa memang super, dan saya bangga dan bersyukur memiliki, mendapat amanah ini.



Duka Yang Berturut Turut


Sebelum ibunda meninggal, kami semua (anak turun mbah Daeah) sempat menjenguk Rina, adik sepupuku anak lik Pung yang ada di Surabaya. Rina adalah anak pertama Lik Pung kelahiran kalau tak salah tahun 1989. Adiknya Febrianto atau biasa dipanggil Yoyok aku tak pernah menjumpainya lagi, setelah dewasa.

Pada saat reunian keluarga besar Bani Amin beberapa hari pasca hari H Idul Fitri, kami memang diberi tahu kalau lik Pung selaku Ketua tidak bisa hadir karena Rina masuk RS, harus cuci ginjal.

Jadinya kami semua niliki Rina yang menurutku kondisinya memprihatinkan. Di dekat leher ada bekas lubang untuk transfusi cuci darah. Walaupun saat itu dia bisa duduk, namun sering batuk dan nafas seperti tersengal. Kami memompakan semangat.

Lik Pung sudah menikah lagi, setelah bu lik Sri ibunya Rina meninggal beberapa tahun sebelumnya karena diabetes.

Namun takdir illahi berkata lain. Rina pun menyusul ibunya karena penyakit yang sama di bulan September 2017, masih muda padahal. Di tempat yang sama dengan ibunya dia dimakamkan.

Kemudian ibunda tercintaku menyusul di bulan Oktober 2017.

Lalu Pakdhe Marlan, saudara sepupu ibuku turut menghadap illahi pasca sakit tua beberapa tahun di tanggal 9 Januari 2018. Tepat 3 bulan pasca wafatnya ibu. Dan beliau dikebumikan didekat ibunda tercinta.

Ya... takdir Allah itu penuh rahasia. Dan... ketetapan Allah itu pasti, tinggal kapan dan dimana itu adalah rahasia. Hanya bisa berdoa dan melakukan yang terbaik di dunia ini.

Saya Merindukanmu Bu, Maafkan Anakmu Ini

Lama aku tak berceloteh di blog ini, padahal banyak peristiwa yang kualami.

Satu kejadian paling menyedihkan adalah disaat aku, dan kami semua kehilangan ibunda atau mbah uti tercinta. Ya... ibunda tercinta, yang paling baik, paling bisa mengerti, paling sabar, dan semua yang terbaik telah menghadap illahi.

Padahal, aku berencana mengunjungi ibu dan merayakan, saat ulang tahunnya yang ke-67 di tanggal 10 Oktober 2017. Namun ternyata suratan takdir berkata lain.

Beberapa hari menjelang ultah ibu, yakni akhir bulan September, ibu merasa badannya lemes, nggak berdaya. Lalu cek ke dokter dan berobat, ternyata gula darahnya tinggi sampai 400an. Ibu memang ada riwayat gula darah tinggi (diabetes).

Namun beberapa hari tak kunjung enak badannya, akhirnya adikku yg pertama yang tinggal di Lamongan, Erni memutuskan membawa ibu ke rumah sakit RSUD Dr. SOEGIRI. Ibu dirawat disana. Adikku yang kedua, Evy pun memutuskan pulang dari Jakarta demi menunggui ibu. Pada hari keempat akhirnya ibu diperbolehkan pulang, di hari Jumat Malam. Kondisi ibu terlihat membaik, dan bahkan bisa 'keluyuran' di sekitar rumah. Aku bahkan dilarang pulang sama beliau karena sudah merasa baikan. Saat itu tanggal 7 Oktober, tapi aku tetap ngotot untuk pulang pada saat ibu berulangtahun tanggal 10 Oktober. Lagian aku pingin ngunjungi anak pertamaku yang kutitipkan di Lamongan sama Mbah Kung dan Mbah Utinya.

Lalu tanggal 8 Oktober, menurut adikku, ibu seperti diserang rasa panik, ketika tahu bapak tidak ada di rumah. Padahal saat itu bapak lagi cari bubur. Dan ibu batuk sedikit, namun nafas terasa berat.

Adikku yang kerja di Jakarta berencana balik lagi ke Jakarta pada hari itu. Namun dia ragu-ragu melihat kondisi ibu kok seperti itu. Namun, ibu menyuruh adikku untuk balik ke Jakarta, karena adiku sudah lama cuti. Dengan terpaksa adikku pun naik kereta api sesuai tiket yang telah dibelinya. Dan dia info ke aku kalau dia harus balik ke Jakarta namun tidak tega karena kondisi ibu drop lagi. Akupun sudah beli tiket pulang pada hari Senin pagi, 9 Oktober 2017. Karena tiket hari Minggu sudah habis.

Disaat lain, adikku Erni membawa kembali ibu masuk UGD RSUD. Sebenarnya saat itu, ibu bisa jalan naik mobil. Namun pada saat di UGD kondisinya drop, tapi masih sadar.

Gula darah ibu sekitar 400an. Mulai saat itu semua organ ibu dicek. Dan ditemukan ada phnemonia di lobus paru-paru yang sudah menyebar. Darah ibu saat diambil untuk dicek juga terlihat menghitam. Aku trenyuh dan hanya bisa berdoa karena aku tak disampingnya. Adikku Erni lah yang selalu mendampinginya, dan keponakanku dan bulik-bulikku.

Sampai jam 10 malam kondisi ibu belum stabil, ritme nafasnya masih kurang bagus, dan masih harus tetap di UGD. Menjelang pergantian hari, jam 12an malam, ibu dipindah ke ruangan rawat pasien. Karena kondisinya dirasa stabil. Sama di ruangan sebelumnya, bahkan adikku sempat berseloroh dan ibu masih tersenyum.

Namun... tak dinyana, sebelum masuk ke ruangan. Tarikan nafas sekali ibu dan tiba-tiba 'tertidur'. Dan... usaha RPJ sudah dilakukan maksimal. Sekitar setengah jam akhirnya dokter menyatakan ibu meninggal tepat di jam 1.00 dini hari, tanggal 9 Oktober 2017. Tepat sehari, sebelum ulang tahunnya.

Adikku Evy mengetahui kabar ini saat dia berada di KA yang tiba Semarang. Atas berita ini, tentu saja kami sekeluarga pulang dari Batam.

Namun... ternyata secepat-cepatnya kami. Aku tak bisa melihat wajah ibu tercinta di saat terakhir kali. Mungkin inilah penyesalanku, menunda nunda kepulangan.

Memang, aku sering pulang ke Lamongan, setidaknya 3 bulan sekali. Dan.... terkadang aku lupa, masih mencari-cari dimana keberadaan ibu, kok tidak menyapaku.

Hmm... aku kan selalu berdoa untukmu Bu, semoga engkau wafat dalam keadaan khusnul khotimah dan surga menjadi tempat tinggalmu. Aaamiin.

14 September 2017

Batam Krisis Energi?

Bolak balik mati listrik. Alasan biaya operasional melebihi anggaran. PLN Batam ibaratnya membalas dendam  atas tidak dikabulkannya kenaikan tarif.