Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

03 September 2019

Resensi Film Third Person (2013)


Anda pingin melihat Liam Neeson tidak melakukan aksi heroik dan baku tembak, namun berakting hanya kisah drama dan roman. Salah satunya bisa anda dapatkan di kisah film Third Person (2013).

Kisah Third Person ini menceritakan 3 karakter utama. Yakni Michael seorang Novelis yang pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer, Scott seorang desainer Amerika yang suka mencuri desain, dan Julia seorang mantan artis opera sabun.

Walaupun kisah ketiga film bersetting di tiga tempat, yakni Paris, Roma, dan New York. Kisah ketiga ini yang ternyata saling terkait, atau setidaknya ada benang merahnya.

Pertama, karena judulnya Third Person yang artinya orang ketiga, maka sudah tentu setiap karakter utama tadi sedang berhubungan dengan orang ketiga. Michael (Liam Neeson) berpamitan pada istrinya Elaine (Kim Basinger), untuk mencari inspirasi menulis novel berikutnya di Roma, yang ternyata dalam film ini, dia ada di Paris. Dan di Paris ini dia bertemu denga Anna (Olivia Wilde). Dari kisahnya, Michael tampak ingin menjauh dari istrinya dan melupakan suatu tragedi. Karakter kedua, adalah Scott (Adrien Brody) yang sedang berada di Roma, setelah mencuri ide desain. Dia bertemu dengan seorang gadis saat di bar yang bernama Monika (Moran Atias) yang sedang berjuang mendapatkan anaknya kembali dari seseorang bernama Carlo. Sementara Scott sendiri memiliki seorang istri yang bernama Theresa (Maria Bello). Karakter ketiga adalah Julia (Mila Kunis) yang sedang berebut hak asuh anak dengan mantan suaminya Rick (James Franco), yang ternyata telah menggandeng kekasih baru bernama Sam (Loan Chabanol). Sementara pengacara dari pihak Julia adalah Theresa.

Benang merah kedua, jika diikuti sangat dalam maka kisah ini dipersatukan dengan konflik yang hampir mirip, yakni tentang kisah tragedi anak. Diceritakan ternyata Michael dan Elaine juga baru kehilangan anak. Sementara Julia dipisahkan dari anaknya karena dianggap melukai anaknya, dan beralibi ingin mencegah anaknya dari hal bisa membuatnya tenggelam. Sedangkan Monika berusaha bernegoisasi dengan Carlo untuk mendapatkan anaknya, yang akhirnya mendapat empati dari Scott yang bersedia memberikan segalanya untuknya. Walaupun Scott juga tidak terlalu yakin, apakah anak Monika itu benar adanya, atau cerita fiktif Monika dan Carlo yang digunakan untuk memeras Scott. Sementara istri Scott, yang juga pengacara Julia, yakni Theresa berusaha menghilangkan trauma dari kolam renang, dimana mereka telah kehilangan anak mereka yang lepas dari pengawasan Scott sekian detik.

Kisah asmara, konflik batin, ketidakpercayaan, menghiasi film ini datang silih berganti dan pergi. Kalau membayangkan tinju seperti hit and run. Kisah asmara Anna dan Michael yang rumit, juga keadaan Julia yang jatuh bangun, dan konflik ketidakpercayaan dan asmara Scott dengan Monika. Pada akhir cerita bayangan Anna, yang berubah dari Julia, atau Monika, seakan menunjukkan bahwa kisah ini seolah-olah bagian dari Novel yang ditulis Michael. Tapi itu penafsiran saya, selebihnya tonton sendiri.

Parent Guide:
Ada beberapa adegan ketelanjangan Olivia Wilde yang harus anda sensor, jika menonton bersama anak.

29 Agustus 2019

Resensi Film Moon (2009)


Anda pernah menyaksikan Robinson Crusoe (Pierce Brosnan), Castaway (Tom Hanks), atau Buried (Ryan Reynolds)? Kira kira film seperti itulah Moon. Cerita tentang kesendirian atau terdampar pada suatu tempat yang jauh dari siapapun dan keluarga selalu menarik, dan akan selalu menampilkan perang psikologis, dan mungkin membuat para penonton terbawa.

Cerita Moon, yang dibintangi aktor watak yang selalu tampil bengal, Sam Rockwell yang kebetulan juga berperan sebagai Sam Bell. Nah, Sam Bell adalah seorang astronout yang ditempatkan di stasiun ruang angkasa "Sarang" (bahasa korea, arti Cinta) yang berada di bulan. Dia dipekerjakan oleh Lunar Industries, yang menambang Helium.

Sam meninggalkan bumi ketika istrinya Tess sedang mengandung anaknya. Sam, seorang diri berada di stasiun ruang angkasa tersebut. Eh, enggak ding, dia menghabiskan waktunya bersama robot pintar bernama Gerty, disuarakan oleh Kevin Spacey. Ya, nggak setragis Tom Hanks di Castaway yang hanya bicara sama bola volley Wilson. Bersama Gerty, segala aktivitas dan informasi keseharian Sam tercatat, dan sehari hari berkomunikasi. Diceritakan bahwa komunikasi dengan Bumi terganggu, sehingga tidak ada komunikasi video dua arah (live). Bahkan saat berkomunikasi dengan istrinya dia hanya bisa melalui pesan video. Diceritakan anaknya sudah lahir dan sudah besar. Sam merasa sudah hampir 3 tahun di stasiun tersebut, dan sebentar lagi pulang, sesuai kontraknya. Masalah mulai timbul ketika dia memeriksa kondisi di sekitar bulan dan terlibat kecelakaan. Dari situlah mulai terungkap kebenaran, dan apa yang terjadi sebenarnya.

Film Moon ini tidak benar-benar mengisahkan dunia sci-fi yang spektakuler. Latar belakang luar angkasa dataran bulan, bahkan hanya terlihat di beberapa scene saja. Ketika saat dia berpatroli mengecek kondisi bulan dan berusaha berkomunikasi dengan bumi. Selebihnya kita akan dibawa pada konflik batin, situasional, dan psikologis, yang diperankan dengan baik oleh Sam Rockwell.

Bagi anda pecinta teknologi sci-fi, anda tak akan mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi bagi anda yang menyukai film yang bertema Psychological Thriller. Film ini bisa menjadi rujukan untuk anda saksikan.

Bagi pecinta film bertema kesendirian atau terdampar, dengan banyaknya konflik psikologis dan misteri, film Moon semenarik Castaway. Dan jauh lebih menarik, daripada anda menonton film bertema serupa namun minim di situasi dan cerita, yang banyak menampilkan lekuk tubuh artis dan adegan hot, ala film Blue Lagoon, Survival Island, atau yang terbaru A.I Rising.

27 Agustus 2019

Resensi Film Hereditary (2018)


Tadi malam saya nonton film Hereditary. Jujur awalnya saya lupa genre film ini, saya pikir ini film Drama, maklum beberapa hari ini nonton film Drama. Mulai nostalgia ke Notting Hill, Great Expectation, lalu mencari film baru Manchester by The Sea dan film yang aneh, semacam Life Itself. Maka dari itu saya nonton film seperti biasanya jam 10 malam ke atas, untuk menghindari adegan 17+ tersaksikan oleh anak-anak.

Eh, ketika dari awal pembukaan sudah disuguhi dengan aroma kematian, saya langsung ngeh... Waduh ini film Horror! sebenarnya saya nggak takut dengan film Horror Hollywood semacam Sinister, Polaroid, Brightburn dll. Tapi jujur kalau Conjuring series memang rada nggak enak dilihat sendiri malam-malam. Ketika film berjalan saya mulai menebak-nebak fim Horror ttipe gimana nih film.

Film dibuka dengan kematian sang nenek. Setelah sang nenek meninggal, keluarga ini masih terdiri dari 4 orang. Yakni Ayah, Ibu, sang abang seusia remaja, dan si adik cewek yang masih anak-anak. Sang ibu ini seniman, buat seni instalasi rumah (maket) yang mirip kali dengan aslinya. si adik cewek rupanya memiliki bakat seni dari ibunya, yakni suka nggambar apa aja. sang ayah sibuk dengan urusan bisnisnya, dan sang abang yang dalam masa kenakalan remaja, yakni mulai coba-coba ngeganja. Diceritakan juga bahwa si adik ini punya alergi pada kacang, yang mana keluarganya sangat selektif ngasih makan sama dia.

Setelah kematian sang nenek, beberapa kali si ibu melihat penampakan. Bencana mulai muncul ketika sang abang ngeganja di sebuah pesta temannya sambil ngasuh adiknya, dimana ayah dan ibunya ada urusan. Kemudian teror mulai melanda keluarga ini, apalagi ketika sang ibu mulai bisa berkomunikasi dengan roh. OK spoiler, jadi nggak saya jelaskan roh siapa ini.

Kemudian film ini terlihat lebih kelam dan aura mistis mulai nampak, apalagi ketika setan setan mulai bermunculan. Dan jleng..... ini ketika saya sadari film ini sangat mirip sekali dengan "Pengabdi Setan" Joko Anwar yang tayang di 2017. Ya, kengeriannya dan goalnya. Saya tidak tahu apakah Ari Aster sengaja mbacem (baca: plagiat) filmnya Joko Anwar tersebut. Tapi dari plot dan beberapa suasana film besutan Ari Aster memang bisa lepas dari bayang-bayang Joko Anwar, dimana ada skenario dan twist yang berbeda.

"Hereditary" secara arti bahasa adalah "Turun Temurun". Ya, intinya menurut saya apa yang mau disampaikan cerita ini mirip dengan Pengabdi Setan. Saya juga merasa 'nggak enak' lihat film ini. Saya rekomendasikan film ini deh, buat kamu para pecinta film Horror yang pingin terteror dan terbawa suasana.

Saya biasa download film disini

10 Juni 2019

Siasat Demokrat dan Silatuhrami AHY


Kontestasi PEMILU 2019 sudah selesai di tengah-tengah masyarakat, dan bola panas tengah bergulir ke MK. Namun ditengah upaya tim BPN selaku kubu 02 Prabowo, tengah melengkapi bukti bukti kecurangan Pemilu. Internal tim BPN diguncang krisis koalisi dari Partai Demokrat selaku partai pendukung Prabowo-Sandi.

Tampaknya, setelah pengumuan pemenang Pemilu tanggal 22 Mei 2019, yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf membuat petinggi Demokrat yang tentu saja diamini SBY memutar haluan.

Sebagai seorang visioner, SBY tidak hanya melihat kondisi sekarang namun juga harus melihat masa depan. SBY tentu akan belajar dari hasil Pemilu tahun ini yang tidak menguntungkan Demokrat, bahkan suara Demokrat pun tertinggal oleh Nasdem, partai yang relatif baru.

Tapi itulah efek ketika tidak berada di pemerintahan, rupanya berpengaruh signifikan menggerus public trust. Oleh karena itu saya kira wajar, jika Demokrat akan mencari pelampung ke partai pemenang Pilpres, demi mendapatkan perhatian publik (media massa). Bahkan ia akan rela pecah kongsi, jika memang Jokowi yang menang.

Jika Jokowi terpilih lagi maka pada Pemilu 2024, posisi Presiden sudah tentu lowong. Karena petahana tidak bisa mencalonkan lagi. Meminjam istilah outsourcing, karyawan tersebut sudah maksimum kontrak. Disaat inilah akan muncul figur lain.

Apakah Prabowo akan ikut kompetisi lagi? Saya pikir tidak, kalaupun iya dia bukan figur yang menarik lagi, karena sudah renta sebagai nomer satu. Ya. . Walaupun Mahatir Muhammad ternyata masih terpilih lagi, ketika usianya sudah 90an.

Itulah kenapa, beberapa hari ini gencar berita AHY silaturahmi berbau politik ke keluarga Megawati, GusDur, Habibie. Agus Harimurti Yudoyono atau yang dikenal AHY, harus mengambil hati publik, dan lawan politiknya.

Bahkan jika dirunut lebih jauh, proses berlabuhnya ke kubu Prabowo pun terkesan setengah hati untuk menunaikan syarat agar bisa mengajukan calon di Pemilu 2024 dan menjelang last minute. Disamping itu, ada ketidaksinkronan kode dari SBY yang ditangkap oleh Prabowo, PKS dan Gerindra. Dimana malah Sandiaga Uno yang dimunculkan sebagai Calon Wakil Presiden, bukan malah AHY selaku pewaris tahta Demokrat. Tapi kini semuanya telah terjadi, dan AHY beserta Partai Demokrat yang tentu saja diamini SBY melakukan manuver politik yang mungkin bisa berdampak signifikan pada Pemilu 2024.

Ketika partai lain belum mencari figur calon presiden atau cawapres di 2024, AHY telah melakukan manufer tersebut. Jika PDI sebagai partai pemenang Pemilu 2019, nantinya akan memunculkan Puan Maharani, sebagai Capres 2024, rasanya akan susah mendapatkan perhatian publik, jika Cawapresnya bukan figur yang kuat pula. Kenapa, ya karena dia wanita. Ambil contoh Kepala Daerah yang dipimpin wanita, maka figur wakilnya harus kuat.

Atau bisa saja konstelasi berubah, dan Demokrat mengangkat figur AHY sebagai Capres dan berusaha mencari pengaruh dalam pusaran partai partai kubu Jokowi Ma'ruf.

Jangan lupakan pula tokoh tokoh lain yang siap bersaing di 2024. Seperti Risma, Ganjar, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, dan lain lain. Tapi yang pasti dari AHY dia punya modal, sebagai pewaris tahta partai Demokrat, sedangkan figur lainnya kecuali Puan Maharani, harus menunggu kebijakan partai.

Ingat, Demokrat tidak hanya mengincar jabatan Menteri di Pemerintahan Jokowi periode kedua saja. Tapi ini adalah langkah politik Demokrat untuk comeback ke Pemerintahan. Kita lihat saja nanti, langkah-langkah AHY selanjutnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri


السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kami sekeluarga turut mengucapkan "Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah"

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمَ

Taqabbalallohu Minna wa Minkum shiyaamanaa washiyaamakum taqabbal ya Kariim

Mohon maaf lahir batin atas segala salah & khilaf. Semoga amal ibadah dan puasa kita diterima Allah swt ... amiin ya rabbal alamin

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Rakhmat & Keluarga

30 April 2019

Anti Jokowi Sampai Mati

Ada yang tanya kenapa saya nggak milih Jokowi, padahal saya orang Jawa?

Ya... Gimana lah... Kalau ada orang yang die hard Jokowi, lha saya kebalikannya.
Selain karena melihat tangan tangan di belakang Jokowi yang tidak saya sukai tentu saja saya alergi lihat PDIP.

Bagi saya, Jokowi itu seperti Manchester United di Liga Inggris atau Barcelona di Liga Spanyol. Dua klub yang sangat kubenci dan gak pernah saya dukung.

09 April 2019

Kartu-Kartu Sakti Jokowi; Barang Lama Kemasan Baru

Saya mau menyoroti tentang kartu kartu yang dikeluarkan oleh Capres Petahana 01, Joko Widodo - Ma'ruf Amin.
Saya mencoba netral melihat ini, berusaha tidak memojokkan atau menjelekkan-jelekan Jokowi.

Dalam kampanyenya Jokowi-Ma'ruf, selalu menawarkan kartu-kartu saktinya, antara lain:
1). Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
2). Kartu Sembako Murah, dan yang terakhir.
3). Kartu Pra Kerja.

Dari sini, pendukung lawan pasti akan mengkritisi habis-habisan diterbitnya kartu-kartu ini. Bayangan mereka, berapa sih APBN Indonesia? Bisakah Indonesia mengakomodasi semua hal ini? Tapi saya yakin semuanya ini sebenarnya program yang sudah ada.

Menurut saya, kartu kartu ini sebenarnya sudah ada dalam pemerintahan sebelumnya, atau dalam pemerintahan yang telah berjalan, hanya kemasannya saja yang diubah.

Kita soroti satu-persatu ya:

1). Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah
Sebenarnya program untuk mengkuliahkan masyarakat Indonesia dari kalangan tidak mampu sudah diakomodir beberapa tahun belakangan. Ingat, beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta terpilih, memiliki program yang bernama "BIDIKMISI". Yaitu bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan tinggi. Program ini sebenarnya sudah eksis sejak jaman SBY, sejak tahun 2010.


2). Kartu Sembako Murah
Untuk program ini, saya kira Jokowi disini hanya mengutak atik program yang sudah ada, yaitu Bantuan pangan Non Tunai (BPNT). Tentu saja penerimanya ya Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Konsepnya sama, mulai BLT, lalu BPNT, dan sekarang kartu Sembako murah, hanya berganti nama lagi. Intinya ganti judul saja.

3). Kartu Pra Kerja
Untuk Kartu jenis ini, saya pikir Jokowi hanya memanfaatkan momentum dari sisi yang tidak diberesin oleh Dinas Tenaga Kerja. Anda para pencari kerja tentu akrab dengan apa yang disebut Kartu Pencari Kerja atau biasa kita menyebutnya Kartu Kuning. Sebenarnya konsep kartu kuning ini kurang jelas selama ini. Ketika para pengangguran mencari kartu ini dan mendapatkannya, maka seharusnya kartu kuning membantu para pencari kerja. Jika dalam waktu 6 bulan ternyata belum bekerja harus informasi ke Kemenaker. Tapi kan kenyataannya tidak banyak yang informasi.

Sisi inilah yang berusaha dimaksimalkan tim sukses Jokowi dengan meluncurkan Kartu Pra Kerja. Saya sendiri kurang paham dengan konsep timses nya. Tapi menurut saya kartu kuning ini bisa dioptimalkan dengan kartu pra kerja tadi. Misalnya kalau sudah kerja, maka kartu pra kerjanya diambil oleh pemberi kerjanya (perusahaan) untuk dikembalikan ke Kemenaker. Nah, yang belum ini, jika selama beberapa waktu belum dapat kerja bisa mendapat insentif dan pelatihan dari BLK atau Kemenaker. Dan akhirnya kartu itu akan dikembalikan ke pemerintah melalui Kemenaker jika sudah diterima kerja. Masalahnya sisi ini harus terintegritas dengan lembaga perusahaan dan lapangan kerja. Nah kalau ternyata lapangan kerjanya kurang, ya harus ditumbuh kembangkan, baik itu melalui investasi dalam negeri maupun luar negeri. Dan, tentu dengan memberi ruang dan kesempatan lebih baik untuk tenaga kerja dalam negeri kita, dibanding memberi keleluasaan kerja untuk tenaga asing.

Kalau mau jujur, timses Jokowi sebenarnya lebih pintar dalam membaca peluang terhadap hal-hal 'remeh temeh'.

Sekarang dengan database e-KTP yang jelas. Maka sistem kependudukan di Kemendagri harus bisa diakses disemua Badan atau Dinas yang terkait dengan data kependudukan. Sehingga semua menjadi terdata dan jelas. namun, tentu saja selain kemudahan pelayanan, masyarakat harus berperan aktif untuk mengupdate segala data kependudukan yang ada.

Pertanyaannya, tidak cukupkan satu kartu saja buat semuanya? Yaitu e-KTP saja. Seharusnya bisa, tapi itu semua tergantung manajemen pemerintahan apakah bisa mengintegrasikan kinerja Kementerian lainnya, baik itu Kemendagri, Kemenaker, atau Kemensos. Secara substansial, sistem itu sudah ada, tinggal dimaksimalkan dengan yang ada sekarang.

Kartu kartu sakti itu, sebenarnya indikasi (flag) untuk memberi tanda NIK yang butuh perhatian khusus. Untuk Kartu Sembako Murah, KIP Kuliah, dan Pra Kerja.

Jadi yang bisa saya katakan disini, Kartu Kartu Sakti Jokowi, sebenarnya barang lama kemasan baru.

Jadi siapapun Presidennya, baik itu Jokowi ataupun Prabowo, semuanya bisa mengaplikasikan program-program sembako murah, kuliah untuk kalangan berprestasi dari keluarga tidak mampu, dan mengurangi pengangguran.

13 Maret 2019

Persela: Tim Yang Jago Mengorbitkan Pemain Asing dan Pemain Muda

Persela ibarat Kawah Candradimuka bagi para pemain asing. Tekanan yang tidak terlalu tinggi plus kesempatan besar tampil sebagai pemain utama membuat banyak pemain asing memilih Persela sebagai pelabuhan sebelum hijrah ke klub lain dengan bayaran selangit. Sudah banyak contoh pemain asing yang 'jadi', ketika mereka pertama tiba di Indonesia berseragam Persela.

Oscar Aravena, di awal kariernya di Indonesia pada 2003 ditempa di Persela. Penyerang haus gol asal Chili ini hanya semusim di Persela. Pada tahun 2004 langsung dibajak PSM, dan langsung melesat jadi top scorer kasta elite.

Fabiano Rosa Beltrame, bek tangguh asal Brazil ini mengawali karier di Lamongan 2005-2006, serta 2008-2011, sebelum akhirnya hijrah bermain ke tim-tim elit dan royal semacam Persija, Arema, dan Madura United.

Gustavo Lopez, pengatur serangan asal Argentina yang mempesona, juga pernah mencicipi kostum Tim Biru Langit pada musim 2006-2007 serta 2011-2013. Saat datang ke Lamongan banderol Gustavo murah di bawah Rp500 juta. Nilainya melonjak saat Arema menggaetnya pada 2014 lalu.

Srdan Lopicic, yang menjadi motor permainan Persela di LSI 2014, dan musim berikutnya langsung digaet Pusamania Borneo FC. Padahal, saat datang kali pertama ke Indonesia ia sempat ditolak sejumlah klub, yang tak yakin pada kemampuannya.

Adisson Alves, striker asal Brazil pemegang paspor Brazil dan Spanyol ini, waktu itu hanya dihargai Persela Rp500 juta, kemudian ditarik klub elite Thailand, Osotspa. Kontraknya melesat di atas 100 persen. dan kemudian masih beredar di klub elite Liga 1.

Musim 2018, Persela sebenarnya memiliki pemain asing yang luar biasa. Ada Diego Assis, Wallace Costa, dua pemain asal Amerika Latin yang mumpuni ditambah striker haus gol dari Perancis Loris Arnaud. Sayang, sebelum musim kompetisi 2019 digelar, mereka tak bersama lagi dengan Persela. Diego Assis langsung diambil oleh Al Ain Arab Saudi, Loris Arnaud langsung disabet oleh PS Tira Persikabo, dan Wallace Costa memilih merumput bersama PSIS, di Jati Diri Semarang.

Permintaan gaji yang tinggi tentu menjadi faktor utama para pemain asing yang moncer di Persela itu kini hengkang dari tim kebanggaan masyarakat Lamongan. Persela sebagai tim eks perserikatan yang terbiasa disuapin APBD Lamongan dan kurang mendapatkan sponsor yang besar, tentu tidak bisa jor-joran dalam menggaji pemain, apalagi pemain asing.

Untuk pemain lokal saja, Persela lebih mengembangkan pemain pemain muda dan memberi kepercayaan dan jatah waktu bermain yang banyak, agar siap menjadi bintang. Contoh yang paling mentereng adalah Saddil Ramdani, yang kini bermain di klub Malaysia, Pahang FA. setelah 2 musim sebelumnya menjadi bagian penting dari Laskar Joko Tingkir. Begitu pula Fahmi Al Ayyubi dan Ghifari Vaiz, dia menjadi produk lokal yang memberi asa baru untuk menjadi pemain bintang masa depan. Persela juga memberikan kepercayaan pada pemain muda pinjaman untuk bermain lebih banyak, seperti Gianzola dan Dendi Setiawan.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan kalau pemandu bakat Persela cukup jeli melihat potensi pemain impor. Tidak seperti klub-klub elite macam Persija, Persib, Persipura, Arema, Sriwijaya, Madura United, Bali United yang lebih memilih cara instan dalam mendapatkan pemain asing. Manajemen Persela lebih hati-hati memilih pemain dan mencari pemain asing yang masih berharga murah dari negara negara Amerika Latin. Syukurnya banyak pemain yang datang kualitasnya bagus-bagus, dan pastinya tidak menuntut nominal kontrak setinggi langit.

Kini pada musim 2019, Persela sudah move on dari Diego Assis, Loris Arnaud, dan Wallace Costa yang meninggalkannya. Persela kini diperkuat pemain asing yang tampil menjanjikan saat membekap Persita 2-0 dan Arema 1-0 di Malang, pada momen Piala Presiden. Mereka adalah striker Washington Brandao dari Brazil, gelandang asal Argentina Jose Sardon, gelandang lincah dari Jepang Kei Hirose, dan bek yang tangguh dari Brazil Jairo Rodriguez. Semoga Persela bisa mengulangi sejarahnya, dengan membuat moncer para pemain asingnya. Apalagi Persela juga masih memiliki darah muda semacam Hambali, Fahmi, dan Ghifari. Dan yang paling penting, Persela telah mendapatkan Penjaga Gawang yang tangguh Dian Agus Prasetyo, yang terpinggirkan dari Barito Putra.

Saya rasa, kali ini Persela akan menjadi tim yang luar biasa musim ini, dan siap menjadi penantang gelar. Dengan catatan, Persela juga harus memiliki kedalaman skuad untuk mengarungi musim kompetisi 2019.