Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

05 September 2009

Menyikapi Fatwa MUI Yang Mengharamkan Mengemis

Pada akhir Agustus 2009, ada sesuatu fatwa yang cukup bombastis (mengejutkan) yang dikeluarkan (lagi) oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Yaitu fatwa haram untuk mengemis. Seperti kita ketahui keputusan ini dikeluarkan oleh MUI Sumenep, Madura, Jawa Timur. Putusan MUI Sumenep tersebut lantas diamini (mendapat dukungan) dari MUI Pusat.

Seperti yang saya cuplik dari detikcom, ada wawancara dengan Ketua Komisi Fatwa MUI, Anwar Ibrahim.
"Sudah bertahun-tahun kita mengimbau untuk tidak pernah menyetujui pengemis-pengemis itu. Bukan hanya Ramadan saja, tapi seterusnya juga. Adanya fatwa haram tersebut diharapkan agar masyarakat yang biasa mengemis jera sehingga mereka tidak bermalas-malasan. Mengemis itu menjadikan diri hina dan merugikan orang lain. Islam sendiri dikatakan sudah secara tegas melarang kegiatan mengemis karena termasuk bermalas-malasan."

Sebagai manusia yang masih punya hati nurani apalagi sebagai umat muslim, saya juga pasti selalu merasa iba apabila ada seorang pengemis bertubuh lusuh, kurus, apalagi cacat atau masih kecil meminta-minta uang di pinggir jalan. Spontan, selagi saya masih ‘punya’ uang pasti saya memberikannya barang sedikit. Apa salahnya kita bersedekah kepada mereka bahkan itu adalah kewajiban kita berbuat amal sholeh dan membantu orang fakir miskin. Didalam harta kita juga terkandung hak-hak mereka.

Dan saya rasa memberi bantuan kepada orang lain itu, tidak salah bahkan berpahala (insya Allah), tergantung faidah hasil pemberian orang tersebut. Namun di jaman sekarang ini, pengemis itu sangat beragam visi dan misinya. Dan ini tak bisa dipukul rata.

Masalah ini timbul dikarenakan MUI telah mengeluarkan fatwa haram. Ingat kita tak bisa bermain-main dengan kata-kata halal dan haram sak penake udele dhewe, alias sesuka hati. Padahal perbuatan haram adalah sebuah status hukum terhadap suatu aktivitas atau tindakan, yang dilarang secara keras oleh Allah dimana orang yang melakukan tindakan haram tersebut akan mendapatkan konsekuensi berupa dosa. Artinya secara tidak langsung, bahwa setiap orang yang mengemis adalah berdosa dan diancam masuk neraka oleh Allah. Naudzubillah!

Padahal setahu saya MUI terdiri dari kumpulan orang-orang Islam yang hebat, kumpulan ulama Islam, pemimpin agama yang jelas-jelas melek agama dan paling berilmu diantara umat. Menurut saya, dengan memfatwakan mengemis itu haram berarti seakan menjadikan pikiran mereka itu dangkal, jika hanya tujuannya agar umat tidak bermalas-malasan dan jera, lha kok sampai diancam neraka segala. Ini kan sudah gak bener? Seharusnya kita lihat dulu akar permasalahannya mengapa mereka ini menjadi pengemis. Jangan langsung dipukul rata sehingga lantas kita malah bisa mendzolimi ajaran agama Islam itu sendiri.

Pada intinya, yang saya ketahui ada beberapa jenis pengemis disini, yaitu:
1.Pengemis yang melakukan pekerjaan ini karena ‘merasa’ tak bisa mendapatkan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dikarenakan kondisi fisiknya yang renta, lemah atau cacat.
2.Pengemis yang melakukan pekerjaan ini karena ‘merasa’ dengan mengemis mereka bisa lebih cepat memenuhi kebutuhannya (mendapatkan uang) daripada bekerja keras padahal tubuh (fisik) mereka mampu (tidak lemah). Sehingga lantas mengemis dijadikan sebuah profesi.
3.Pengemis yang melakukan pekerjaan ini karena ‘merasa’ mengemis adalah pekerjaan turun temurun yang harus dilestarikan.

Nah, kategori nomor dua dan tiga ini mungkin bisa masuk (berlaku) fatwa haram. Masalahnya bagaimana kita membeda-bedakan pengemis seperti kategori di atas?

Mengemis artinya mengharapkan belas kasih orang lain untuk mendapatkan sesuatu (biasanya berupa uang atau makanan). Namun sesungguhnya mengemis itu dapat timbul karena lemahnya kontrol pemerintah dan publik pada jaring pengaman sosial. Saya sampai heran bagaimana cara Pemerintah mengelola keuangannya sekarang ini hingga kok masih ditemukannya pengemis. Katanya ada Departemen Sosial apalagi ada banyak sekali badan-badan penyalur zakat, belum lagi LSM-LSM yang didirikan untuk mengatasi kemiskinan. Maka seharusnya di negara kita tidak ada orang yang mengemis, iya toh! Benar, tapi itu semua cuma teori.

Pada kenyataannya fungsi lembaga sosial, dinas sosial, ataupun lembaga penyaluran zakat tak berjalan seperti semestinya. Seharusnya dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai 83 persen populasi bangsa Indonesia, MUI bisa membuat fatwa yang lebih produktif, seperti mewajibkan seluruh umat muslim yang mampu untuk mengeluarkan zakat pendapatan 2.5 persen setiap bulannya. Namun hal ini harus didukung sarana dan prasarana yang memadai, kalau bisa satu wadah koordinator sehingga distribusi pembagian dana zakatnya lebih terstruktur.

Sementara Pemerintah melalui Dinas Sosial melalui program BLT-nya tampak kurang mengena sasarn yang dituju, sehingga program seperti ini justru sama saja membuat malas masyarakat. Artinya Pemerintahan telah gagal menuju titik sasaran, juga MUI terlalu tergesa-gesa memfatwakan haram mengemis, tanpa melihat kehidupan umat dan tidak bisa selaras dengan Pemerintah.

Sebenarnya menurut aturan sebelumnya mengemis itu perbuatan halal, dan jauh lebih mulya daripada merampok, mencuri dan lain sebagainya. Dan Nabi juga pernah bersabda, "Bahwa tangan di atas lebih mulya daripada tangan yang di bawah."

Namun yang terpenting di era seperti ini adalah membangkitkan kepekaan sosial pada tetangga di sekitar kita, agar tiada orang miskin dan pengemis di lingkungan tempat tinggal kita.

04 September 2009

Kudeta

Menurut http://wikipedia.org/wiki/kudeta

Kudeta (dari bahasa Perancis: coup d'état, pukulan terhadap negara) adalah sebuah "penggulingan kekuasaan" atau "penggambilalihan kekuasaan" secara paksa, biasanya secara keras oleh golongan tertentu dalam sebuah negara. Biasanya lebih banyak dilakukan (berasal dari) militer (tentara) daripada sipil.

Sebenarnya iseng saja pingin nulis istilah kudeta, kisahnya seperti ini. 5 orang rekan sekerjaku berangkat ke Bogor untuk berpartisipasi pada Matsushita Indonesia Quality Control Convention (QCC) pada tanggal 2~4 October 2009. Mereka mewakili perusahaan kami dalam ajang quality control dan improvement tahunan tingkat Panasonic seluruh Indonesia. Hal ini dicapai setelah salah satu tim di section kami ini, meraih juara kedua di internal convention perusahaan kami. Hmm...biasanya sih itu jadi tradisiku beserta timku (gak sombong nih sebagai pemegang runner-up Internal QCC berturut-turut tahun 2006 dan 2007). Namun tahun ini tim bentukanku tak mulus berjalan. Maklum, mungkin karena baru kerjasamanya kurang kompak, sedangkan timku yang dulu sudah bubar.

Kembali soal rencana berangkat ke Bogor, kepergian mereka tentunya tidak sendiri ada jajaran manajemen dan HR yang menyertainya. Sebagai pembina QCC pusat dan adviser 3 orang telah dipastikan ikut, dan si Bos eeh... menyatakan diri turut juga.

Wah... bakal lowong dong kekuasaan, tiga hari tanpa pimpinan bakal terjadi kudeta nih, hehehe... maklum terinspirasi peristiwa G30S. Parahnya si Bos mulai menampakkan gejala 'aneh' akhir-akhir ini. Maksudnya nampaknya si Bos sudah mulai tidak betah di perusahaan ini, kayaknya obsesinya kembali ke Jakarta (lagi). Maklum produk yang hampir mulai EOL (End of Line), tapi kok belum dapat development product, itu kan membuat risau semua orang tak terkecuali si Bos. Padahal dari 3 orang yang ngambil produk ini di Jepang, 2 orang yang lain sudah resign duluan. Curigaku bertambah, ternyata si Bos sudah mengajukan penundaan jadwal pulang ke Batam, yang rencana awalnya balik Minggu. Wah.. patut dicurigai. Tapi tidak apa-apa kalau Bos tak balik berarti kudeta kami sukses, Andy Yuli (Kentung) jadi Bos, aku jadi Wakilnya, hehehe....

Tips Menghadapi Boss Yang Menyebalkan

  1. Jangan biarkan Boss yang menyebalkan bisa mempengaruhi suasana hati Anda. Tetap positif dan sikap apapun dari Boss akan menjadi lebih mudah untuk ditangani.
  2. Diskusikan masalah ini dengan orang terdekat Anda, teman ataupun keluarga. Anda perlu berbagi mereka karena sharing itu pun juga bersifat terapi. Keluarga atau teman dekat dapat mendukung serta membantu Anda melalui hari-hari yang paling sulit di tempat kerja.
  3. Jika Boss anda memberikan kritikan yang tidak perlu atau bahkan tidak adil, kadang mudah sekali Anda terlarut dalam debat kusir dengannya. Biasanya konfrontasi seperti ini merupakan cerminan pribadi bos anda yang buruk (insecurity) . Jadi lebih baik Anda hindari perdebatan seperti ini terutama tentang siapa yang benar atau salah. Langsung saja dengan membahas solusinya dengan sikap tenang.
  4. Ambil cuti jika masalah ini mulai membuat Anda stress, sama seperti yang akan Anda lakukan jika Anda sakit secara fisik (demam,flu, dll). Karena stress juga akan berdampak terhadap kesehatan jiwa anda (depresi).
  5. Hindari melapor atau mengadu ke Bos-nya Boss. Kemungkinan besar mereka akan mendukung atasan Anda dan ini bisa menyebabkan masalah lebih besar lagi. Lebih baik jalin hubungan baik dengan senior di perusahaan Anda, tetapi diluar rantai komando (beda department/divisi) . Mereka biasanya akan lebih obyektif .
  6. Jika Boss menyerang Anda secara tidak rasional, minta dia untuk menjelaskan ulang. Ini akan membantu Boss Anda untuk bisa memahami kekurangan dalam argumennya atau mungkin mendapat pemahaman lain dari sudut pandang anda.
  7. Berbicara dengan teman dan rekan di tempat kerja. Cari tahu apakah mereka menerima perlakuan yang sama dan apakah mereka setuju bahwa itu tidak adil. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah hal ini berlaku kepada anda secara khusus atau bos berlaku tidak adil kepada semua orang.
  8. Jangan bawa pekerjaan pulang. Ingat, boss anda hanya membayar waktu bekerja anda di kantor, bukan di rumah. Mereka tidak memiliki hak atas waktu senggang Anda di rumah.
Tetap Semangat!!

03 September 2009

Kita Tak Butuh Nasionalisme Saja

Beberapa pekan terakhir, kita seolah tergiring oleh media dengan topik pencaplokan seni budaya dan wilayah Indonesia yang dilakukan oleh Malaysia. Seperti kasus tari pendet, lagu kebangsaan Malaysia yang diduga menjiplak, dan pemasukan nama Pulau Jemur dalam iklan wisata Malaysia.

Beberapa saat yang lalu Malaysia juga mengklaim Reog (mereka menyebutnya Barongan) adalah salah satu budaya khasnya. Kemudian mengakui angklung sebagai budayanya walaupun notabene angklung adalah budaya khas sunda (Jawa Barat) Indonesia. Belum ditambah lagi kasus perebutan Pulau Ambalat, pelanggaran garis batas laut oleh patroli Diraja Malaysia, perebutan masakan Rendang, pematenan wayang, batik parang rusak dan lain sebagainya.

Saya melihat ternyata respon masyarakat Indonesia cukup meluap-luap dan emosional. Mulai dari membakar symbol-simbol Malaysia dan benderanya, meretas website berdomain Malaysia (my), hingga mencetuskan perlawanan ganyang Malaysia. Hebat! Kalau sudah seperti ini ‘kan nyatanya bangsa Indonesia bisa kompak, bersatu melawan musuh yang sama. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya itu semua tak cukup, adanya hal seperti ini justru ‘seharusnya’ membuka kembali wawasan kita, mengingatkan kita akan sesuatu hal, yaitu nasionalisme.

Perbatasan Wilayah
Indonesia, dimana mempunyai wilayah yang sangat luas membentang dari barat ke timur, dari Sabang (Nangro Aceh Darussalam) hingga ke Merauke (Papua). Juga terbentang luas dari utara menuju selatan melewati Khatulistiwa, dari Miangas (Kep. Talaud, Sulut) hingga Pulau Rote (NTT). Wilayah Indonesia pun berbatasan dengan banyak negara antara lain Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, dan Papua Nugini. Berbagai suku, adat, dan budaya mewarnai keanekaragaman bangsa Indonesia. Belum ditambah kekayaan mineral yang melimpah serta hutan hujan tropis yang rimbun dan banyak (dulunya sih, sekarang banyak digantikan kelapa sawit). Kita memang harus bangga sebagai bangsa Indonesia. Tapi mungkin kebanggaan itu hanya berlaku sejak awal periode kemerdekaan sampai tahun 1980-an. Setelah itu apa yang patut kita banggakan dari nasionalisme itu?

Harta dan kekayaan sumber daya hayati telah dirampas sendiri oleh bangsanya sendiri, yang memiliki kekuasaan. Yang berkuasa memiliki kewenangan untuk ‘memberdayakan’ sumber daya alam ini, dimana jatuhnya juga ke tangan asing. Parahnya, keuntungan itu tak menjadi milik Negara, melainkan kroni penguasa. Seperti halnya pepatah homo homini lupus, sing kuwat sing rumongso, atau lebih jelasnya yang kuat menindas yang lemah.

Tapi itu sudah terjadi, kita tidak perlu menyesalinya, anggap itu sejarah kelam Indonesia. Seharusnya kita sebagai generasi selanjutnya yang mengemban maju mundurnya negara harus mulai menata kembali negara Indonesia ini, jangan malah ikut memperburuk perekonomian bangsa dengan melestraikan budaya korupsi serta perusakan-perusakan kekayaan negara lainnya. Masalahnya sesungguhnya adalah terletak pada saudara sebangsa kita yang duduk di Pemerintahan. Bisakah Pemerintah bersikap adil pada rakyatnya sendiri?

Coba mari lihat saudara-saudara ‘kita’ (kalau anda masih menganggapnya saudara) yang ada di tepi batas Negara ini. Seperti di Kepulauan Talaud, di Kepulauan Sebatik, di pulau Natuna, di Entikong, atau di Papua. Andaikata kita yang hidup di sana, masihkah kita merasakan merah putih berkibar di hati kita? Saya rasa orang yang mengeluarkan slogan seperti ini, "Jangan biarkan bangsa asing merebut tanah air kita barang sejengkalpun!" adalah orang yang sesat dan tidak berpikir luas. Coba orang itu ditaruh saja di salah satu tempat itu selama tiga tahun tanpa bisa pulang ke asalnya lalu kemudian tanya masih adakah merah putih dihatinya, jika ternyata negara lain di perbatasan lebih memberikan perhatian kepada penduduk sekitarnya daripada negara kita tercinta ini.

Lantas untuk apa mati-matian mempertahankan wilayah perbatasan jika hanya di biarkan tak terurus. Kehidupan masyarakat disana pas-pasan, dimana kebutuhan primer rakyat tak terpenuhi, andaikata ada itupun harus sabar menunggu datangannya dan yang jelas mahal. Harus diapakan lagi Pemerintah supaya telinganya lebih peka, supaya bisa mendengar penderitaan saudara-saudara kita? Opo disogrok wae kupinge nggawe tugu pahlawan? Kadangkala mereka sepertinya lepas tangan (kalau tidak mau dibilang tidak mau tahu) dan seolah mengandalkan Pemerintah Daerah untuk menangani itu semua. Padahal itu bukanlah tugas mudah untuk membuat kebutuhan perekonomian terpenuhi. Jadi apa salahnya kalau ternyata warga sekitar sana lebih memilih wilayahnya dicaplok negara lain yang bisa memberikan kesejahteraan daripada makan hati dengan memegang teguh nasionalisme? Itu selama Pemerintah kita masih menganggap daerah perbatasan adalah bagian belakang rumah, bukan menganggapnya sebagai halaman depan rumah kita.

Kebudayaan Indonesia
Nasib serupa dialami para pelestari budaya Indonesia, seniman seperti kurang mendapat apresiasi dari Pemerintah. Padahal untuk memikat turis asing datang ke negara ini, Pemerintah seharusnya serius dan pandai mengelola sector wisata ini sebagai industri. Mulai dari membenahi hulu ke hilir, yakni dimulai dari daerah wisata, pelestarian kebudayaan daerah tersebut, sarana, dan prasarana, agen perjalanan, hingga promosi wisata besar-besaran melalui media informasi yang tepat. Sangat banyak investor yang berminat menggarap industri pariwisata kita, masalahnya Pemerintah tidak melihat peluang itu. Bandingkan dengan Malaysia dengan program Malaysia is truly Asia-nya.

Bangsa kita lebih beranekaragam budayanya mulai budaya Melayu (Sumatera), Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan lain sebagainya. Selain itu kita juga memiliki berbagai macam etnis pendatang seperti Arab, India, China, dan lainnya. Lengkap sudah, sebenarnya yang lebih pantas menyandang Truly Asia adalah kebudayaan Indonesia, justru lebih menarik ‘dijual’ ke negara lain daripada Malaysia atau Singapura.

Sekali lagi ya, karena Pemerintahan kita masih merem, eh tidak sih… mungkin tidak melihatnya. Andai negara ini ‘lebih’ peduli tentu kekayaan budaya ini sudah dipatenkan dan didaftarkan semua ke UNESCO. Tidak seperti sekarang ini, ketika ada negara lain yang ingin ‘melestarikan’ budaya kita -yang kita mungkin tak sadar kalau ternyata itu milik Indonesia- justru kita maki habis-habisan. Padahal, setelah mati-matian mempertahankan budaya tersebut, apa sih yang diperbuat Pemerintah? Melestarikan dan ‘menjualnya’ dalam event pariwisata kita, mendaftarkannya ke UNESCO, atau bagaimana? Sejauh ini saya tidak melihat langkah kongkrit Pemerintah untuk mewujudkan industri pariwisata nomor satu di Asia. Semoga Pemerintah lebih menghargai semangat nasionalisme rakyatnya sendiri, jangan malah mengkhianati merah putih hatinya rakyat Indonesia.

Puasa Bukan Saat Bermalas-Malasan

Romadhon memang sudah menjelang pertengahan bulan. Rupanya ada beberapa fenomena yang menarik yang patut saya soroti. Tapi kali ini saya mau menyoroti efek yang terjadi selama puasa ini di kehidupan lingkungan sekitar saya bekerja.

Puasa itu menyenangkan, puasa itu menjaga kesucian iman kita, itu benar. Tapi orang berpuasa itu ya jelas haus, lapar, dan kalau sudah dua hal itu timbul ya pastinya lemas, dan ngantuk.

Tapi puasa di tempat kerja saya sebenarnya kurang mendapat 'tantangan', selain karena kerjanya tidak berat, juga tempatnya ber-AC, terlindung dari panas. Tapi ini tidak berlaku untuk bagian packing dan store sama ceritanya dengan orang yang bekerja di lapangan, bisa berpuasa adalah hal yang mengagumkan.

Fenomena yang menarik ditempat kerja saya adalah rindunya kita pada waktu Dhuhur selain tentunya saat Maghrib menjelang. Kenapa coba? Karena disaat itulah semua insan (terutama cowok) berebut lebih dahulu menuju ke mushola untuk menjadi 'ta'mir' mushola. Maksudnya sih saling berlomba rebutan tempat di belakang shof untuk dijadikan tempat tidur.

Ya, sembari menunggu adzan Dhuhur tiba, meluruskan badan untuk sekedar melepaskan penatnya kerjaan kayaknya adalah hal yang wajib dilakukan. Tapi pada umumnya kegiatan bobok siang di mushola ini berlangsung setelah selesai sholat, artinya kan kewajiban sudah dipenuhi. Sebenarnya sih nggak ada masalah, nggak ada yang salah karena pada dasarnya perusahaan memberi waktu kita 40 menit untuk beristirahat dan sholat Dhuhur.

Mushola kami ini tidak terlalu luas untuk menampung karyawan yang berjumlah sekitar 90 persen muslim dari 3000 orang karyawan itu. Dengan luas sekitar kurang lebih 150 meter persegi, dimana kaum pria hanya mendapat jatah sepertiga dari luas total. Yang jelas pembagian ini didasari karena lebih dari 70 persen karyawan kami adalah wanita. Dengan kondisi yang sangat terbatas saja antre, apalagi bulan puasa, tentunya dikarenakan ingin berbuat 'ibadah'. Masalah timbul ya ketidaknyamanan saya melihat kondisi seperti ini. Tubuh-tubuh memanjang berjajar bergeletakan mengisi shof keempat (paling belakang) dan sebagian shof ketiga, bahkan kedua, persis seperti jajaran ikan pindang. Dengan kondisi seperti ini praktis suasana mushola menjadi kurang nyaman. Apalagi bagi orang seperti saya yang kadang break-nya telat. Sholat berjama'ah itu seperti mencari celah saja diantara orang-orang yang bergelimpangan.

Benar, puasa itu lapar, haus, capek, tapi yo mbok ingat waktu, lha wong jam istirahat cuma 40 menit. Malu dong sama operator production, yang umumnya karyawan wanita dimana waktu istirahat sangat terbatas. Istirohat ya istirohat rek, tapi ya jangan sampai lupa waktu apalagi memakan shofnya orang sholat. Malah bisa merusak amal ibadah kita padahal manajemen perusahaan tak kurang sudah menyediakan bangku-bangku untuk sekedar menyandarkan kepala sejenak. Benar sih, tidur adalah ibadah tapi sungguh ada ibadah yang lebih mulya yaitu bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Ada celetukan temen, "Untung Bos Besar kita bukan muslim." Padahal Bos Besar kami
yang ekspatriat itu dikenal sangat tegas dan suka mengkritik pedas. Hah, coba kalau dia Islam, mana ada yang berani mushola dijadikan tempat tidur.

02 September 2009

Belajar Membuat Bom

Sejak awal 2000-an Indonesia sudah ramai diteror berbagai macam ledakan bom dan yang terakhir ini adalah Bom di Ritz Carlton & JW Marriott. Saya jadi penasaran, kok bisa mereka bikin bom, bagaimana caranya? Oke mari kita belajar sama-sama membuat bom. Ini sekedar pengetahuan yang saya ketahui dari beberapa narasumber.

Pada prinsipnya bom (ledakan) akan terjadi jika dua bahan atau lebih bercampur/bereaksi secara eksotermis sehingga menimbulkan peningkatan volume yang besar, mendadak, dan (sangat) cepat. Nah… reaksi eksotermis itu kebanyakan dikarenakan oleh reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi ini bisa dihasilkan oleh oksidator yang sangat kuat sehingga cepat terjadinya.

Bahan-bahan seperti periodat, perklorat, permanganat dalah oksidator yang sangat-sangat kuat. Namun jangan dikira anda mudah mendapatkannya, selain yang harganya mahal, ijin untuk mendapatkannya juga ketat, harus ada link orang dalam atau kenalan. Salah satu bahan pembuat bom adalah kalium periodat, harganya busyetttt man, mahal sekali! 25 gram saja Rp 1,540,000.

Nah, jika kita sudah mempunyai bahan-bahan tersebut maka tinggal dipilih saja bahan yang sekiranya memiliki propertis expand volume yang besar dan cepat. Yang paling mudah kita dapatkan di pasaran, contohnya adalah Urea salah satunya. Urea selain dikenal sebagai pupuk, banyak mengandung sumber N dan C sehingga kalau terjadi reaksi dengan oksidator (misalnya periodat) akan terjadi desakan dari gas-gas yang terbentuk. Kalau panas sih hanya untuk tambahan saja supaya expand volume yg terjadi menjadi lebih cepat. Daya ledaknya sih memang tidak begitu besar tapi kalau ureanya setandon ya satu kota hancur kabeh... apalagi kalau sekitar tempatnya diberi mur, baut, paku, gotri sudah jadi bom yahud yang mematikan.

Masalahnya, sekarang oksidator-oksidator kuat itu sudah tidak dipasarkan secara bebas dan ijinnya susah. Mungkin karena kejadian bom bali itu. Pernah seorang teman mencoba cari permanganat di jalan Tidar, Surabaya. Eeh.. sudah tak ada yang mau jual semua, penjualnya trauma bom Bali. Mau bikin sendiri? Harus berilmu tinggi dan punya fasilitas yang cukup untuk penelitian. Tapi ya...lantas jangan menyerah, kalau orang lain bisa kenapa kita tidak?

Well, Okay itu saja dulu ilmu bom yang saya dapat sementara. Saya juga masih penasaran tapi lain kali kita lanjutkan lagi pembahasan ini.

Jurnalisme Teror II: Agar Aktivis menjadi Hedonis


Sebuah tayangan televisi pada 14 Februari lalu membuat saya tercengang. Komedian yang sedang terbaring sakit, Pepeng–pembawa acara Kuis Jari Jari- diberi hadiah Valentine oleh pembawa acara Espresso di ANTV. Keterkejutan saya karena hadiah tersebut adalah Al Qur’an.

Ini merupakan bentuk “kecanggihan” orang/kelompok/organisasi yang berusaha menghancurkan Islam secara halus. Betapa tidak, Al Qur’an, sebuah Kitab Suci yang berisikan wahyu Allah, “dinistakan” dengan cara dijadikan sebagai hadiah pada acara Valentine yang bermuasal dari agama paganisme. Hak dan batil dicampuradukkan. Cara itu menggiring opini pemirsa yang mayoritas umat Islam, bahwa Valentine itu kompatibel dengan Islam. Toh, Al Qur;’an dijadikan sebagai gift. Luar biasa halusnya.

Cara halus mereka–yang tentu saja telah dilakukkan lebih dari seratus tahun– telah berhasil. Contoh kecil tapi menyedihkan: Di hari yang sama, vokalis band terkemuka (antara Radja dan Pasha Ungu) yang istrinya melahirkan tepat pada Hari Valentine, menamakan anaknya: Muhammad Valentino. “Muhammad itu nama Nabi, dan Valentino sebagai bentuk untuk mengingat hari kasih sayang,” kata mereka.

Kisah enam bulan lalu itu saya angkat kembali untuk mengingatkan, betapa media--cetak apalagi elektronik-- memiliki kekuatan dahsyat untuk membentuk opini, mengubah mind-set, dan membentuk budaya. Ingat kata futurolog Alvin Toffler. “Abad 21 adalah era informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka akan menguasai dunia.”

Satu bulan terakhir ini—setelah Marriot dan Ritz Carlton meledak—sesungguhnya kita tengah digiring oleh hampir seluruh media untuk sependapat bahwa: teroris itu Islam; teroris itu berjanggut, bercadar dan dari pesantren; teroris itu ahli bekam dan herbal; teroris itu aktifis masjid; teroris itu orang yang pernah ke Poso, Ambon dan Afghanistan. Tak percaya?

Lihat saja bagaimana para jurnalis itu beraksi. Koran Tempo kerap kali menampilkan foto para tersangka teroris dengan wajah khas para aktivis Islam: berjanggut, bersorban dan lainnya. Pernah, dalam headlinenya—salah satu koran yang juga bersemangat menentang UU Pornoaksi-- itu menulis pemikat beritanya dengan sangat tendensius dan stigmatif. “Ia ahli bekam dan pengobatan herbal,” tulisnya menunjuk pada sosok Syaifudin Zuhri, ustadz yang menurut mereka merupakan teroris.

Setali tiga uang dengan media elektronik. Mereka-- TV One, Metro TV, SCTV, ANTV, RCTI—tak bosan-bosannya menampilkan wawancara dengan para keluarga yang diduga teroris. Perhatikan apa yang terlihat dalam gambar! Para anggota keluarga itu, memakai simbol-simbol kekaffahan seorang muslim saat diwawancarai: berjilbab, bersarung, bercadar dan berbaju gamis. Visual itu seolah ingin mengatakan: Ini loh, orang-orang yang berjilbab itu sesungguhnya sumber lahirnya teroris.

Konspirasi
Anda pernah menyaksikan film “Conspiracy Theory”, yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts. Film yang dirilis tahun 1997 itu menceritakan tentang seorang maniak teori konspirasi bernama Jerry Fletcher (Mel Gibson) yang bekerja sebagai sopir taksi.

Pria tampan berpenampilan cuek tapi terlihat cerdas tersebut memiliki kekasih bernama Alice Sutton (Julia Roberts) yang bekerja untuk pemerintah. Jerry yang sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah memiliki teori yang disebutnya Conspiracy Theory atas dugaan pembantaian yang dilakukan oleh beberapa tokoh politikus. Ternyata, tanpa diduga salah satu teori Jerry menjadi kenyataan.

Jerry pun diburu oleh sekelompok orang asing atas suruhan politikus yang terlibat dalam teori konspirasi tersebut. Bahkan Jerry harus dibunuh sebelum teori itu menjadi pusat perhatian masyarakat. Satu-satunya orang yang dapat dipercaya oleh Jerry adalah Alice, wanita yang dicintainya. Namun sayangnya Alice tidak tahu apa yang harus diperbuat karena semua mengandung misteri.

Konspirasi-konspirasi seperti yang digambarkan di dalam film Conspiracy Theory itu memang ada. Di dalam dunia usaha global, perusahaan besar membeli produk-produk setiap harinya, adalah bagian dari konspirasi untuk memperbaiki harga di pasar dan mengurangi kompetisi. Begitu pula dalam ranah politik, sosial dan lainnya.

Bagi orang yang tidak percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Orang-orang JIL, misalnya, menyebut para penganut teori ini sebagai “kemalasan berpikir”.

Namun, bagi saya, percaya pada konspirasi merupakan “kejernihan berpikir”. Tak sulit untuk menyimpulkan sebuah peristiwa adalah konspirasi atau tidak. Cukup menelaah pra kejadian, saat kejadian dan setelah kejadian. Biasanya, jika kita mau sedikit cermat, ada saja ditemukan kejanggalan-kejanggalan dan benang merah.

Mari kita bedah peristiwa pemboman Marriot dan Ritz Carlton. Sebelum bom meledak, travel warning diberikan pemerintah Australia kepada warganya agar tak mengunjungi Indonesia. Kemudian, polisi menemukan bom di Cilacap. Sebelum itu, polisi juga menangkap teroris di Palembang. Pola ini selalu sama dengan pemboman yang sudah-sudah: Bom Bali I, II, dan Kedubes Australia (2004). Sebelum peledakan terjadi, didahului travel warning, penemuan bom dan lainnya.

Lalu, hari H peledakan, terdapat banyak kejanggalan. Bagaimana mungkin JW Marriot dan Ritz Carlton bisa disusupi, padahal pengamanan di sana, sejak dibom pada 2003, sangat ketat. Saya pernah masuk ke Marriot pada Juni 2007. Pengamanannya berlapis, tak sembarang orang bisa masuk.

Kalaupun dugaan saya di atas masih lemah, mari kita lihat apa yang terjadi setelah bom meledak—yang menurut saya mengindikasikan dengan kuat adanya konspirasi. Pasca peledakan, semua media gencar memberitakan kasus ini, hingga sekarang. Liputan langsung dibuat. Tak cukup dengan itu, juga diundang para nara sumber yang memiliki pandangan sama, salah satunya mantan Kepala BIN. Dua kali ia diwawancarai TV One, dan satu kali oleh Metro TV. Statementnya selalu sama: “Teroris itu akan selalu bermunculan jika akar penyebabnya tak dihabiskan, yakni wahabisme dan ikhwanul muslimin,” kata dia.

Pernyataan ini menjadi menarik. Pertama, beberapa bulan sebelum peledakan, muncul buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan orang-orang liberal. Isinya idem ditto dengan ocehan mantan Kepala BIN itu. Buku yang diedit Abdurrahman Wahid itu—lucu juga kok bisa Gus Dur yang penglihatannya tak sempurna bisa mengedit—menyatakan bahwa di Tanah Air ada ideologi transnasional yang harus diwaspadai: wahabisme, ikhwanul muslimin. Disebutkanlah nama-nama organisasi pengusung ideologi tersebut: MMI, DDII, HTI, PKS, dan FPI.

Kedua, seolah ingin menindaklanjuti pernyataan mantan Kepala BIN itu, pihak kepolisian mulai membabi buta memberantas teroris. Di Purbalingga, anggota Jamaah Tabligh ditangkap karena dicurigai teroris saat mereka khuruj di masjid. Dan yang paling memprihatinkan, kepolisian akan mengawasi ceramah agama di masjid dan mushola, termasuk di bulan Ramadhan. Neo Orde Baru telah datang.

Pasca peledakan, sudah teramat jelas, pihak yang paling dirugikan oleh kepolisian dan pemberitaan media adalah umat Islam. “Kolaborasi” ini tentu saja akan memudahkan mereka untuk melakukan “teror” kepada umat Islam. Dan media pun akan kian mudah menciptakan opini bahwa teroris itu adalah Islam berjanggut, berjilbab dan aktivis masjid. Dengan cara ini mereka berharap: para remaja, pemuda dan umat Islam pada umumnya, akan takut datang ke masjid, mengikuti pengajian, dan menjadi Islam yang kaffah. Dari pada ditangkap, lebih baik menjadi kaum hedonis: yang asyik masyuk berdugem ria, menonton film porno, menyaksikan sinetron. Juga lebih baik menjadi kaum liberalis dan sekularis: yang mempromosikan Islam yang bebas tak bertanggungjawab.

Dan jangan kaget, bila suatu saat nanti, Al Qur’an akan menjadi hadiah wajib saat Hari Valentine. Naudzubillahminzalik. Masihkah kita mengaggap ini bukan rekayasa? Wallahua’lam.

Erwyn Kurniawan, S.Ip, Alumni FISIP Universitas Nasional dan sekarang sebagai Editor di Maghfirah Pustaka

Copas dari: eramuslim.com

01 September 2009

Tak Ada Muslim di Malaysia Untuk Konser Black Eyed Peas

Di dunia musik hip-hop, kelompok Black Eyed Peas sangat terkenal. Anak muda sekarang menyebut grup musik dari AS ini tengah hype alias sangat digemari. Ketenaran BEP bukan hanya di Eropa dan AS saja, tapi juga di Asia.

Sedianya, tanggal 25 September mendatang, kelompok musik bling-bling ini akan mentas di Malaysia. Apa istimewanya buat kita, umat Islam? Ternyata, pemerintah Malaysia dengan secara resmi telah mengeluarkan larangan nonton konser ini untuk siapapun yang beragama Islam.

Larangan ini, walau menuai protes, tapi tak urung tetap dipatuhi juga. Mengapa memangnya pemerintah Malaysia mengeluarkan larangan ini? Pada intinya, pemerintah Malaysia juga cenderung permisif. Tapi konser BEP kali ini dalam rangka menyemarakan selebrasi ulang tahun Guiness yang ke-250. Seperti yang diketahui Guiness adalah merek minuman keras terkenal. Dan minuman keras alias alkohol, haram hukumnya dalam Islam.

Di Malaysia, penduduk Muslimnya berjumlah 27 juta orang, atau sekitar 55% dari keseluruhan. Namun di Malaysia, pendapatan Guiness cukup besar juga. Tahun lalu, Guiness mengumpulkan 1,2 milyar ringgit Malaysia, atau sekitar $340.6 juta.

Usut punya usut, ternyata PAS atau Partai Islam Se-Malaysia yang berada di belakang ini semua. PAS sebagai partai politik terbesar kedua di Malaysia memang rutin mengeluarkan himbauan kepada pemerintahannya agar memperhatikan konser-konser asing yang digelar di negeri ini.

Sejak tahun 2007, PAS telah melaksanakan kampanye pelarangan Muslim untuk menonton konser musik asing seperti Beyonce, Rihanna, Gwen Stefani, Avril Lavigne, dan Michael Learns To Rock. Salut! (sa/awsat)