Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

24 Maret 2010

Rebutan Boker Jam 9-an

Gue nulis sambil nahan nih….

Walah! Ini gara-gara setiap pagi mesti mandi bareng sama jagoan gue yang lucu. Efeknya acara boker pas biasanya pra mandi mesti ditunda dulu. Akhirnya setelah ditahan-tahan dan keburu masuk kerja dan sudah lupa ngerjain lainnya.

Baru deh jam 9-an hal yang tertunda itu muncul lagi, melilit-lilit dan ingin segera keluar. Sialnya jam 9an di PT -yang ada 2 lokasi toilet cowok dimana masing-masing ada 2 bilik- pada lokasi 1 sedang dibersihin sama cleaning service (CS). Yang kedua sedang FULL BOOKIN. Mau ke VIP sungkan… sama Japanesse, jadi mesti nunggu nih…

23 Maret 2010

Melihat Dikotomi Nasib "Para Pemburu" di Trans TV

Hmm…. Di bulan Maret ini, saya baru mendapatkan acara yang baik lagi. Tiap minggu, kini selalu menjadi acara favorit saya dalam meluangkan waktu menonton TV. Acara itu bernama ”Para Pemburu”, yang ditayangkan setiap Minggu jam 15.30 WIB. Tayangan ini seolah membuka cakrawala kita dengan melihat dari dua sisi. Ya tayangan ini banyak bercerita tentang dua sisi kehidupan masyarakat yang berbeda nasib.

Ada 3 episode yang saya sudah lihat (sejauh ini saya tak tahu sudah berapa kali tayang –katanya memang acara baru di bulan Maret). Kisah pertama yang saya lihat, menceritakan tentang kisah ”Para pemburu Emas” di Sulawesi (saya agak lupa Sulsel atau Sulteng). Disana, diceritakan tentang beratnya perjuangan kaum bawah yang memburu hanya sejumput emas demi bertahan hidup dan menyambung nasib keluarganya. Mereka memburu emas hingga masuk ke dalam gua–gua yang mereka buat sendiri hingga berpuluh-puluh meter. Kemudian dipilah-pilah, itupun semua bahan galian tak berupa emas, hanya sejumput. Itupun tak setiap hari mereka beruntung, jika sudah begitu keluarga mereka harus puasa atau makan seadanya. Ditambah lagi resiko keruntuhan tambang yang bisa merenggut nyawa, yang mana harganya tak sepadan dengan penghasilannya. Padahal harga emas yang dibeli oleh para penadah yang ’jemput bola’ ke tempat-tempat pertambangan tradisional pun hanya dengan nilai terendah, sekitar 200 ribuan per gram. Coba bandingkan dengan harga emas 24 karat di toko-toko perhiasan anda! Sungguh sangat timpang, Kemudian sang narator memaparkan tentang dikotomi kehidupan golongan kaya yang membeli emas hanya untuk investasi atau gaya-gayaan/prestise. Apakah patut kita masih membanggakan emas sebagai investasi ketika melihat jatuh bangun kehidupan mereka?

Kisah kedua, yang saya lihat tentang para pencari batu alam di Gunung Batu, daerah Jawa Barat –lupa Cirebon atau Bogor. Disaat kita sibuk menghias tembok dan taman di rumah kita dengan batu alam yang indah. Disaat lain para pemburu batu alam harus naik turun gunung, jungkir balik bahkan harus menghindari runtuhan gunung yang longsor demi perjuangannya mengumpulkan batu alam. Hanya dihargai rendah perkilonya, rasanya tak setara dengan nilai ketika sampai di tangan kita. Itupun belum ditambah dengan resiko cacat tertimpa bongkahan batu alam. Tayangan ini langsung membatalkan niat saya untuk menghias rumah saya dengan batu alam.

Kisah ketiga, tayang minggu lalu (21/3/10) tentang pemburu berlian (intan). Hampir sama dengan nasib para pemburu emas, miris melihat nasib mereka yang mencari berlian demi sesuap nasi. Padahal selama ini berlian selalu disimbolkan sebagai cinta yang abadi. Lantas masih pantaskah kita bicara cinta jika melihat saudara kita yang tak beruntung itu, mencarinya namun tak bisa memiliki.

Dari beberapa episode yang sudah tayang, presepsi saya tentang Trans TV hanya berisikan acara sampah reality show dan sinetron agak terpatahkan. Paling tidak, dua acara ”Para Pemburu” dan ”John Pantau” telah memberikan pencerahan kepada kita yang hidup di alam teknologi informasi dan globalisasi ini agar tetap peduli pada lingkungan di sekitar kita.

22 Maret 2010

Bisnis Wartel seperti TV Hitam Putih

Pengusaha wartel sedang kurang beruntung. Setelah pernah jadi primadona, wartel nasibnya kini seperti TV hitam-putih. Uang air time pun ditahan operator dengan berlindung pergantian aturan.

Forum Penyelamat Wartel, pekan lalu, mendemo kantor XL, Indosat, Telkom, dan Kemenkominfo. Mereka menuntut pembayaran pelunasan biaya hak air time sebesar Rp54 miliar. Tapi operator berkilah bahwa tagihan itu masih belum jelas karena pergantian aturan.

Tunggakan air time muncul karena pergantian aturan dari Keputusan Menteri No 46 Tahun 2002 menjadi Peraturan Menteri No 5 Tahun 2006 yang memunculkan sistem interkoneksi berbasis biaya. Akibat pergantian aturan itu, biaya air time dihapus, tapi Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) menilai masih ada tunggakan berdasarkan surat keputusan Dirjen Postel No 10/2008.

"Berdasarkan pasal 22 dengan berlakunya Peraturan Menteri No 5 Tahun 2006 bahwa ada pergantian ke biaya interkoneksi, walaupun ditetapkan pada awal 2006 tetapi dalam waktu satu tahun bisa disesuaikan, penerapannya baru awal 2007 sehingga masih terhitung untuk tahun 2006,” ujar Ketua APWI Srijanto Tjokrosudarmo.

Berdasarkan hitungan Telkom, menurut Srijanto tunggakan yang masih harus dibayar operator berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 46 Tahun 2002 dan Peraturan Menteri No 5 Tahun 2006 adalah sebesar Rp 54 miliar. Telkomsel memiliki tunggakan Rp37 miliar (68,4%), Indosat Rp12,1 miliar (22,3%), XL Rp4,17 miliar (7,7%), Mobile-8 Rp729 juta (1,4%), Smart Telecom Rp75 juta (0,1%) dan Natrindo (Axis) Rp 5 juta (0,01%).

Dihubungi terpisah, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyatakan sedang mengkaji. “Sebenarnya masih terdapat masalah hukum di antara operator dan Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) untuk perhitungan tanggal 1 Januari 2006 hingga 1 Januari 2007 karena di sana terjadi perubahan peraturan yakni dari Keputusan Menteri No 46 Tahun 2002 menjadi Peraturan Menteri No 5 Tahun 2006 yang tidak lagi mengatur biaya hak air time,” ujar Anggota BRTI Heru Sutadi.

Heru mengatakan BRTI sebagai regulator akan menjadi penengah dengan mengusahakan pertemuan pekan ini menyangkut jumlah, mekanisme dan periode waktu pembayaran.

“Kami akan berusaha adil kepada semua pihak yang terlibat yakni Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia, Telkom dan enam operator yang terlibat penunggakan pembayaran,” kata Heru.

Head of Corporate Communications PT Natrindo Telepon Selule (Axis), Anita Avianty menegaskan Axis memiliki iktikad baik secara musyawarah mufakat untuk menyelesaikan masalah air time.

"Memang sudah ada beberapa kali pertemuan antara Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) dan operator untuk membahas biaya air time, namun sayangnya belum tercapai titik temu mengenai jumlah, mekanisme, dan periode kewajiban pembayaran,” ujarnya.

Head of Corporate Communication XL Axiata Febriati Nadira menyatakan hal senada. XL bersedia membayar kewajiban selama ada perhitungan dan jumlah yang jelas dan dikeluarkan oleh pihak berwenang yaitu Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

"Hal ini telah kami bahas dengan BRTI dan sepakat untuk mendapatkan penetapan dari BANI mengenai jumlah, periode, dan mekanisme pembayarannya,” katanya.

Namun Srijanto menyatakan langkah XL yang membawa kasus itu ke BANI tidak pernah mencapai kata sepakat bagi kedua belah pihak. “APWI secara tegas menolak melibatkan BANI, silakan membayar sesuai dengan surat keputusan Dirjen Postel No 10/2008. Jika tidak mau, maka kami akan mengajukan jalur hukum atas tuduhan penggelapan,” ujarnya.

Pengamat telekomunikasi Budi Rahardjo menyarankan agar pengusaha wartel mencoba mencari lahan bisnis baru, daripada tidak mendapatkan untung dengan membuka warung telekomunikasi, “Bisa ke warnet atau warung serba ada lainnya selain wartel, sehingga tidak merugi,” katanya.

Pengamat Telematika Mas Wigrantoro Roes Setiyadi memiliki pandangan serupa. “Wartel memang layaknya televisi hitam-putih tergerus oleh adanya teknologi baru, dengan semakin banyaknya akses terhadap ponsel dan telepon rumah maka kebutuhan masyarakat terhadap wartel akan semakin kecil. Besar kemungkinan para pengusaha wartel harus mencari sumber penghidupan baru selain wartel,” katanya.

Menyangkut nasib wartel, Srijanto mengatakan Senin (22/03) ada pertemuan antara BRTI dengan operator, yang dilanjutkan pertemuan antara BRTI dengan APWI. “Hal ini segera selesai asal ada goodwill dari operator dan pemerintah bertanggung jawab terhadap kehidupan wartel,” harapnya. [mor]

sumber: inilah.com

17 Maret 2010

Menghargai Perbedaan Agama & Euforia Pluralisme Kebablasan

Bicara tentang pluralisme tak bisa dilepaskan dari sosok yang bernama Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur. Sosok kyai yang pernah jadi Presiden Indonesia sangat lekat dengan isu-isu kontroversial. Satu hal berharga yang pernah dilakukannya di Indonesia adalah membebaskan etnis China merayakan imlek dan hari besar keagamaannya, serta tidak membatasi agama di Indonesia hanya sebatas lima saja. Mulai pada era Gus Dur, 'seolah' kran pluralisme dibuka lebar-lebar, euforia tentu melanda kaum-kaum yang selama merasa terjepit posisinya.

Perayaan tahun baru Imlek, dan perayaan Cap Gomeh yang dulu tidak semeriah ini kemudian latah menjadi euforia di seluruh tanah air. Tentu saja kiranya tak berlebihan kalau etnis China (Tionghoa) di Indonesia menjadikan Gus Dur sebagai bapak pluralisme.

Namun seiring gelombang pluralisme yang melanda, timbul suatu renovasi agama yang membentuk pada aliran agama baru, sebut saja contohnya Ahmadiyah. Agama yang mengambil intisari ajaran agama islam namun direkonstruksi dengan kaidah-kaidah yang sesungguhnya menyalahi Islam sendiri. Celakanya Gus Dur dan pengikutnya, -yang selalu berkata opo jare Gus Dur, kok malah ikut-ikutan membela agama yang malah merusak Islam itu sendiri. Akibatnya jelas, bentrok fisik pasti sering terjadi dari kalangan yang Islam konservatif dengan golongan pembaharuan yang mengusung isu pluralisme. Dari sinilah saya mulai mempertanyakan apa sih sebenarnya pluralisme itu?

Di agama Islam mengajarkan, "agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu". Artinya sebenarnya dalam kaidah beragama, Islam sangat menghargai perbedaan agama lain. Namun Islam punya aturan sendiri, begitu pula dengan agama lain pasti memiliki kaidah tersendiri. Tak mungkin orang Islam menjalankan perintah-perintah agama lain begitu pula sebaliknya. Hal-hal yang bersentuhan dengan nilai-nilai keagamaan sebaiknya menjadi urusan penganut agama itu sendiri dengan penciptanya. Dan tidak melibatkan orang lain yang bukan kaumnya dalam suatu hal yang berbau keagamaan.

Benar, saya sendiri sangat menghargai suatu perbedaan agama, saya juga merasa aman dan tenang-tenang saja selama kita bisa menjalankan ibadah dengan nyaman tak mengganggu pihak lain maupun diganggu pihak lain. Begitu pula ketika tetangga mengadakan puja-pujian dekat lingkungan kami selama tertib dan tak mengganggu maka kamipun merasa tenang dan biasa saja. Ya, pada dasarnya yang diperlukan dalam kehidupan umat beragama adalah saling toleransi dengan bertanggungjawab pada umat lain. Arti toleransi yang bertanggungjawab adalah toleransi yang bisa diterima secara logis oleh agamanya dan agama orang lain, jadi bukan terpaksa.

Ketika isu pluralisme diagung-agungkan dengan seolah kita harus melebur dan memperingati perayaan agama, yang bukan agamanya itu adalah salah. Kalau secara kimiawi ini seperti memasukkan unsur pada materi yang bertentangan dengan unsur tersebut. Jadi ketika kita sudah bersentuhan dengan kata-kata yang merupakan bagian dari suatu acara keagamaan agama lain itu sudah menunjukkan terjadinya salah kaprah penghargaan agama lain.

Kalau seseorang yang beragama nasrani berkunjung di rumah temannya yang muslim di hari raya Idul Fitri untuk silaturahmi itu bukan hal yang salah. Begitu pula sebaliknya ketika seorang muslim mengunjungi temannya yang Nasrani untuk silaturahmi di hari natal. Semua berulang pada niatannya.....

Coba kita lihat kondisi negara Indonesia sekarang ini? Apa yang terjadi? Kadangkala masyarakat kita sekarang terjebak dengan kondisi yang 'abu-abu'. Sehingga turut 'larut' dalam perayaan agama umat lain. Kalau sudah seperti ini siapa yang patut menegur? Ketika para pemimpin agama saling adu argumentasi dan umat makin larut dalam koridor pluralisme yang campur aduk, Ini benar dan itu juga benar. Lalu dimanakah letak akidah dari suatu agama? Jalan menuju surga, mungkin berbeda-beda tapi kita punya jalan sendiri yang kita yakini. Ya sudah turuti aturan main dan ikuti! Kalaupun ada ajaran lain yang menyatakan "Boleh", tapi kalau ajaran yang anda yakini mengatakan "Tidak". Ya.. sudah, yang jelas pluralisme bukanlah upaya pencampuradukan agama. "Lakum Diinukum wa Liya Diin", "Bagimu agamamu, bagiku agamaku"... ikutilah!

Kalau semuanya sudah dicampuradukan, masihkah pluralisme masih tepat dianggap sebagai penghargaan perbedaan agama?

15 Maret 2010

Segala Keputusan Pasti Ada Konsekuensi

Disini saya berusaha menjelaskan kenapa akhirnya nama saya masuk dalam list tersebut. Tak hanya rekan kerja, section head, ataupun Manager, bahkan istri pun tak urung termenung dan menitikkan air mata dengan keputusan saya ini. Karena selama ini saya tampak enjoy dalam bekerja di perusahaan walaupun ditempatkan dimana saja. Itulah saya, walau orang lain berkata saya mengerjakan pekerjaan yang 'nggak ada arti' toh saya tetap berkomitmen menjalankannya. Hingga kemudian saya berkesempatan untuk lebih bersentuhan dengan proses produksi dan mulai banyak menikmati kesibukan. Apalagi saya berada di blok orang-orang yang menentang keputusan 'gila' Manajemen perusahaan di section ini agar disamaratakan nasibnya dengan kondisi di Mukakuning (PHK). Hah?

Ya, terus terang saya sangat malu ketika para pimpinan Manajemen ini mempunyai niat ke arah situ, lha wong beberapa bisnis unit masih eksis, project ke depan juga masih ada kok ya minta closing business unit juga, yang artinya PHK bersama. Seperti nggak punya semangat untuk menjalankan mandat dari Top Management saja, itu adalah hal yang pertama penyebab saya menolaknya. Yang kedua, karena dalam bisnis unit yang masih eksis itu tak semua orang ingin kehilangan pekerjaan apalagi jika ternyata di perusahaan ini para karyawan tersebut baru menanjak atau mempunyai karir bagus padahal mereka cuma tamatan STM/ SMA saja. Tidak semua orang siap memulai kembali pada keadaan yang susah (back to zero again). Dan yang ketiga, ini adalah cara yang haram karena pada intinya Top Management Jepang tak mempunyai itikad untuk menutup bisnis unit yang disini. Mungkin karena mereka terlanjur investasi dan ada perjanjian sales dengan konsumen. Jadi saya bersyukur, ketika akhirnya manajemen lokal disni kembali bersikap tenang dan meminta maaf pada jajaran Top Management serta tak mau mengungkit-ungkit masalah yang terjadi pada 'tetangga sebelah'.

Kembali pada masalah kenapa akhirnya saya bisa masuk list tersebut?
Walaupun saya seorang yang loyal pada perusahaan ini namun saya tak munafik untuk menampik suatu peluang dan tantangan baru. Apalagi wacana ini tiba-tiba datang secara implisit dari pihak perusahaan ketika dalam sebuah perundingan improvement perusahaan yang dilakukan serikat pekerja dan Top Management sudah mentok (deadlock). Ini 'kan artinya dari pihak perusahaan ternyata telah membuka pintu keluar sendiri tanpa saya dobrak. Sebenarnya timbul pertanyaan kok tiba-tiba pihak perusahaan memunculkan wacana rasionalisasi karyawan. Hal ini sebenarnya sudah dapat diprediksi juga karena business plan yang dikondisikan merugi dalam tiga tahun kedepan. Dan solusi rasionalisasi karyawan adalah salah satunya, agar Financial Pressure bisa teratasi dan tidak bengkak. Dimana business plan 2010 antara product, manpower, sales, dan keuntungan rupanya tidak balance. Jadi melalu mekanisme yang tak kuduga rupanya Perusahaan telah berniat membuka pintunya. Walau tak ada woro-woro secara langsung namun wacana dari Japanese second man perusahaan ini patut dipercaya. Melalui joke-joke dari ketua tim perundingan melontarkan pertanyaan pada rekan-rekan, "Seandainya kamu ditawari sekian ....N... mau nggak?" Mulanya sih cuma saya anggap sebagai joke saja, tapi aku jelas curiga Pak JK (sebut saja seperti ini) melontarkan hal ini pasti ada dasarnya.

Orang yang tanggap mestinya ya merespon dan mengejarnya untuk berdiskusi empat mata. Setelah saya bicara dengan Pak JK untuk mengorek keterangan lebih jauh ternyata ada informasi yang benar tentang hal ini. Dalam hati awalnya kembali ragu, tapi saya bertekad bahwa inilah saat yang tepat bagiku untuk meninggalkan perusahaan ini. Tentu saja pertama karena ada tawaran yang menarik karena saya akan mendapatkan lebih dari sekedar hanya resign saja seperti teman-teman seangkatan yang telah terlebih dulu meninggalkanku balik ke Jawa.
Perusahaan telah membuka jalan dan It's time to take a Challenge! Kapan lagi saya punya keberanian seperti ini apalagi istri sebentar lagi mau melahirkan dan saya belum memiliki pekerjaan loncatan dalam waktu dekat (misal kasus, ketrima CPNS). Tapi mau sampai kapan saya bertahan dengan kondisi seperti ini? kapan bisa punya mobil mewah kalau jadi mburuh terus disini? Ini tantangan, harus diambil kalau kita nggak puas hanya nerima seperti ini saja

One Step Behind
Siapa sih yang agak nggak gamang kalau meninggalkan zona kenyamanan? Semua orang pasti awalnya merasa sedikit mikir untuk meninggalkan suatu kestabilan. Tapi perusahaan ini juga bukan 'tambang emas' lagi bagiku. Saya melihat perusahaan ini sudah tak memiliki core business unit lagi, artinya rohnya sudah hilang, kini perusahaan pusat (Jepang) cuma sebagai broker saja. Lalu, kalau sudah seperti ini, ya... jangan pernah berharap lebih seperti masa lalu. Apalagi karirku pun agak tertinggal dibandingkan teman-teman walau masih lumayan bagus.

Memang keluar dari perusahaan adalah satu langkah mundur (one step behind) tapi ini adalah suatu ancang-ancang (kuda-kuda) kalau ingin meloncat jauh kedepan. Saya tak pernah menganggap berlebihan pada suatu perusahaan, tak menganggap kalau nggak kerja disini lalu aku akan makan apa? Pikiran-pikiran seperti itu hanya akan mengkerdilkan jiwa dan semangat hidup kita sendiri bahkan seperti mengingkari kuasa-NYA. Sebenarnya Tuhanlah yang memberi rezeki dan rahmat pada kita, tak bekerja di perusahaan ini bukan berarti kita tak bisa hidup lagi. Always think positive! Orang hidup yang ingin dicapai 'kan kebahagiaan. Ibaratnya kita bisa menuju kebahagiaan melewati beberapa jalur, baik yang berkelok-kelok maupun lempeng. Menujunya juga bisa pakai berbagai moda transportasi mulai jalan kaki, naik sepeda, motor, atau mesin jet.

Kalau kugambarkan, sekarang aku melewati jalur A yang jalannya agak berkelok dan sedang naik motor. Sedangkan aku sudah merasa tak bisa cepat lagi (susah beli mobil) dengan jalur yang sama. Nah, ketika samar-samar kulihat ada jalur G yang ternyata lebih besar, dan disitu aku bisa naik apapun kenapa nggak aku ambil. Toh hidup hanya sekali kalau sadar ketika tua ntar hanya bisa menyesalii saja.

Orang bilang, hidup itu dimulai ketika umur 30, "Life Begins at 30". Ya mumpung baru umur segini, anak sudah mau hampir dua. Sebenarnya akupun tak pernah puas pada kehidupanku kini. Apakah seumur hidup harus jadi jongos Nipon, hidupku hanya kuabdikan di perusahaan ini. Menjalani hidup yang biasa-biasa saja? Lalu tua sakit-sakitan bingung mikir biaya anak lalu mati dengan harapan dan utang yang belum terbayarkan? Hah... nggak lah ya, nggak gue banget! Aku merasa sudah matang untuk mulai menaklukan cita-citaku, melakukan hal yang kuinginkan. Bagiku hidup adalah tantangan, andai saja kelak harus ke Afrika atau Eropa dan meninggalkan sementara istri dan anak tak apalah, toh mereka mulai dewasa dan istri tercinta total merawatnya, dan berkumpul dengan kakek dan neneknya. Bagiku hidup adalah pilihan dan Allahpun sebenarnya telah berfirman, "Allah takkan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan mereka sendiri yang berusaha".

Jadi masih pantaskah ada yang menyesali keputusanku ini? Hmm... semoga hari itu secepatnya tiba.

ditulis oleh: Rakhmat Wijaya dengan gejolak perubahan yang berkobar

11 Maret 2010

Sudah Siapkah Berhenti Kerja Dari Tempat Kerja Anda?

Anda masih betah di tempat kerjaan anda, syukur alhamdulillah artinya tempat kerja atau perusahaan anda masih bisa mensejahterakan secara materi dan rohani pada anda. Tapi bagi anda yang ingin keluar dari tempat kerjaan, setidaknya anda perlu melihat atau mempertimbangkan dulu, apakah hal-hal tersebut sudah masuk akal dan memenuhi beberapa faktor.

Setidaknya ada 2 faktor utama yang mempengaruhi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah hal-hal di dalam perusahaan atau tempat kerja kita yang mengusik kenyamanan bekerja kita dan mendorong niat kita untuk keluar. Dan satu lagi faktor eksternal, yaitu hal-hal dari luar yang menarik kita untuk segera keluar dari tempat kerja.

Faktor Internal, antara lain:
1. STRES BERKEPANJANGAN.
Penyebabnya bisa jadi karena lingkungan pergaulan di kantor sudah tidak lagi nyaman, pekerjaan overload dan sebagainya. Stres yang tinggi bisa memengaruhi kesehatan psikis dan fisik Anda.

2. KARIER MENTOK ATAU JALAN DITEMPAT
Anda merasa sudah tidak bisa mencapai puncak atau gagal meraih target. Maka pindah ke tempat baru adalah solusi yang masuk akal dan layak dipertimbangkan.

3. NEED MORE MONEY.
Sulit sekali meminta kenaikan gaji padahal gaji kita sudah tak sebanding dengan inflasi.

4. PERUSAHAAN BUKAN 'TAMBANG EMAS' LAGI.
Artinya keadaan perusahaan tidak sama lagi dengan masa-masa sebelumnya, dimana saat itu anda bisa bekerja dengan hasil melimpah dan gaji diatas rata-rata standar perusahaan lainnya. Termasuk banyak lembur dan fasilitas perusahaan yang sangat memadai. Keadaan perusahaan kini tak ubahnya perusahaan lain kebanyakan bahkan cenderung menurun.

5. FASILITAS PERUSAHAAN TIDAK MEMADAI ATAU DIKURANGI.
Terutama pengurangan premi atau fasilitas kesehatan, pengetatan anggaran buat telepon atau kemudahan ijin keluar, pengurangan/tidak ada bonus tahunan. Tidak ada asuransi, tunjangan dll.

6. TIDAK ADA WAKTU LUANG.
Misal, jika jam kantor Anda mengharuskan anda kerja normal eight to five, ditambah lagi ’wajib’ lembur yang kadang membuat anda pulang larut malam atau pekerjaan anda mengharuskan masuk shift. Bagi sebagian orang yang gila lembur mungkin hal ini menjadi berkah, tapi bagi orang yang berjiwa petualang atau freelance ini adalah hambatan karena tidak mempunyai waktu luang.

Faktor Eksternal, antara lain:
1. IKATAN EMOSIONAL DENGAN KELUARGA.
Penyebabnya karena situasi emosional dalam diri dan keinginan dekat dengan keluarga (anak-istri atau orang tua). Hal ini dikarenakan tempat kerja kita jauh dan mengharuskan berpisah dengan keluarga yang dicintai. Atau dalam kasus lain seorang wanita karir yang juga seorang ibu rumah tangga akhirnya memilih berperan total sebagai ibu rumah tangga karena anak sudah mulai butuh bimbingan dan penghasilan suami ternyata memadai untuk kebutuhan keluarga.

2. TUA DI JALAN
Penyebabnya adalah perjalanan dari rumah ke kantor sangat melelahkan, bisa karena macet atau jarak kantor dari rumah yang sangat jauh. Lelah fisik sudah pasti dan cepat atau lambat akan mempengaruhi kesehatan anda.

3. KESEHATAN.
Penyebabnya adalah kondisi kesehatan kita menurun dan sudah tidak kuat bekerja di perusahaan anda. Hal ini mungkin disebabkan karena tempat kerja kita mengharuskan kita punya fisik yang kuat tapi seiring bertambahnya usia, fisik pun mulai menurun.

4. TERTARIK BEKERJA PADA PERUSAHAAN LAIN
Ada tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahaan lain yang nilainya lebih atau paling tidak sepadan dengan keinginan psikis kita.

5. INGIN BERWIRAUSAHA MANDIRI
Anda merasa inilah saat yang tepat untuk tidak tergantung lagi pada perusahaan atau keluar dari status mburuh. Maka pilihan untuk berwirausaha sendiri adalah pemicu yang tepat untuk segera keluar dari tempat kerja lama. Walaupun pada sebagian orang masih memilih jalan ’aman’ dengan menjadikan bisnisnya hanya sebagai bisnis sampingan saja dan tetap bekerja pada perusahaan/kantor. Tapi kadangkala ini adalah bumerang karena hasil yang dicapai pun tidak maksimal karena hanya dilakukan setengah-setengah saja.

Disini saya mengabaikan pada faktor yang sifatnya emosional sesaat seperti marah pada atasan atau bertengakar dengan rekan kerja dan lain-lainnya. Tapi saya rasa faktor-faktor emosional sesaat itu bukan hal yang menguatkan kita untuk keluar, sebaiknya pikir masak-masak dulu sebelum bertindak. Jadi saya kembalikan pada anda apakah sikap yang anda ambil ini hanya emosional sesaat atau sudah sangat matang?

Jadi, sudah siapkah berhenti kerja dari tempat kerja anda?

10 Maret 2010

Hujan, Siramilah...

Kesejukan melanda Batam pagi ini, cuaca dingin yang diakibatkan oleh hujan yang mengucur deras sejak jam 3 pagi tadi. Syukur Alhamdulillah, setelah beberapa bulan dilanda cuca kering yang walau tidak terlalu panas akhirnya kucuran kenikmatan itu tiba. Rupanya kenikmatan Allah yang datang dengan tiba-tiba, ternyata disambut ketidaksiapan oleh diri kita. Ya... bagaimanapun hujan yang melimpah adalah nikmat illahi karena tanaman, air tanah, sumber mata air, dan secara tidak langsung manusia juga membutuhkannya. Hanya saja, kadang kita selalu dahulukan keluhan tanpa pernah menyadarinya.

”Ahh...gara-gara hujan nih, kenapa sih pagi-pagi harus hujan, ganggu orang berangkat kerja saja mana jas hujan sudah robek pula.” kata salah seorang rekan kerja saya.

”Iya nih... jalan A genangannya tinggi, motorku mati gara-gara mesinnya kemasukan air. Wah... sampai sering berhenti, bersihin busi.

Yang agak was-was mungkin orang-orang yang rumahnya dekat saluran air besar, harap-harap cemas apa output dan input-nya balance. Bagaimanapun juga, hujan pagi ini membuat sebagian orang kalang kabut, jalanan macet dan tergenang, dan beberapa rumah bocor. Hmm... kalau lihat mendung, mungkin bakal seharian hujan.

Hmm... syukurlah masih hujan biasa, bukan tsunami atau badai. Paling tidak ini adalah sebuah reminder dari Allah, bahwa kita mesti siap menghadapi segala sesuatu.

Jadi anggap saja turunnya hujan yang tiba-tiba itu adalah suatu kenormalan. Karena segala sesuatu ada dan pasti suatu akan hadir. Sama seperti dengan bencana, siapa pula yang mau dengan adanya bencana? Saya kira tak seorang normal pun di dunia yang menginginkannya. Namun sekali lagi kita tak punya kuasa untuk menolak kehadirannya karena itu adalah kewenangan-Nya. Kita hanya bisa melakukan preventive action agar semua bencana itu tak segera meniimpa diri kita. Baik itu melalui pembicaraan dengan-Nya (doa dan ibadah) atau mengevaluasi lingkungan sekitar, serta mawas diri.

Karena pada dasarnya, kestabilan dalam perjalanan hidup yang steady/mulus itu adalah PLAN. Tapi faktor NOISE, atau bencana yang bisa merusak suatu sistem harus diimbangi dengan GAIN serta FILTER yang mampu meminimalisir riak-riak suatu SISTEM.

Jadi ketika pikiran sudah menyiapkan PLAN yang terbaik buat hidup ini, jangan lupakan MENTAL dan FISIK kita sebagai GAIN dan FILTER agar segala halangan dan rintangan ini bisa teratasi dengan sempurna. Dan menghasilkan kualitas OUTPUT yang optimal

Hmmm.... ini analisa kehidupanku dari sudut pandang Teknik Sistem Pengaturan, hehehe.

09 Maret 2010

Hmm.... Lagi Berkhayal, Seandainya Ada.....

Masih mencoba meraba dan mencari kekuatan untuk menegakkan kepala. Hah!!! sudah terlalu penat hati untuk mencoba bertahan disini. Ya... aku rindu setengah mati untuk segera pulang ke rumah ayah dan ibu.

Terserah, kalau kalian bilang aku ini anak mama atau apalah. Terserah pula kalau kalian bilang rinduku ini cuma sementara saja. Yang jelas, aku merasa ini sudah bukan hidup indah yang kudambakan. Hatikupun sudah tak tertanam lagi disini. Seorang bijak bilang, "Bekerjalah dengan hati yang ikhlas, niscaya kerja akan jadi tenang dan baik". Lalu bagaimana mungkin jika kalut selalu menyelimuti hari-hari ini. Apalagi ’tambang emas’ ini sudah mulai tak menghasilkan lebih seperti masa lalu.

Jadi buat apa aku bertahan disini sembari orang tua mulai renta memasuki masa-masa pensiun. Ditambah lagi suara-suara memelas dari keluarga di sekitar yang mengabarkan satu persatu kerabat yang seumuran mereka sedang sakit atau meninggal. Sungguh aku merasa berdosa jika aku datang terlambat saat mereka telah membujur kaku tanpa sempat bercanda dan bercerita dengan mereka. Belum puas pula mereka bermain dengan cucu-cucunya. Bayangkan, seandainya saja aku nanti seperti ini ditinggal jauh oleh anak-anakku. Apakah kelak aku bisa mati dengan bahagia?

Apalagi ada sesuatu yang membuatku berpikir untuk pulang ke kampung halaman dan hal ini harus kuakui membuatku merasa agak tenang dan lapang dalam melangkah, yakni aku tak keluar dengan percuma. Sebuah bisik-bisik yang mengacu pada pengajuan opsi rasionalisasi karyawan. Off course, take it and leave it!. Itu kan yang kita cari, pulang dengan tidak sia-sia. 'Kan lumayan bisa digunakan sebagai modal untuk mencoba jadi pengusaha sendiri. Bikin warung makan keluarga, masakan jawa dan sunda (makan warga janda). Atau menyalurkan hobi istri dan kakak ipar yang suka buat roti dengan membuatkannya gerai, semacam Villa atau Nayadam (kalau yang ini saingan sama tetangga sebelah gak enak deh).

Tapi dari semua itu, dana puluhan atau mungkin ratusan juta (sebentar itang-itung dulu) sebenarnya sangat mulya kalau kubelanjakan di jalan Allah. Pingin sih seandainya kalau memang ada '...' nantinya, hasilnya bisa buat melaksanakan rukun Islam yang ke-5 buat kedua orang tua dan ibu mertua. Kapan lagi, ini adalah kesempatan terbaik seumur hidup. Uang dan pekerjaan itu insyaAllah dapat dengan mudah kucari tapi kesempatan? Hmm... seandainya, ada... nyanyi dulu deh

Close your eyes, close your eyes
Breathe the air, out there
We are free, we can be
Wide open

For you I open my eyes
To the beauty I see
We will pray, we will stay
Wide open

Don't analyze
Don't analyze
Don't go that way
Don't lead that way
That would paralyze your evolution

Don't analyze
Don't analyze
Don't go that way
Don't lead that way
That would paralyze your evolution

La la la, this greatest moment
La la la, this strangest day
La la la, the greatest love of them all