Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

24 Februari 2010

Sang Profesor Itu Telah Berpulang

Semalam, ada telepon dari keluarga di Lamongan, rupanya ibu yang telepon. Hmm... ternyata kabar duka yang beliau sampaikan bahwa Prof.Ir. Hadi Sutrisno suami dari mbak Rini meninggal.

Innalillahi wa Inna ilaihi Roji'un...
Ya, sebagai civitas akademika ITS apalagi Teknik Elektro siapa yang nggak kenal nama beliau. Beliau adalah salah satu Guru besar di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Pernah menjadi Purek di era 1990-an yang lekat dengan program mobil WW1 dan WW2. Kemudian berkembangnya ludruk di Elektro yang dikenal sebagai Ludruk Tjap Toegoe Pahlawan.

Penyebab kematiannya menurut ibuku, yang sempat menjenguknya di Grha Amerta RS Dr. Soetomo adalah katanya karena sejenis bakteri yang menyerang paru-parunya hingga akhirnya menyerang otaknya. Sewaktu ibu berkunjung ke sana katanya sempat ketemu Pak Priyo, dan beberapa dosen civitas akademika ITS. Saat itu keadaannya sempat berangsur baik namun rupanya takdir ada di tangan sang kuasa, selasa sore Sang profesor itupun menghembuskan nafas terakhir. Menurut ibu, beliau akan dimakamkan di Ngawi di tanah kelahirannya (kemungkinan tadi).

Nasib orang susah diterka padahal sebenarnya saya punya rencana mengunjunginya kelak kalau punya waktu luang. Beliaulah kebanggaan di keluarga besar kami. Bagaimanapun juga beliaulah yang mengilhami saya untuk terjun ke Elektro, walaupun akhirnya saya nggak bisa mengikuti jejaknya di konsentrasi bidang studi Sistem Tenaga (Power) karena nyatanya disitulah titik kelemahanku (Medan Elektromagnet dan Konversi Tenaga Listrik), hingga akhirnya aku lebih memilih Sistem Pengaturan. Sebenarnya secara garis darah dan keturunan saya nggak ada hubungan langsung dengan beliau. Beliau menjadi kerabat saya karena isterinya (mbak Rini) masih ada hubungan dengan garis keturunan ibuku. Memang seharusnya sih saya manggilnya mas, tapi kok timpang banget ya lebih baik Pak atau Om saja.

Ya, selama menuntut ilmu di Teknik Elektro ITS, saya tak pernah sekalipun berjumpa dengannya, kecuali saat Wisuda D3 dan Wisuda S1, dan acara keluarga. Saat itu beliau lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai Dekan di Universitas Mataram dan sebagai pioneer Jurusan Teknik Elektro di Universitas tersebut. Sebenarnya saya ingin meniru jejak langkahnya sebagai Dosen, peneliti, dan penggagas, serta mungkin terlalu banyak yang tidak bisa saya sebutkan.

Akhir kata, selamat jalan Profesor... semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dan semoga sang istri, Mbak Rini, selalu diberi ketegaran dan ketabahan hati. Padahal, sebulan yang lalu ibundanya (Budhe Musa) baru saja meninggal. Kini, sang suami yang menghadap illahi. Semoga Allah selalu melimpahkan kesabaran dan ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan.

22 Februari 2010

Apa Kabar Februari?

Apa kabar? Padahal sudah lewat tengah bulan eh...baru bisa menyapa. Maklum walaupun februari ini terhitung bulan yang cepat, tapi ternyata saya kok nggak merasa begitu. Hari-hari kulewati dengan peluh dan pikiran terperas. Hah.... malah tiap hari terancam pulang larut... Malah bisa-bisa nggak ada libur tiap minggu.

Ya... sejenak gak mikir dan ngurusin negara, mau carut marut kek, kasus korupsi gak tuntas-tuntas, apalagi ngikuti dagelan century yang mirip reality show. Wah... udah gak sempet!!! kali ini ngurusi diri sendiri, karir dan keluarga dulu.

Memang beginilah kalau ngikut Nipon, segalanya kudu terstruktur, tuntas, dan harus jelas status progressnya. Maklum ada sebuah produk baru yang butuh penanganan produk lebih serius jadi, sarana dan prasarana harus jelas. Selain masalah kualitas, cara kerja, kondisi pekerjaan, dan sisa-sisa produksi juga harus jelas. Sebenarnya inilah yang bikin ciut nyali, ketika harus nyiapin pre running. Justru inilah awal dari sebuah kehidupan, apakah layak atau tidak barang tersebut untuk dijual ke pasaran.

Ya... jadinya hari-hari terancam lembur, bahasa kerennya overtime (OT), mesti curi-curi waktu untuk ketemu anak istri. Alhamdulillah ditengah jadwal yang padat ada berita menggembirakan, Parsa akan segera memiliki adik. Ya... syukur alhamdulillah, harapku sih semoga perempuan biar lengkap, tapi terserah Allah Swt yang penting dia sehat dan tak ada cacat.

Ngomong-ngomong soal isteri hamil, ternyata menurut dokter sudah 2 bulanan. Jadi ada kemungkinan bisa lahir september, heheh... kayaknya angka "8-9-10", asyik deh dipilih sebagai tanggal lahir. Hmmm.... wa Allahu'alam, sekali terserah Allah.

Ya... biarpunn minggu kemarin dah mulai ngidam minta ini itu, mulai siomay, bakso, sampai rujat serut ya asal wajar sih pasti kuturutin. Yang jelas kali ini kudu lebih siap-siap, apalagi paket premi kesehatan dari PT juga lagi bermasalah, providernya kurang bisa diharapkan. Mesti nyiapin ekstra dana untuk jaga-jaga, jangan-jangan ntar pas ngelahirin sudah gak ditanggung sama Perusahaan, hmm... padahal anak yang pertama masih bisa ditanggung saat istri melahirkannya di RS Awal Bross.

Ya... namanya juga dunia segala sesuatu pasti bisa saja terjadi. Yang penting sekarang jagain istri agar menjaga kesehatannya dan jangan males makan, serta satu lagi, menjauhkan si kecil Parsa dari perut mamanya biar gak ketendang. Anak kecil ini dah mulai pinter, bisa belajar ngitung, nyusun puzzle sampai main game di laptopku. Nah yang terakhir ini kayaknya jadi masalah... sudah addicted game kayaknya, masak sehari paling nggak dua jam main game. Jangan-jangan niru bapaknya nih maklum sewaktu mamanya hamil dulu sering sekali main "Age of Empire II" sewaktu mamanya tidur.

Ya udahlah.... hari juga makin mendekati pagi, malah ntar tak sempat istirahat. Ya... semoga pagi nanti semuanya menjadi cerah lagi.

31 Januari 2010

SBY Memang Bukan Superman

Refleksi peringatan 100 hari pemerintahan SBY jilid dua

Peringatan 100 hari pasca pemerintahan SBY - Boediono tanggal 28 Januari 2010, ditandai dengan berbagai macam unjuk rasa dan demonstrasi hampir di kota-kota besar Indonesia. Puluhan ribu orang turut serta berunjukrasa, berbagai tuntutan diusung dari berbagai macam LSM dan perhimpunanan Mahasiswa, dan Buruh. Hal itu seolah menandakan bahwa ada berbagai macam kepentingan di dalamnya, yang mana hanya disatukan dengan garis singgung adalah adanya ketidakpuasan pada pemerintahan SBY-Boediono.

Dari sini masih bisa dipilah-pilah bahwa sebenarnya kadar kekecewaan pada masyarakat yang melakukan unjuk rasa itu sebenarnya berbeda. Ada yang menginginkan revolusi, bahwa rezim Pemerintahan sekarang harus diganti, Presiden dan Wapres harus turun beserta reshuffle total kabinet. Ada pula yang menginginkan penegakan hukum di Indonesia harus ditegakkan seadil-adilnya, kalau memang Wapres Boediono dan Sri Mulyani selaku Menkeu bersalah dalam mengeluarkan kebijakan kasus century, ya harus diadili. Ada pula yang menuntut perbaikan nasib buruh, menghapus sistem outsourcing, ada pula yang hanya ingin mengkritisi dan menyampaikan uneg-uneg saja.


Intinya tidak ada satu suara yang bulat dalam demo memperingati 100 hari ini. Artinya, memang sebagian merasa kerja Presiden ini terlalu lambat menyikapi kasus century, sebagian lain melihat Presiden gagal dalam menegakkan eksistensi hukum yang seadil-adilnya.

Namun saya sedikit lain melihat persoalan diatas. Saya sayangkan, mengapa SBY terkesan membela oknum-oknum pemerintahannya dalam kasus Century. Sebenarnya ada yang salah dalam mekanisme itu, tapi terkesan Presiden seolah sedang menunggu mencari kambing hitam atas kejadian Century. Begitu pula dengan bidang ekonomi, seharusnya Presiden lebih proaktif lagi memonitor kerja anak buahnya di daerah, jangan sampai gerbong-gerbong pada akar rumput ternyata mandeg.

Tapi bagaimanapun menuntut perubahan nasib drastis pada Presiden untuk bisa mewujudkan semua hal dalam jangka waktu 5 tahun ditambah 100 hari pemerintahannya adalah suatu hal yang mustahil. SBY itu bukan Superman, segalanya butuh rencana yang matang dan terencana. Kalau perlu antar lembaga bikinlah Rencana 50 tahun kedepan Indonesia, mau dibawa seperti apa. Tapi seyogyanya dalam mewujudkan Indonesia yang hebat jangan sampai Pemerintahan membuat blunder yang bisa mencoreng muka sendiri.

13 Januari 2010

Tikus Tikus Ada Dimana-Mana

Tikus-tikus, tak bisa melihat makanan menganggur diatas meja, sedikit saja lengah langsung disikat! Berkali-kali aku mencoba mencari tempat yang aman dari si tikus nakal ini. Mulai ditaruh di atas meja sampai di dalam lemari, mereka masih saja bisa mengendus.

Apalagi bila malam hari tiba ketika kita asyik dilenakan oleh lelapnya tidur. Tikus-tikus itu tak jemu beraksi mencari kesempatan. Rumah yang tertutup rapat pun tak membuat aksi mereka berhenti. Selama masih ada lobang dan kesempatan, tikus-tikus selalu berjalan kesana-kemari, menerobos rumah-rumah yang tertidur. Roti, nasi, ikan ataupun segala yang bisa dimakannya dicari. Tikus-tikus pun masuk kamar, entah apa yang dicari? Apa hendak meniduri istriku? Tikus-tikus ada dimana-mana, mengacak-ngacak segala perabotan dan buku-bukuku.

Tikus-tikus ada dimana-mana, aku terbangun mencari pentungan namun mereka pandai berkelit dan menghindar. Apa mereka belajar ilmu silat juga? Malah perabotan rumah yang rusak terkena amukanku. Tikus-tikus memanglah lihai, cepat larinya kalau mencari perlindungan.

Kali ini lobang-lobang kecil di rumah telah kututupi dengan kawat yang rapat. Saya berdoa agar kali ini tikus-tikus gagal dalam misinya kali ini. Tapi malam hari suara eratan gigi-gigi mereka mengusik tidurku. Tapi kubiarkan, lama kelamaan senyap, tak lama kemudian kudengar grusa-grusu di area dapur lalu merembet ke ruang tamu.

Hiaaat!!!! Aku kembali beraksi dengan pentunganku, namun kembali hanya lantai kosong yang kudapat. Tikus-tikus ini sungguh berani, sayang sekali kenapa mereka berlaku seperti ini. Padahal sampah sisa makanan telah kutaruh di luar, tapi dasar rakus mereka tak pernah puas pada yang di dapat. Sebuah lubang kecil di bawah pintu seukuran tubuhnya, telah menjadi jalan masuknya sekarang. Tentu saja ini membuatku gemas sekaligus murka.

Apakah rumah yang harus dibentengi atau tikusnya yang harus diberantas? Idealnya sih, tikus-tikus nakal ini harusnya dibasmi, dicincang, dan dimusnahkan dari peredaran dunia. Termasuk anak, cucu, dan cicit-cicitnya, kalau genocide yang seperti ini, saya kira halal hukumnya. Harusnya tikus-tikus ini kubunuh disarangnya, bukan ketika sudah masuk rumahku. Tikus-tikus aku ingin kalian mampus!!!
Tikus-tikus negara tak ada tempat untukmu di hatiku. Cuma satu kata, ”Habisi!”


Mengisi kekosongan kerjaan di perusahaan yang terguncang.
Batam, 13 Januari 2010.

12 Januari 2010

Saya Benci Negara Indonesia

Saya benci dengan negara ini, benci dengan Pemerintahan Negara ini, benci dengan aparatur negara yang korup, yang sok peduli dengan rakyat padahal hanya sebuah tameng dari penindasan.

Tapi sebenci-bencinya pada mereka, saya lebih benci pada masyarakat Indonesia kenapa tidak ada yang berpikiran seperti saya? Kenapa tak ada yang mau berkata dan bertindak benar? Masyarakat ini sungguh pengecut sama seperti Pemerintahannya!

Saya ingin hukum di Indonesia ini ditegakkan seadil-adilnya baik itu bagi pencuri kecil, penjahat kambuhan, maupun koruptor, dan pembunuh. Akal dan rasional pikiran seolah tak berfungsi ketika berada di pengadilan. Hanya uang dan kekuasaan yang berbicara disana, bukan kebenaran dan kesalahan.

Saya kecewa, saya ingin teriak, tapi ternyata aku harus tertawa dan menangis. Idealnya sih negara benar-benar bersih dari kerusakan moral. Sebenarnya saya sendiri yang ingin menggantung para koruptor negara ini dan orang-orang yang membelanya. Bila itu termasuk Presiden, saya tak ragu-ragu untuk menjadi eksekutor.

29 Desember 2009

Anti Sistem Demokrasi Produk Indonesia

Sebenarnya sejak lama uneg-uneg ini ingin kutulis. Tapi mungkin baru kali ini saya siap mempertanggungjawabkan pemikiran saya.

Demokrasi, kata-kata ini sudah sejak kecil ditanamkan kedalam otak kita melalui pendidikan sekolah. Biasanya bapak atau ibu guru sering mencontohkan dalam mengambil keputusan di suatu forum rapat desa maka dilakukan dengan musyawarah desa, ini adalah salah satu contoh demokrasi. Benar, nggak salah, sistem demokrasi adalah kegiatan untuk menentukan arah keputusan berdasarkan pencapaian kata mufakat, secara jujur, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yang jadi masalah, apakah penentuan pendapat dengan musyawarah atau voting telah mencerminkan kebenaran? Jawabannya TIDAK atau kalau ragu-ragu, bilang saja BELUM TENTU.

Kadangkala kita lupa, sebenarnya hal terpenting untuk berdemokrasi kita perlu meninjau satu landasan/ dasar, dimana keputusan tersebut akan diambil. Jadi hendaklah orang yang melakukan ini berilmu, paham dan bisa mempertanggungjawabkan dihadapan masyarakat dan Tuhan,serta mengerti baik buruknya keputusan yang terjadi.

Di dalam agama Islam ada Majelis Syura yang lebih kompleks mengatur demokrasi yang baik dan benar, yaitu harus berpegang teguh pada beberapa prinsip, antara lain:

1. Prinsip Syura Pertama: Musyawarah hanyalah disyariatkan dalam permasalahan yang tidak ada dalilnya.
Sebagaimana telah jelas bagi setiap muslim bahwa tujuan musyawarah ialah untuk mencapai kebenaran, bukan hanya sekedar untuk membuktikan banyak atau sedikitnya pendukung suatu pendapat atau gagasan.

2.Prinsip Syura Kedua: Kebenaran tidak di ukur dengan jumlah yang menyuarakannya.
Oleh karena itu walaupun suatu pendapat didukung oleh kebanyakan anggota musyawarah, akan tetapi bila terbukti bahwa mereka menyelisihi dalil, maka pendapat mereka tidak boleh diamalkan. Dan walaupun suatu pendapat hanya didukung atau disampaikan oleh satu orang, akan tetapi terbukti bahwa pendapat itu selaras dengan dalil, maka pendapat itulah yang harus di amalkan.

Bukan seperti demokrasi yang terjadi sekarang, seolah olah suara rakyat adalah suara Tuhan. Hmm... keblinger kok bareng-bareng.

28 Desember 2009

Pelanggaran dan Budaya Berlalu Lintas

Saya menulis ini, karena terus terang sudah jengkel dengan perilaku masyarakat Indonesia. Selain itu Pemerintah melalui Polri dan Dinas Lalu Lintas dan Jalan Raya belum saya lihat peran aktifnya dalam menegakkan budaya tertib dan disiplin berlalu lintas di jalan raya.

Padahal, hal ini berbanding lurus dengan tingkat kecelakaan di jalan raya. Harus diakui bahwa tingkat kecelakaan berlalu lintas di negara Indonesia ini sangat tinggi, tiap hari pasti ada korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas (saya belum dapat angka pasti, nanti nyusul).

Kembali pada topik permasalahan, bahwasanya masyarakat dan pemerintah ini rendah perhatiannya dalam menegakkan aturan-aturan berjalan raya. Beberapa contoh di bawah ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang biasa terjadi di sekitar kita, antara lain:

1. Menyalip/mendahului kendaraan di depannya di garis lurus (tidak putus-putus).
Barangkali tidak semua pengguna jalan tahu arti garis putus-putus dan garis lurus. Padahal pada soal tes untuk mendapatkan SIM, pertanyaan itu selalu ada (nggak tahu kalau cara mendapatkan SIM dengan ’jalur lain’). Garis lurus (tidak putus-putus) biasanya ditandai pada tikungan, daerah yang sempit dan rawan kecelakaan. Oleh karena itu kendaraan tidak boleh menyalip kendaraan di depannya pada marka jalan ini karena akibatnya fatal.
Pelaku: Hampir semua jenis kendaraan melakukannya.

2. Berhenti pada perempatan/tikungan jalan raya.
Tindakan berhenti mendadak di tikungan/perempatan ini bisa mengakibatkan kemacetan yang luar biasa. Padahal biasanya halte umum berada tak jauh dari lokasi tersebut. Ealah... kok ya nggak berhenti disana toh? Parahnya hal ini sangat rentan mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.
Pelaku: biasanya mikrolet/angkot, tukang ojek, atau bus sering melakukannya. Hal ini dikarenakan pula sikap (calon) penumpang untuk naik atau turun di tempat yang ’strategis’ ini.

3. Memotong laju kendaraan lain untuk kemudian berhenti atau belok kiri.
Seringkali ngalami tuh, apalagi lagi enak-enaknya menikmati jalanan lempeng mulus dengan memacu kendaraan sedang-sedang. Tiba-tiba didahului oleh angkot yang kemudian minggir dan minggir lalu berhenti dengan tempo yang cepat. Grrh... mangkel nggak sih!!! Ini kan berbahaya, coba kalau seandainya pengendara yang didahului itu nggak cepat menghindar, bisa tabrakan tuh.
Pelaku: biasanya sepeda motor, kendaraan umum seperti mikrolet/angkot dan bus kota, tapi tak jarang kendaraan pribadi juga sering memotong dengan tiba-tiba ketika hendak belok kiri.

4. Melawan arus lalu lintas.
Perbuatan melawan arus itu sama saja dengan menantang maut. Hal ini bisa mencelakai diri sendiri dan pengendara lain yang sudah benar di jalurnya. Biasanya para pengendara yang melakukan perbuatan ini dikarenakan ingin mengambil lintasan terpendek menuju tujuannya atau menuju U turn.
Pelaku: biasanya motor, becak, sepeda angin, bajaj, angkot dan kadang-kadang mobil pribadi.

5. Menerobos lampu merah
Pengendara yang melakukan ini pasti kebelet pipis atau eek. Perbuatan ini selain berbahaya bagi diri sendiri juga berbahaya bagi pengendara lain yang sudah taat lalu lintas. Namun bagi mobil Pemadam Kebakaran, Ambulance, atau mobil Polisi yang mengejar pelaku kriminal, perbuatan ini halal hukumnya karena alasan yang sangat mendesak.
Pelaku: semua pengendara jenis apapun pernah melakukannya.

6. Menyeberang Jalan Raya Sembarangan
Tidak hanya pengguna kendaraan yang mendominasi pelanggaran lalu lintas, pejalan kaki juga mengambil peran penting. Heran aku, sudah disediakan zebra cross atau jembatan penyeberangan kok ya nyebrangnya masih sembarangan. Jadi pejalan kaki kok ya nanggung, tinggal jalan bentar naik jembatan, atau bareng-bareng lewat zebra cross kan enak, daripada membahayakan nyawa sendiri.
Pelaku: semua pejalan kaki

Ya, sebenarnya masih buanyaaaak sekali pelanggaran lalu lintas yang terjadi di sekitar kita. Saya melihatnya itu bagian dari budaya bangsa Indonesia (dalam hati ngenes banget). Pemerintah lewat instansi yang terkait seharusnya mengambil peran aktif untuk memberi pengarahan dan sesekali atau memberikan hukuman atau peringatan untuk shock terapi. Hal ini tentunya menuntut konsistensi Pemerintah agar tertib hukum di masyarakat ini terjadi. Selain itu kita yang sudah mengerti cara berlalu lintas baik tidak terbawa budaya jelek lalu lintas kita.

Ketika saya jalan-jalan ke Singapura, rasanya senang banget lihat lalu lintas jalan raya yang tertib. Membandingkan ketertiban berlalu lintas disana dengan Indonesia, ibarat membandingkan Bumi dengan Langit. Pejalan kakinya bisa enjoy jalan di peditsrian, menyebrang jalan menunggu walking lamp menyala, dan tidak ada PKL jualan di trotoar. Coba bandingkan itu dengan Surabaya atau Jakarta!

Lagi-lagi saya harus mengakui bahwa bangsa Indonesia memang pantas ketinggalan jauh dari negara lain yang lebih berbudaya tinggi. Padahal displin diri adalah cermin dari sikap dan perlaku bangsa. Hmm..... kapan kita mau berubah maju kalau aparat Pemerintah selaku pembina perilaku masyarakat tidak memberikan contoh yang benar? Dari situ seharusnya timbul upaya bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun disiplin nasional dalam berlalu lintas.

27 Desember 2009

Transeksual Lagi, Semakin Menuju Akhir Zaman

Hmm... habis baca-baca berita, jadinya cuma bisa ngucap istighfar saja. Gara-garanya terjadi lagi peristiwa yang sangat memalukan. Kenapa saya bilang memalukan karena ini terjadi di Indonesia, apalagi pelakunya juga mengaku memeluk agama Islam.

Kali ini pelakunya bernama, Agus Wardoyo yang nekad berganti jenis kelamin jadi wanita yang sekarang bernama Dea (Nadia). Sistem Pengadilan Indonesia di kabupaten Batang pun akhirnya mengesahkan dia jadi wanita. Wah... wah pengadilan sok jadi Tuhan nih? Gak bener ini. Tapi saya paham, masalahnya nih kasus bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Jauh tahun 1970-an seseorang yang bernama Vivian Rubianto telah melakukannya. Jadi mungkin saja pengadilan tinggi Indonesia cuma refer to .... saja. Kok ya, gak ada improve gitu lho.

Lalu mengapa Majelis Ulama Indonesia tidak bertindak? Sebenarnya sudah, bahkan saya respek melihat MUI menanggapi. Melalui wakilnya, KH Ali Mustafa Ya'kub dengan tegas menyatakan bahwa merubah status gender itu haram hukumnya. Lha wong orang laki-laki pakai pakaian atau meniru gaya wanita itu sudah haram apalagi merubah kelamin. Masya Allah! Tapi suara keras MUI itu sayangnya seakan-akan cuma membentur tembok hukum Indonnesia tak bisa menggelitik telinga pemerintahan.

Hehehe.... sebenarnya saya sendiri kasihan lihat MUI, sepertinya nggak punya taring di negeri ini. Maklum di negara yang mengaku demokrasi, republik, bukan negara Islam, dan berdiri di atas hukum. Ternyata justru dimanfaatkan menjadi tameng oleh umat-umat Islam yang nambeng, mbalela pada agamanya sendiri. Dengan berlindung di atas negara hukum, kesetaraan gender, HAM, apalah... waduh piye karepe? Diatur para ulama saja susah, lalu apa sebenarnya sih yang dicari?

Menurut si Agus eh... Nadia seh, bahwa dia merasa selama ini jiwanya ini terperangkap pada tubuh seorang laki-laki padahal sebenarnya dia itu lemah lembut dan merasa wanita. Hahaha... lucu-lucu, sik tak ngguyu sampai terpingkal-pingkal. Coba berpikir, sifat yang diturunkan itu sebagian besar fisikal, sedangkan yang bersifat emosional itu dibentuk dari pergaulan dan lingkungannya.

Para dokter kandungan kayaknya sepakat sama saya, lha wong untuk tahu di USG bayi itu berjenis kelamin wanita atau laki-laki itu kan dilihat dari kelaminnya. Wah...wah lha ini kok nyalahi kodrat.

Sebenarnya sih aku sebagai umat Islam juga pingin njewer orang-orang yang diajak lurus susah, tapi kan MUI seharusnya punya kekuatan untuk itu paling tidak menekan DPR dan Presiden, untuk dibentuk Undang-Undang Syariah yang ngatur kehidupan umat Islam itu sendiri dan tidak overlapping dengan hukum Indonesia yang kacau ini.

Ya... mungkin ini tanda-tanda akhir zaman yang tak bisa dicegah, jadi selamat datang akhir zaman.