Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

27 September 2009

Mau Balik Ke Batam Kok Bingung

Ini masalahnya, pulang dan balik kurang terencana dengan baik. Sebenarnya pulang ke Jawanya sudah terencana sih, tapi berhubung jadwal baliknya belum pasti alias kurang yakin dengan jadwal yang dibikin panitia ya... akhirnya baru hari ini beli tiket. Padahal kemarin Merpati sempat menyentuh 400 ribuan, ealah sekarang sudah gak ada.

Terpaksa cari tiket lagi dengan mengeluarkan uang ekstra untuk menginap dekat Bandara Soekarno Hatta. Karena aku akan menginap di hotel dekat Bandara lagi, setidaknya untuk semalam, sambil menunggu keberangkatan pesawat esok harinya menuju Batam dari Jakarta.

Bodohnya kenapa kok ya langsung lihat website Lion air padahal gue punya ID Garuda Indonesia gitu lho, nyesel deh terlanjur booking, ternyata harga Garuda lebih murah daripada lion dan lebih pagi lagi. Aduh...aduh bodoh kok gak ketulungan ini, maklum mungkin lagi panik karena gak dapat tiket.

Ya...sudahlah, meskipun gak dapat makan gak apa-pa yang penting aku berdoa kepada Allah semoga perjalananku ini selamat sampai tujuanku di Batam lagi, dan tepat waktu.

Andai memang keuntungan berpihak padaku, ya...kita pasti berjumpa lagi Garuda dan Merpati di bulan depan.

25 September 2009

Jangan Sampai Keseleo di Hari Lebaran

Inilah susahnya kalau tiba-tiba keseleo di momen Idul Fitri. Nggak tahu kenapa, tuh engkel mata kaki kiri kok tiba-tiba sakit pas bangun tidur. Namanya juga hari wajib kerja, sakit-sakit sedikit yo dipaksain berangkat.

Susahnya kalau kerja di bagian line production, sering jalan kesana kemari. Wah, siang harinya sudah terasa sakit tuh kaki. Apalagi pas selesai sholat Ashar, mana musholanya ada di lantai 2 lagi. Dan tap... tap... tap... , krek! aduh! Wah tak bisa dibiarkan, mesti cari obat gosok pereda nyeri otot ke klinik perusahaan.

Sialnya, di klinik gak ada apapun obat yang bisa meredakan nyeriku. Malah terkesan klinik itu hampir kosong melompong tanpa obat, klinik macam apa ini? Wah... apa mentang-mentang akhir bulan ini kerjasama antara provider medis dan perusahaanku hendak selesai (End of Contract), jadi mereka biarkan klinik melompong tanpa obat-obatan P3K.

Akhirnya ya... harus kutunggu bel jam 5 berbunyi, sudah nggak tahan nih, mesti cari dukun pijat nih. Bayanganku langsung ke dukun pijat andalanku, asal lereng gunung lawu, siapa lagi kalau bukan pakdhe Katijan. Aku sih sudah membuktikannya mak nyus, kala dia memijat engkel kaki kananku yang hampir sama kasus, sekitar beberapa tahun lalu.

Sayangnya, ketika menjelang Maghrib kutelpon untuk membuat janji. Ealah... lha kok katanya si pakdhe lagi pulang ke jawa, waduh katiwasan iki. Akhirnya dapat nomor pemijat lain, ealah lha kok gak ada yang ngangkat, piye iki?

Alternatif terakhir, telpon pemijat yang biasa mijatin istriku kalau lagi capek-capek, eh siapa tahu dia bisa pijat keseleo. Dan... ternyata dia gak mudik, ada di Batam, dan juga bisa pijat keseleo. Sayangnya, dia bisanya agak malam jam 10-an, ya jelas aku gak tega nyuruh mak wok datang malam-malam ke rumah. Ya sudahlah, besok pagi saja jam setengah tujuh pagi.

Biasanya aku tak sepanik ini, masalahnya hari Sabtu aku mesti terbang ke Jakarta lalu ke Bandung untuk mengadu nasib Ya... anggap saja ini salah satu tantangan tak terduga selain tes lainnya. Semoga Sabtu pagi aku bisa jalan lancar lagi, gak tertatih-tatih lagi.

24 September 2009

Nggak Bisa Mudik ke Lamongan

Akhirnya hari raya Idul Fitri tahun 1430 H atau di tahun 2009 ini, aku harus merayakannya di Batam lagi. Sama seperti tahun 2005, 2006, dan tahun 2007, cuma tahun 2008 saja aku merayakannya di kampung halamanku Lamongan. Walaupun faktanya aku selalu pulang ke Lamongan, paling tidak setahun dua kali. Namun balik ke Lamongan tepat pada momen hari raya hanya kulakukan sekali saja, itupun setelah mendapat ultimatum orang tuaku pada tahun 2007-nya karena aku gak bisa mudik pas lebaran. Ultimatumnya sih simple saja, tapi nylekit, "Kalau kamu masih menganggap punya orang tua, yo mbok hari raya itu pulang, ketemu sama dulur-dulur, bapak dan ibu, jangan sibuk cari uang terus!"

Waduh, padahal 'kan pada saat itu sudah pernah baru ketemuan 3 bulan sebelumnya, masak harus pulang lagi, begitu pikirku. Tapi ya... karepe wong tuwo, mungkin mereka kangen sama anaknya yang cakep dan mbeling ini, hehehe... mosok cilik digedhekne, eh wis gedhe lali sungkem karo wong tuwo (masak kecil lalu dibesarkan, eh...sudah besar kok lupa menghormati orang tuanya).

Tapi insya Allah hari raya Idul Fitri tahun 2009 ini, mungkin mereka maklum aku tidak mudik ke Lamongan. Bulan Juni lalu aku barusan pulang dari Lamongan, menyaksikan pernikahan adik kandungku. Hmm... Juni, Juli, Agustus, September,
sekitar 3 bulan lebih dikit baru ketemu keluarga. Apalagi kami sekeluarga di Batam ini juga masih bisa saling memandang, melihat, dan melepas kangen masing-masing dengan saling memandang lewat handphone, melalui fasilitas video call. Maturnuwun telkomsel, sudah ada 3G di Lamongan, jadinya komunikasi selalu terjalin tanpa halangan.

Dalam waktu dekat ini aku mau pergi ke Bandung untuk mengadu peruntungan, ya... sekalian pulang ke rumah mertua sih. Kalau ada waktu dan dapat tiket kereta api, ya tentunya aku sempatkan ke Lamongan. Hmm... tapi itu peluangnya kecil apalagi belum tentu aku dapat tiket balik ke Bandung lagi. Jadi kemungkinannya, ya aku mungkin tinggal di rumah mertua di Tasikmalaya untuk beberapa hari. Sekalian melihat-lihat kondisi rumah pasca gempa awal bulan ini.

Ya... tapi bagaimanapun saya sangat kecewa tak bisa pulang ke Lamongan, tepat di saat lebaran kali ini. Kenapa? Pasalnya tiap tahun keluarga besar kami selalu mengadakan reuni. Ya reuni keluarga besar, Bani... bani siapa ya lupa aku. (ntar tanya adik yang tadi ikut acaranya)

Reuni keluarga ini diambil dari garis keturunan dari buyut kami, dari pihak keluarga bapakku. Entah siapa koordinatornya, kok ya bisa-bisanya tiap tahun ngumpulin ratusan orang, dari kakek sampai cicit, yang sudah mengalami proses differensial parsial. Haha...

Ya.. pasalnya aku pernah benci sama teman satu kosku, ealah.. ternyata dia masih ada hubungan saudara denganku, padahal pikirku gak mungkin tih dia tinggal di Jember, tapi ternyata...dulur dhewe rek! Akhirnya ya nggak jadi musuhan lagi.

Kembali ke acara reuni keluarga, acara tahun ini dilakukan pagi kemarin, di daerah mbandung Lamongan, di rumahnya Mbah Asnan (Mbah Nan). Setelah tahun kemarin diadakan di Paciran, Lamongan di rumah mbak Lilik & Om Bambang. Acaranya sih tidakk melulu diadakan di Lamongan, tapi justru ditawarkan siapa yang mau jadi tuan rumah berikutnya, ya... siapa tahu punya hajat tertentu kan lumayan bisa bareng-bareng didoakan oleh keluarga.

Ya... semoga tahun depan masih diberi umur panjang untuk turut serta bersama-sama mereka, bereuni keluarga lagi.

22 September 2009

Tradisi Hari Raya Ketupat di Lamongan

Ketupat dan opor ayam selalu tak bisa dipisahkan dari hari raya Idul Fitri. Biasanya suguhan itu selalu tersaji di rumah-rumah dan menjadi menu wajib di hari lebaran. Tapi kota dan masyarakat Lamongan mempunyai cerita lain tentang menu istimewa lebaran itu.

Masyarakat Lamongan memiliki tradisi kupatan (hari raya ketupat) selain hari raya idul fitri. Menjelang 1 Syawal, di saat lebaran pertama masyarakat Lamongan biasanya tidak membuat ketupat dan opor untuk disuguhkan di hari lebaran itu. Biasanya hari pertama itu justru lebih banyak dihabiskan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak saudara. Terutama dengan keluarga dan handai tolan yang lama tak bersua. Inilah yang membuat jalinan keluarga tetap terjalin utuh. Lalu apa menu makanan selain suguhan jajanan kecilnya?

Biasanya adalah makanan khas Lamongan, seperti sego boranan, tahu campur, dan nasi kuning. Atau malah terkesan ala kadarnya saja. Lho kok gitu saja? Pada kemana ketupat dan opor ayamnya?

Kehidupan masyarakat Lamongan terkenal sangat agamis. Jadi biasanya hari raya Idul Fitri itu bukanlah waktu yang tepat untuk langsung menuangkann kegembiraan dan merayakannya. Melainkan ada waktu yang lebih tepat untuk merayakannya, kapan itu?

Tanggal 1 Syawal memang adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa. Namun sunnah Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri, beliau meneruskan berpuasa sehari sesudahnya hingga selama seminggu. Nah.. pada seminggu setelah lebaran, barulah kita rasakan makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Itulah saat dimana segala kegembiraan, keceriaan, dan perayaan kemenangan berlangsung. Tradisi tersebut dibarengi dengan ramai-ramainya orang Lamongan sibuk membuat ketupat untuk dihantarkan ke sanak saudara dan tetangga, serta untuk dimakan bersama keluarganya.

Di Tanjung Kodok (sekarang bernama Wisata Bahari Lamongan)yang berlokasi di Kecamatan Paciran-Lamongan, hampir tiap tahun selalu diadakan pesta menyambut Tradisi Kupatan ini. Dan acara ini lebih meriah dibanding tanggal 1 Syawalnya, ini dikarenakan mungkin sudah tidak ada yang ngganjel lagi. Lain cerita kalau mereka merayakannya di 1 Syawal padahal seminggu sesudahnya masih di sunnahkan untuk puasa. Eman-eman kan kalau masak banyak tak ada yang menghabiskan.

Menurut hikayat, tradisi seperti ini sudah berlangsung turun-temurun mengikuti ajaran dari Kanjeng Sunan Drajad. Beliau adalah Walisanga yang bermukim di daerah Paciran, Lamongan.

Memang kalau orang luar daerah yang tidak mengerti tradisi seperti ini, mungkin akan bertanya-tanya, kenapa kok masyarakat Lamongan tidak membuat ketupat pada hari raya Idul Fitri. Padahal masyarakat Lamongan juga membuat ketupat, sama seperti daerah lainnya, bedanya mereka membuatnya pada hari ketujuh setelah lebaran. Masyarakat Lamongan memang unik, hmm... jadi lebaran dua kali dong!

Fenomena Mudik Berlebaran di Kampung Halaman

Setelah Romadhon berakhir dan berganti dengan bulan Syawal, saat itulah umat Islam sedunia memperingati Idul Fitri. Pada momen hari raya inilah, biasanya silaturahmi kembali terjalin. Sanak saudara dan keluarga yang hidup jauh di perantauan, berduyun-duyun pulang kembali ke tanah kelahirannya atau kampung halamannya. Hal atau fenomena seperti ini, sekarang lebih populer dengan nama “mudik”.

Entah siapa yang mulai menamai pulang ke kampung halaman itu dengan sebutan mudik. Tapi penyebutan istilah ini mungkin lebih dikarenakan dari asal katanya. Yaitu kata “udik”, yang artinya kampung/desa ditambah dengan imbuhan “me”, yang artinya melakukan kegiatan. Kemudian terjadi ‘penyengauan’ menjadi kata “mudik”. Sehingga mempunyai arti: mengadakan kegiatan pulang ke desa/kampung.

Fenomena mudik itu sendiri karena kerinduan untuk kembali ke desa/kampung halamannya. Hal ini dipengaruhi dikarenakan meratanya arus penyebaran penduduk (migrasi) di seluruh Indonesia. Terutama karena transmigasi dan dipicunya pertumbuhan kota yang tidak merata. Dimana memunculkan pusat-pusat kota atau daerah-daerah industri seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan kota-kota besar lainnya. Sehingga memunculkan arus urbanisasi menuju pusat-pusat kota ini dan harus meninggalkan daerah asal kampung halaman. Jadi ketika di kampung halaman susah mendapatkan kerja/penghasilan maka tak ada pilihan lain kecuali keluar daerah menuju tempat yang lebih menjanjikan ‘kehidupan’.

Waktu berlalu, hingga tak terasa akhirnya sudah beranak pinak di tempat barunya. Berhari-hari meninggalkan orang tua, saudara dan keluarga, lingkungan asal, dan teman-teman kecil, seolah selalu membuat muncul rasa kangen untuk berjumpa mereka lagi. Namun di era modern ini sangatlah sulit untuk pulang kampung setiap saat, dimana waktu selalu dibandingkan dengan uang, seolah menjadikan kita lupa untuk menyisihkannya dengan bersilaturahmi ke keluarga. Dan momen yang paling tepat untuk pulang dan berkumpul dengan keluarga adalah saat lebaran tiba. Momen Lebaran adalah momen paling pas karena disaat itulah semua keluarga, sanak saudara, sahabat juga pulang dan berkumpul dengan keluarganya masing-masing. Jadi nuansa untuk reuni keluarga, reuni sekolah, atau nostalgia dengan teman-teman muncul kembali.

Kapan lagi Keluarga Besar berkumpul dan saling mengenal? Kadangkala teman akrab atau musuh kita di perantauan, ternyata tanpa kita sadari masih ada hubungan darah dengan kita. Hmm..saya sendiri pernah mengalaminya, saat keluarga besar dari garis keturunan Ayahnya Buyut kami berkumpul. Ternyata teman satu kosku yang paling kubenci itu, ealah… lha kok masih bolo dhewe, masih termasuk saudara!

Namun kegiatan mudik itu selain memakan biaya yang mahal ternyata juga meminta banyak darah dan nyawa. Dari kabar berita di media, sudah ratusan orang yang telah meninggal di jalan, baik itu karena kecelakaan lalu lintas ataupun kelelahan. Hal itu kok mengingatkanku pada fenomena kembalinya ikan salmon ke sungai setelah sehari-harinya hidup di lautan. Untuk menempuh perjalanan itu, terkadang banyak nyawa yang tercabut, baik itu oleh manusia, beruang, ataupun kepiting, dan pemangsa lainnya.

Ya… walaupun dengan segala resikonya, kebanyakan orang-orang memilih mudik daripada berlebaran di tempatnya sekarang. Kenapa coba? Toh sehari-hari biasa sudah tidak pulang kampung, masak lebaran juga tidak pulang! Kebangetan dong! Kayak Bang Toyib saja yang sudah tiga kali lebaran tak pulang-pulang.

19 September 2009

Mohon Maaf Lahir & Batin

Selamat Merayakan Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin, Semoga Allah Swt Senantiasa mencurahkan rahmat, barakah dan maghfirah-Nya kepada kita sekalian, amien...

Dengan berlalunya Romadhon semoga tak membuat amalan ibadah kita seperti, sholat jama'ah, zakat, tadarus Al Qur'an ikut berlalu pula. Sesungguhnya ada dan tiada Romadhon, amalan ibadah kita sehari-hari selayaknya seperti di bulan Romadhon.

Es Siwalan

Selain legen atau tuak, ada jenis minuman lain yang sangat khas di daerah pantura Lamongan. Khas karena kebanyakan hanya bisa didapatkan di sekitar pantura. Di Jawa Timur, minuman khas ini jamak di jumpai di daerah Tuban, Gresik, dan tentu saja Lamongan. Orang sering menyebutnya es siwalan atau es ental. Karena memang bahan dasarnya berasal dari buah ental / siwalan.

Siwalan/ental masih satu famili dengan pohon palm, atau sejenis kelapa-kelapaan. Buahnya relatif lebih kecil dibanding kelapa. Bila sudah menua (matang) warna kulit luarnya berwarna coklat gelap kemerahan. Untuk mendapatkan ental/siwalan anda perlu membuang kulit luar, hingga tinggal menyisihkan kulit dalamnya yang tipis. Bentuk buah ental/siwalan lebih mirip nata de coco dengan tekstur kenyal nan lembut.

Es siwalan ini sendiri disajikan/terdiri dari buah siwalan yang diiris dadu kecil-kecil, kemudian diberi santan, gula aren (gula merah) secukupnya, dan terakhir diberi es batu.

Hmm... nikmat dan segar, rasanya mirip kolang kaling atau nata de coco. Sayangnya di Lamongan es ental ini hanya terdapat di daerah Paciran atau Brondong (pesisir utara lamongan). Segelas es ini mungkin bisa menawarkan dahaga anda setelah puas berkeliling Wisata Bahari Lamongan atau Gua Maharani

Noordin M Top, Selamat Jalan Wahai Mujahid…

Noordin M Top tewas dalam penggrebekan yang dilakukan aparat densus dan kepolisian di desa Mojosongo, Jebres, Solo, Kamis, 17 September 2009. Sebagian besar orang mengutuk dan bergembira dengan tewasnya Noordin. Sedikit yang simpati dan haru dengan kepergiannya. Jikalau pilihan Noordin M Top dalam berjihad memerangi musuh-musuh Islam, utamanya Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya benar, maka betapa beruntungnya dia. Karena dia akan dianggap sebagai mujahid dan mati sebagai syuhada. Insya Allah!

Jihad Hukum Islam Yang Abadi
Banyak orang beranggapan jika seorang pemimpin jihad atau seorang mujahid syahid, maka jihad akan berhenti dan berarti perjuangan mereka mengalami kekalahan. Padahal dalam pandangan Islam, jika seorang mujahid syahid, maka itu adalah sebuah ‘kemenangan’ dan sebuah kemuliaan bagi ummat Islam.

Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah (9) : 111)

Dalam sejarah panjang Islam, telah berlalu para mujahidin menuju syahid, hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW, dan hal tersebut merupakan sunatullah (hukum alam dan ketetapan Allah SWT) yang harus terjadi dan dialami oleh kaum Muslimin dalam memperjuangkan agama mereka. Sejak syahidnya para pahlawan perang Badar, Uhud, Khandaq, hingga syahidnya para mujahid di abad modern, seperti Syekh Abdullah Azzam, Syekh Ahmad Yassin, Rantisi, Khattab, Samil Bashayev, Mullah Dadullah, Syekh Yusuf Al Uyairi, Syekh Abu Mus’ab Az Zarqawi, Syekh Mukhlas, Imam Samudra, Amrozi, dan kini Noordin M Top.

Kematian seorang mujahid di tangan musuhnya bisa saja dianggap sebagai sebuah kesuksesan besar, terutama bagi musuh-musuh Islam, yakni Amerika dan sekutu-sekutunya. Tapi bagi mujahid, kematian mulia tersebut atau syahid adalah kemuliaan yang selama ini mereka selalu mencarinya. Karena dalam kamus mereka hanya ada dua kebaikan dan berusaha mendapatkan salah satu darinya, yakni Hidup Mulia atau Mati Syahid.

Syekh Usamah bin Ladin dalam video The Caravan of Syuhada mengatakan:

“Penutup para nabi dan rasul, Muhammad SAW., mengharapkan kedudukan ini. Perhatikan dan renungkan kedudukan seperti apakah yang diharapkan oleh sebaik-baiknya manusia ini. Beliau berharap menjadi seorang syahid. “Demi jiwa Muhammad yang ada ditangan-Nya. Sungguh aku berharap bisa berperang lalu aku terbunuh, kemudian (hidup lagi) untuk berperang lalu aku terbunuh, kemudian (hidup lagi) untuk berperang lalu aku terbunuh.” (Al Hadits)

Hidup yang lama dan panjang ini diringkas oleh Nabi SAW dengan petunjuk Allah SWT., dalam sabda Beliau di atas. Beliau sangat menginginkan kedudukan ini. Orang yang bahagia adalah orang yang telah dipilih oleh Allah SWT sebagai seorang syahid.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran (3) : 168-171)

Wallahu’alam bis Showab! (M.Fachry/arrahmah.com)